PELAJARAN TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 11)

PELAJARAN TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 11)
———————————————-

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah,

اعْلَمْ رَحِمَكَ اللهُ (1) أَنّه يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ تَعَلُّمُ ثَلَاثِ هَذِهِ المَسَائِلِ وَالعَمَلُ بِهِنَّ (2)،

  1. “Ketahuilah semoga Allah merahmatimu,
  2. Bahwasanya wajib bagi setiap muslim dan muslimah mempelajari tiga permasalahan (berikut) ini dan mengamalkannya;


PENJELASAN:
1 Ucapan Asy-Syaikh rohimahullah:
(Ketahuilah…) artinya pelajarilah (baik-baik) dan pahami apa yang akan disampaikan, kemudian yakinilah.

(Semoga Allah merahmatimu) –Rohimakallah- adalah sebuah ucapan doa yang bisa dicontoh oleh para pengajar tatkala menyampaikan ilmu kepada anak didiknya, agar Allah Ta’ala menjauhkan mereka dari sifat keras, marah, dan kaku ketika menerima ilmu. Karena sifat-sifat tersebut bisa menghalangi masuknya ilmu.

2 Ucapan Asy-Syaikh rohimahullah:
(Bahwasanya wajib bagi setiap muslim dan muslimah…) Perlu kita ketahui bahwa yang namanya kewajiban adalah satu perkara yang harus dilakukan dan dikerjakan. Jika dikerjakan diberi tsawab (ganjaran pahala) dan jika ditinggalkan (berhak) mendapatkan hukuman (yang setimpal). Sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama di bidang Ushul Fiqih.

Suatu Kewajiban bisa didapatkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Termasuk di antaranya adalah kewajiban kaum muslimin untuk mengetahui dan meyakini tiga permasalahan yang akan dibawakan oleh Penulis rohimahullah.

Sehingga perlu kita tekankan di sini, bahwa kewajiban yang dimaksud dalam ucapan Asy-Syaikh Rohimahullah bukan berasal dari beliau, namun dari sisi Allah ‘Azza waJalla, baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Ucapan beliau Rohimahullah :
(Bagi setiap muslim dan muslimah) mencakup semua kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, merdeka maupun budak (hamba sahaya).

Ucapan beliau rohimahullah:

(Mempelajari Tiga Permasalahan) maksud kata “Mempelajari” adalah bertemu langsung dengan para ulama, menimba ilmu dari mereka, menghafal ilmu tersebut, memahami dengan benar dan mematangkannya. Itulah cara belajar yang benar.

Sehingga belajar yang benar bukan sekedar membaca atau menelaah kitab para Ulama, walaupun perkara tersebut terkadang dibutuhkan dan cukup membantu para penuntut ilmu, namun itu semua belum cukup.

Pada kenyataannya mencukupkan diri hanya berguru kepada kitab-kitab para Ulama serta tidak mau duduk di majelis ilmu memiliki pengaruh yang sangat berbahaya.

  • Bagaimana tidak, Berbagai kerusakan pemahaman bisa muncul darinya.
  • Perasaan bahwa dirinya adalah seorang alim (yang serba tahu) juga bisa menghinggapinya, padahal sebetulnya dia masih jahil (atau belum tahu).
  • Orang yang seperti ini dikhawatirkan akan menghalalkan apa yang Allah haramkan atau mengharamkan apa yang Allah halalkan.
  • Orang yang seperti ini juga dikhawatirkan terjerumus ke dalam dosa ‘Berbicara atas nama Allah tanpa ilmu’.

Sehingga permasalahan ini sungguh sangat membahayakan.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dari perkara tersebut. Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin
Wallahu A’lamu bisshowaab.

 

(Disadur dengan ringkas dari kitab Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal. 39-41; karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah)

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Diringkas Oleh al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullah

—————

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/236




Pelajaran TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 10)

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 10)
—————————————————

Penjelasan ucapan Imam Al-Bukhori Rohimahullah,
Bagian Kedua.
——————-

Beliau rohimahullah mengatakan,

“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”

Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah menjelaskan, “Mengapa Ilmu (harus didahulukan) sebelum ucapan dan perbuatan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena amal perbuatan tidak akan bermanfaat (bagi pelakunya) kecuali jika dilakukan di atas ilmu.

Beliau kembali menegaskan, bahwa suatu amal perbuatan yang dilakukan di atas kejahilan (kebodohan) tidak akan bermanfaat bagi pelakunya, bahkan bisa berbahaya dan membinasakan (pelakunya) pada hari kiamat (nanti), oleh karena itu ilmu harus didahulukan sebelum melakukan amal perbuatan. (Lihat Syarah Tsalatsatil Ushul hal. 37 – 38)

Dalil atas pernyataan tersebut terdapat dalam surat Muhammad ayat 19.

{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Sesembahan Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (Muhammad:19)

Di dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menyebutkan “ilmu” terlebih dahulu sebelum “istighfar” (permintaan ampun) yang mengandung ucapan dan amal perbuatan. (Lihat ’Umdatul Qori` vol.2/39; oleh Al-‘Aini Rohimahullah)

 

Faedah:

  • Jika pada pembahasan yang lalu kita telah mengetahui ancaman murka Allah Ta’ala bagi orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya.
  • Maka pada pembahasan kali ini, ancaman kesesatan ditujukan bagi orang-orang yang beramal suatu amalan tanpa didasari ilmu.
  • Seorang muslim yang baik akan menjauhi jalan kedua kelompok tadi. Karena kehidupan kaum Mukminin dipenuhi dengan ilmu dan amal.
  • Lain halnya dengan kaum Yahudi; mereka menghilangkan amal. (Yakni berilmu tapi tidak beramal); sehingga mendapatkan murka.

Sementara kaum Nashoro mereka menghilangkan ilmu. (Yakni beramal tanpa ilmu); hingga mereka tersesat. (Penjelasan selengkapnya bisa meruju’ kepada “Tafsir Ibn Katsir” 1/141, pada tafsir surat Al-Fatihah)

 

Wallahu A’lamu bisshowaab.
Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Diringkas oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan

 

——————
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

——————

Link Telegram: https://telegram.dog/warisansalaf/228




Pelajaran TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 9) قال البخاري رحمه الله

Pelajaran TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 9)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah berkata,

وقال البخاري رحمه الله : ))بَابُ العِلْمِ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ )). وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا الله وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ} [سورة محمد، الآية: 19] ، فبدأ بالعلم قبل القول والعمل.

“(Imam) Al-Bukhori Rohimahullah berkata: ‘Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan’, Dalilnya firman Allah Ta’ala (artinya):

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Sesembahan Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (Surat Muhammad ayat 19),

(Di dalam ayat ini) Allah Ta’ala memulai dengan (menyebut) Ilmu (terlebih dahulu) sebelum ucapan dan perbuatan.”

PENJELASAN:

Pembahasan kali ini terbagi menjadi dua bagian;

Bagian Pertama: Biografi Ringkas Al-Imam Al-Bukhori Rohimahullah.
Bagian Kedua: Penjelasan ucapan beliau Rohimahullah.

Bagian Pertama:

Biografi Ringkas Al-Imam Al-Bukhori Rohimahullah:

Nama Beliau: Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim bin al-Mughiroh al-Ju’fi al-Bukhori (*)
Kunyah beliau: Abu Abdillah
(*) al-Bukhori (nisbah kepada kota Bukhoro; tempat kelahiran beliau);

Al-Bukhori kecil lahir di bulan Syawwal tahun 194 Hijriah, tepatnya malam Jum’at tanggal 13. (Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah” 11/30)

Keadaan beliau yang yatim sepeninggal ayahnya tidak menghalanginya untuk melanglang buana, mengembara mencari hadits ke segala penjuru negeri, mengambil ilmu dari para Ulama, setelah beliau selesai menghafal Al-Quran.

Imam Bukhori menuturkan, “Aku temui lebih dari seribu orang Ulama dari Hijaz, Mekkah, Madinah, Kufah, Basroh, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir.” (“Sifatus-Shofwah” 2/345 , Ibnul Jauzi)

Hingga akhirnya beliau mendapatkan ratusan ribu hadits yang menancap kuat di dalam dadanya. Beliau mengatakan, “Aku hafal 100.000 hadits shohih, dan 200.000 hadits dho’if.” (Lihat“Ma’rifah Anwa’ Ulumil-Hadits” 1/20; Ibnus-Sholah)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjuluki beliau dengan “Jabalul-Hifzh” (Gunung Hafalan, dikarenakan banyak dan kuatnya hafalan beliau, pen) (At-Taqrib No.5726)

Karya tulis beliau sangat banyak. Yang paling masyhur adalah:

“Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor min Umuuri

Rasulillah Shollallahu ‘alaihi wasallam Wa Sunanihi wa Ayyaamihi”.

Yang dikenal sebagai “Shohih Al-Bukhori”.
Sebuah kitab yang disepakati oleh umat Islam sebagai kitab paling shohih setelah Al-Qur`an. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi Rohimahullah. (Lihat “Al-Minhaj” 1/14)

 

Begitu panjang coretan pena Ulama menuliskan pujian mereka terhadap Imam besar semisal Al-Bukhori. Yang kesemuanya itu berujung pada firman Allah Ta’ala,

ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

“Itulah keutamaan (dari) Allah, (yang) diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” [Al-Maidah:54, Al-Hadid:21, Al-Jumu’ah:4]

Wallahu A’lamu bisshowaab.

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

 

Dirangkum Oleh: al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullahu Ta’ala

 

………………………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/221




PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 8) bag-2

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 8)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,

قال الشافعي: لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السورة لكفتهم

“Asy-Syafi’i berkata, Kalau seandainya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini saja, niscaya (surat ini) sudah mencukupi mereka.”

………………………………………
PENJELASAN:

Ucapan Imam Asy-Syafi’i bagian-2

Makna Ucapan tsb:

  • Empat sebab kebahagiaan hakiki (yang telah kita pelajari) pada hakekatnya dijelaskan secara ringkas di dalam surat ini (secara garis besar).
  • Adapun isi Al-Qur`an (seluruhnya) beserta As-Sunnah, menjabarkan rinciannya.
  • (Sehingga perlu kita pahami) Bahwa tatkala surat ini menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan secara garis besar. Saat itulah hujjah telah ditegakkan terhadap makhluk dengan surat ini.
  • Adapun dalil-dalil yang ada, Yakni selain surat ini –baik dari Al-Qur`an maupun dari as-Sunnah- maka (kedudukannya) sebagai perinci dan penjelas empat hal tadi.

Jangan sampai kita memahami:
Bahwa, “Surat ini (sudah) cukup bagi makhluk-Nya, andaikata Allah tidak menurunkan selainnya.”

Namun (yang seharusnya kita katakan),
“Surat ini sudah cukup sebagai hujjah (penuntut atau pembela, -pen) bagi makhluk-Nya (secara garis besar) , karena Allah Ta’ala telah menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan dan kesengsaraan (di dalamnya).

Sehingga pada hari kiamat nanti, tidak ada seorang pun yang mengatakan:

  • Saya tidak tahu sebab-sebab kebahagiaan, (atau mengatakan)
  • Saya tidak tahu sebab-sebab kesengsaraan.
    Dalam keadaan, (di dunia) dia telah membaca surat yang ringkas dan pendek ini.

(Disadur dari Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal.24), karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah)

………………………..

Sebagian Ulama menyatakan bahwa pernyataan ini tidak benar. Karena terdapat beberapa versi riwayat dari Asy-Syafi’i rohimahullah yang secara dhohir maknanya berbeda.

Namun di atas tadi kita telah baca bersama makna yang seharusnya kita pahami dari ucapan seorang Imam, seperti Asy-Syafi’i rohimahullah, hal ini karena menimbang kepercayaan kita kepada penukilnya, yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullahu Ta’ala. Wallahu A’lamu bish showab

 

Sebagai Penutup:

Sebagai seorang mukmin; Seharusnya hati kita tergerak untuk meraih kebahagiaan tatkala membaca surat ini.
Dengan giat berusaha:

  • Menjadi insan beriman yang melandasi keimanannya dengan ilmu,
  • (kemudian) Beramal sholih,
  • Berdakwah kepada kebenaran ,
  • Serta Bersabar hingga kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla-.

 

Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan jalan kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki….
Aamiin Yaa Robbal ‘Aalaamiin
Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis

 

Dirangkum Oleh: al Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullah

========

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

 

…………………………..

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/212




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (8): قال الشافعي رحمه الله

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 8)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,

قال الشافعي رحمه الله : لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السورة لكفتهم

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahullah,
“Kalau seandainya Allah Azza wajalla tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini saja, niscaya (surat ini) sudah mencukupi mereka.”

………………………………
PENJELASAN:

Pembahasan kali ini terbagi menjadi dua bagian:

Bagian Pertama: berisi biografi ringkas Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahullah.
Bagian Kedua: berisi kandungan makna ucapan beliau rohimahullah.
Bagian Pertama:

Biografi Ringkas Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahullah:

Nama Beliau
Adalah: Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ al-Muttholibi al-Qurosyi

Beliau masih satu nasab dengan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Karena kakek buyut beliau yang bernama Al-Muttholibi merupakan saudara kandung Hasyim yang merupakan kakek buyut Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Lihat Siyar A’lam An-Nubala 10/6)

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menegaskan:

إِنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبُ وَبَنُو هَاشِمٌ شَيْءٌ وَاحِدٌ

“Sungguh anak keturunan Al-Muttholib dan anak keturunan Hasyim (masih) satu nasab.” (HR. Al-Bukhori no.3502)

Asy-Syafi’i termasuk Shighor Tabi’ut Tabi’in
Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahullah dalam kitabnya Taqribut Tahdzib (no.5717) menyebutkan bahwa beliau berada pada thobaqoh (tingkatan) ke-9. (yaitu termasuk “Shighor Tabi’ut Tabi’in”)

Sehingga beliau termasuk orang-orang yang direkomendasikan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah yang semasa denganku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya (lagi).” (Muttafaqun ‘alaih, dari Shahabat Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu)

 

Beliau Termasuk Mujaddid (Pembaharu) Islam.
Maksudnya seorang (ulama) yang menjelaskan sunnah dari bid’ah, menyebarkan ilmu, dan menolong para Ulama, serta mengalahkan ahli bid’ah dan menghinakan mereka. (Lihat ‘Aunul Ma’bud 11/260)

(Yaitu) Ketika mayoritas manusia menyimpang dari jalan agama yang lurus.. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (Vol.1- (2/247)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan mengutus untuk umat ini seseorang yang (akan) memperbaharui agama mereka, pada setiap penghujung 100 tahun.” (HR. Abu Dawud no.4291, Al-Hakim dalam Al-Mustadrok no.8592 dan 8593. Dari shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Al-Albani menshohihkan hadits ini dalam Shohih Al-Jami’ (no.1874)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rohimahullah menjelaskan, bahwa pada penghujung 100 tahun pertama Allah Azza wa Jalla- memunculkan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (meninggal tahun 101 H) , kemudian pada 100 tahun kedua Allah Azza wa Jalla memunculkan Asy-Syafi’i (meninggal tahun 204 H). (lihat ‘Aunul Ma’bud 11/260 – 261)

Ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “Pada setiap penghujung 100 tahun” ada yg mengartikan pada setiap awal 100 tahun. Namun yg dipilih oleh penulis kitab ‘Aunul Ma’bud adalah setiap akhir 100 tahun. Wallahu a’lam . (lihat ‘Aunul Ma’bud 11/262)]

Semoga Allah –ta’ala- merahmati beliau dan kita semua. Aamiin
Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis

FAEDAH INI DIKIRIM OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH.

 

………………….

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………….

Pelajaran ini diterbitkan oleh Channel telegram warisan salaf

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/206




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (7): والدليل قوله تعالى والعصر

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 7)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,

وَ الدَّلِيلُ قَولُهُ تَعَالَى:
وَ العَصْرِ ، إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إلّا الَّذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَ تَوَاصَوا بِالحَقِّ وَ تَوَاصَوا بِالصَّبْرِ

“Dalilnya firman Allah Ta’ala,
{ Demi Masa (1) Sesungguhnya (semua) manusia benar-benar dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3) } (QS. Al-Ashr: 1-3)

………………………..

PENJELASAN:

[ Dalilnya firman Allah Ta’ala ]
Yaitu dalil tentang keempat permasalahan yang beliau sebutkan sebelumnya

{Demi Masa (1) Sesungguhnya (semua) manusia dalam kerugian (2) }
Kemudian Allah Ta’ala sebutkan kriteria orang-orang yang beruntung dan selamat dari kerugian:

  1. Yang Pertama: Kecuali orang-orang yang beriman.
  2. Yang Kedua: Dan beramal sholeh.
  3. Yang Ketiga: Orang-orang yang saling menasehati untuk mentaati kebenaran.
  4. Yang Keempat: Orang-orang yang saling menasehati untuk menetapi kesabaran.

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir Rohimahullah,
“Allah Ta’ala bersumpah dengan masa bahwa semua manusia berada dalam kerugian dan kehancuran, kecuali orang-orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan, beramal sholeh dengan anggota tubuhnya, melakukan amalan-amalan taat, meninggalkan perkara-perkara yang haram, bersabar terhadap musibah-musibah (yang menimpanya), bersabar terhadap takdir (yang telah ditentukan untuknya), bersabar terhadap gangguan orang-orang yang mengganggu yang ditujukan kepada orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. (Tafsir Ibnu Katsir 8/480 secara ringkas)

Berkata Asy-Syaikh Bin Baz Rohimahullah:
“Surat ini sebagai dalil tentang empat permasalahan (yang disebutkan sebelumnya). (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 25)

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis

 

Insya Allah mulai hari ini, pelajaran Tsalatsatul Ushul akan dipandu oleh Al Ustadz Abdul Hadi Pekalongan

 

=================

Pelajaran ini diterbitkan oleh Channel telegram warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/199




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (6): الرابعة الصبر على الأذى فيه.

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 6)

Penulis berkata,

الرابعة: الصبر على الأذى فيه.

Keempat: Bersabar atas gangguan di dalamnya.

…………………………………..


PENJELASAN:

[ Keempat: BERSABAR ATAS GANGGUAN PADANYA: ]
Permasalahan yang keempat ini kembalinya kepada poin sebelumnya, yaitu mendakwahkan ilmu yang telah dipelajari dan diamalkan. Walaupun pada hakekatnya, kesabaran sangat dibutuhkan ketika mempelajarinya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.

 

Arti “Sabar” secara bahasa adalah menahan diri, yaitu menahan diri dari tiga perkara:

  • Bersabar tatkala melakukan ketaatan.
  • Bersabar ketika meninggalkan kemaksiatan.
  • dan bersabar disaat mendapati takdir yang tidak baik (menurutnya).

 

Sehingga seorang penuntut ilmu harus bersabar ketika mempelajari ilmu, tanpa kesabaran sangat mustahil dia akan meraih ilmu yang dipelajari.

Demikian pula orang yang mengamalkan ilmunya butuh kesabaran, tanpa kesabaran dia tidak akan bisa istiqomah didalam mengamalkan ilmunya.

Dan orang yang berdakwah sangat butuh kepada kesabaran. Karena pasti ia akan berhadapan dengan orang-orang yang berusaha menjegal laju dakwahnya.

Para Rasul yang Allah utus untuk berdakwah kepada kaumnya juga tidak lepas dari gangguan dengan bentuk yang beraneka ragam. Ada yang sekadar cemoohan, gunjingan, dan menyematkan gelar yang buruk. Hingga kepada pengusiran, penyiksaan fisik, dan ada juga yang sampai dibunuh.

dan penentangan tersebut tidak hanya mereka rasakan dari orang-orang tidak ada hubungan kekerabatan. Bahkan orang yang dekat nasabnya sekali pun ikut memusuhi dan memerangi mereka.

Apabila seseorang dapat bersabar di dalam mencari ilmu, mengamalkannya, dan, mendakwahkannya. Maka dia akan merasakan manisnya hasil dari usahanya tersebut.

Sehingga, pembukaan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Tsalatsatul Ushul ini sangat penting untuk selalu kita ingat. Wallahu a’lam bish showwab.

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis

 

Dirangkum Oleh: Abu Rufaidah Abdurrahman

=================

Pelajaran ini diterbitkan oleh Channel telegram warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/165




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (5): الثانية العمل به والثالثة الدعوة إليه

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 5)

 

Penulis berkata,

الثانية: العمل به.
الثالثة: الدعوة إليه.
الرابعة: الصبر على الأذى فيه.

Kedua: Mengamalkan ilmu.
Ketiga: Mendakwahkannya.
Keempat: Bersabar atas gangguan di dalamnya.

====================

PENJELASAN:

[ Kedua: MENGAMALKANNYA ]
yaitu wajib mengamalkan ilmu yang telah didapat. Hal ini disebabkan:

  • Ilmu tidaklah dicari melainkan untuk diamalkan.
  • Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yahudi yang tidak mengamalkan ilmu yang mereka miliki.
  • Terdapat ancaman yang besar bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya

Orang yang berilmu akan tetapi tidak mengamalkannya diibaratkan seperti pohon yang tidak berbuah, yakni keberadaannya tidak bermanfaat bagi orang disekitarnya.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami tidaklah melewati 10 ayat dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sampai kami belajar maknanya dan mengamalkannya. Kami mempelajari ilmu dan mengamalkannya.”

Dan Orang yang tidak mengamalkan ilmunya akan mendapat ancaman yang serius. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menceritakan perihal seorang yang disiksa di dalam neraka dalam keadaan ususnya terburai. Dia berputar-putar seperti berputarnya seekor keledai di penggilingan gandum. Maka penduduk neraka keheranan melihat tingkah orang tersebut. Mengapa dia mendapat siksa seperti itu padahal ketika di dunia dia merupakan seseorang yang berilmu, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Maka penduduk neraka pun menanyai orang tersebut. Lantas ia menjawab, “Aku dahulu memerintahkan kalian dari yang ma’ruf tapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang kalian dari kemunkaran tapi justru aku melakukannya.”

—————

[ Ketiga: MENDAKWAHKANNYA]

Apabila seseorang telah berilmu dan mengamalkannya, maka kewajiban berikutnya adalah mendakwahkan ilmu tersebut kepada orang lain.

Berdakwah bisa dengan ucapan, perbuatan, atau tulisan.
Seseorang yang melakukan perbuatan baik kemudian diikuti oleh orang lain maka itu disebut dakwah.

Adab banyak keutamaan yang akan didapat oleh orang yang berdakwah, di antaranya ialah:

  • Menunjuki seseorang kepada kebaikan kemudian diamalkan oleh orang yang didakwahi maka akan menjadi amal jariyah yang tidak terputus pahalanya.
  • Menunjuki satu orang lebih baik dari mendapatkan onta merah yang merupakan barang mewah bangsa Arab di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
  • Tidak ada ucapan yang lebih indah daripada orang yang berdakwah di jalan Allah.

Berdakwah harus dilakukan dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik.

Hikmah dalam berdakwah adalah seperti hikmahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika berdakwah kepada para shahabat, terkadang dengan bahasa yang lembut, dan terkadang menaikkan suara ketika dibutuhkan.
Wallahu ‘alam…

Ikuti Terus Pelajaran Tsalatsatul Ushul setiap hari Senin dan Kamis

=================
Sumber Panduan:
Syarah Syaikh Ubaid
Syarah Syaikh Shalih Alu Syaikh
=================

Dirangkum Oleh: Abu Rufaidah Abdurrahman

=================

Pelajaran ini diterbitkan oleh Channel telegram warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/150




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (4): الأولى العلم

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 4)

Penulis berkata,

الأولي: العلم

(4 Permasalahan yang wajib dipelajari adalah:)

Pertama: Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalilnya.

==========

PENJELASAN:

Kewajiban mempelajari empat permasalahan ini ada yang bersifat wajib ‘aini dan ada juga yang wajib kifayah.
Adapun permasalahan pertama, yaitu berilmu:

  • Mengenal Allah
  • Mengenal Nabi-Nya
  • dan Mengenal Agama Islam dengan Dalilnya.

adalah wajib ‘ain, yakni wajib bagi setiap muslim untuk mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Mengenal Allah adalah beriman kepada-Nya, kepada rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, dan Nama juga sifat-sifat-Nya yang mulia.

Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah beriman bahwa beliau adalah utusan Allah dan beriman dengan setiap khabar yang beliau sampaikan.

Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya, yaitu bahwasanya Ibadah yang dilakukan oleh seseorang harus dibangun di atas dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak boleh membuat tuntunan ibadah sendiri atau karena taklid terhadap tradisi orang tua.

Disebutkan dalam sebuah kaedah, “Hukum Asal dari suatu ibadah adalah dilarang sampai ada dalil yang membolehkannya.”

Ikuti Terus Pelajaran Tsalatsatul Ushul setiap hari Senin dan Kamis di channel telegram kami

=================

Dirangkum Oleh: Abu Rufaidah Abdurrahman

=================

Pelajaran ini diterbitkan oleh Channel telegram warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/149




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (3): اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 3)

Penulis berkata

اعلم (1) رحمك الله (2) ، أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل (3)

 

(1) Ketahuilah
(2) Semoga Allah merahmati anda
(3) bahwasanya wajib atas kita mempelajari empat permasalahan…

===============

PENJELASAN:

Ucapan Penulis: (1) [ Ketahuilah]

Kata ini biasa digunakan untuk:

  • Tanbih (peringatan) agar pendengar atau pembaca benar-benar perhatian terhadap apa yang akan disampaikan.
  • dan menunjukkan bahwa perkara yang akan disampaikan adalah sesuatu yang penting.

Metode ini juga dipakai di dalam Al-Qur’an, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah/berilmulah bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) kaum mukminin dan mukminat.” (QS. Muhammad:19)

 

  • Lihat juga surat QS. Al-Maidah:98 dan Al-Hadid:20

Metode ini juga biasa digunakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika ingin menyampaikan sesuatu yg penting atau untuk menggugah perhatian pendengar. Hanyasaja dengan cara yang berbeda-beda. Terkadang dengan pengulangan, seperti ketika beliau memanggil shahabat Mu’adz sebanyak tiga kali, terkadang dengan bentuk penawaran, seperti ucapan beliau “Maukah aku tunjukkan kepada kalian” atau “tahukah kalian dosa besar yang paling besar?” Itu semua sebagai bentuk tanbih (peringatan) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa apa yang akan disebutkan adalah sesuatu yang penting, yang membutuhkan konsentrasi dan perhatian penuh dari pendengar.

Oleh karena itu, ketika anda ingin mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka gunakanlah metode ini agar ilmu yang anda sampaikan benar-benar bisa diserap secara maksimal.

* * *

Ucapan penulis:
(2) [ Semoga Allah merahmati anda],

Di sini ada beberapa faedah:

  • Do’a ini sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang beliau kepada muta’allim (orang yang belajar).
  • Menunjukkan lembutnya beliau di dalam berdakwah.

Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa metode dasar di dalam berdakwah adalah dengan lemah lembut kepada mad’u atau orang yang belajar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

الراحمون يرحمهم الرحمان، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

“Orang yang memiliki kasih sayang akan dirahmati oleh Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih,pen). Sayangilah orang-orang yang ada dibumi, pasti akan menyayangi kalian Dzat yang ada di langit.” (HR. Abu Daud no.4941, dishahihkan Syaikh Al-ALbani)

Bahkan dakwah yang kasar dan kaku hanya akan membuat manusia lari darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran:159)

* * *

Ucapan Penulis:

(3) [bahwasanya wajib atas kita mempelajari empat permasalahan ]

Di sini ada metode pengajaran yang biasa dipakai oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu menyebutkan jumlah bilangan sebelum penjabaran. Metode ini akan membuat pendengar lebih penasaran dengan jumlah tersebut ketimbang disebutkan secara umum, seperti “Ada beberapa perkara yang diwajibkan atas kita.”

Empat permasalahan ini adalah perkara yang penting berkaitan dengan amalan, yaitu amalan di dalam agama Islam.

 

Insya Allah dijelaskan pada pelajaran berikutnya…

Ikuti Terus Pelajaran Tsalatsatul Ushul setiap hari Senin dan Kamis di channel telegram kami

=================

? Sumber Panduan:
? Syarah Syaikh Ubaid
? Syarah Syaikh Shalih Alu Syaikh
? Syarah Syaikh Al-Utsaimin
==================

Dirangkum Oleh: Abu Rufaidah Abdurrahman
—————–

Pelajaran ini diterbitkan oleh Channel telegram warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/114