image_pdfimage_print

Muhammad bin al-Mubarok berkata, “Sa’id bin Abdul Aziz apabila tertinggal shalat berjama’ah beliau menangis.” (Tadzkirotul Huffazh 1/219)

Maimun bin Mihran mendatangi masjid, maka dikabarkan kepadanya, “bahwasanya orang-orang sudah selesai shalat.”

Ia pun berkata, “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN, Sungguh! Keutamaan shalat ini lebih aku sukai daripada menguasai Iraq.”

Abu Hatim al-‘Ashom mengatakan, “Aku tertinggal dari shalat jama’ah, maka tidak ada yang menta’ziyahku (menghibur untuk mengurangi kesedihan,pen) selain Abu Ishaq al-Bukhari. Seandainya salah seorang anakku meninggal dunia pasti akan ada lebih dari 10 ribu manusia yang menta’ziyahku. KARENA MUSHIBAH AGAMA LEBIH RINGAN BAGI MANUSIA DARIPADA MUSHIBAH DUNIA.”

Syaikh Abdul Wahid al-Madkhali berkata, “Pernah suatu ketika aku bersama Syaikh Rabi’. Namun ternyata kami tertinggal dari jama’ah pertama. Maka beliau beristirja’ (mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun,pen). Beliau mengucapkannya beberapa kali, bersitirja’ sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri (tanda kesedihan dan penyesalan,pen).”

Lihatlah orang-orang shalih itu… Mereka menyesal, sedih, dan menangis ketika tertinggal dari satu kebaikan yang besar, padahal mereka tertinggal disebabkan udzur yang mereka miliki!..

Lalu bagaimana dengan kita yang selalu tersenyum ketika tertinggal dari amal kebaikan?! Padahal tidak ada alasan yang kita miliki selain dari kesibukan dunia.. Wallahul musta’an

🌏 Sumber Riwayat: Akun Twitter Syaikh Abu Ziyad Khalid Baaqiis
📝 Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/461