Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (15): بل أرسل إلينا رسولا

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 15)
——————————————-

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah mengatakan:

بَلْ أَرْسَلَ إِلَيْنَا رَسُولًا (1) ، …

(1) Bahkan Dia (yaitu Allah Ta’ala) mengutus kepada kita seorang rasul (atau utusan).


PENJELASAN:

(1) Setelah kita mengetahui dan meyakini bahwa manusia diciptakan di dunia ini untuk satu tujuan mulia; yaitu ibadah.

Maka penjelasan berikutnya adalah: Untuk tujuan mulia ini, Allah ‘Azza waJalla tidak akan membiarkan umat manusia begitu saja tanpa bimbingan. Sehingga diutuslah seorang rasul untuk membimbing mereka, agar bisa beribadah dengan cara yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah ‘Azza waJalla.

Para pembaca –yang dirahmati Allah-, Yang namanya ibadah, pelaksanaannya bukan berdasarkan “prasangka” ataupun “kata orang”. (Menurut prasangka saya amalan ini baik, atau kata Fulan dan ‘Allan amalan ini baik).

Namun, pelaksanaan ibadah harus sesuai dengan petunjuk dan bimbingan para rasul yang diutus kepada kita. Disamping tugas mereka untuk melarang umat manusia dari kesyirikan dan kekufuran. Mereka juga bertugas menyampaikan tata cara ibadah yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah ‘Azza waJalla.

Oleh karena itu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam menegaskan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718-18)

Kesimpulannya: Ibadah harus bersifat “tauqifiyyah” (Artinya harus sesuai dengan perintah dan bimbingan para Rasul –‘alaihimus Salam-).

Kemudian, bid’ah (perkara baru yang di ada-adakan, yang tidak pernah diperintahkan dalam agama) harus disingkirkan, khurofat (cerita dongeng legenda) juga harus ditolak, taqlid buta (mengikuti pendapat atau paham seseorang tanpa mengetahui dasar atau dalilnya) juga harus dibuang jauh-jauh. Wabillahit-taufiq

Adapun maksud “Seorang Rasul” dalam penjelasan Asy-Syaikh Rohimahullah adalah Nabi kita Muhammad Shollallahu ‘alaihi waSallam; penutup para nabi.

Beliau diutus untuk menjelaskan tujuan penciptaan kita, menjelaskan tata cara ibadah yang baik kepada Allah ‘Azza waJalla, serta melarang kita dari kesyirikan, kekafiran, dan kemaksiatan. Beliau telah menyampaikan misi tugas kerasulannya dengan jelas, menunaikan amanah, menasehati kita umat manusia, menjelaskan kepada kita dengan penjelasan yang jelas gamblang, bagaikan jalan yang terang, malam harinya seperti siang. Jika ada orang yang menyimpang darinya pasti akan celaka.

Wallahu A’lamu bisshowaab.

(Disadur dari kitab Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal. 45-47; karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhohullah)

 

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

 

Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/268




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (14): ولم يتركنا هملا

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 14)

———————————————

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah menjelaskan:

وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلا (1) ،…

(1) Dan Dia (yaitu Allah Ta’ala) tidak membiarkan kita begitu saja.

———————

PENJELASAN:

(1) Penjelasan Asy-Syaikh Rohimahullah di atas semakna dengan firman Allah Ta’ala di dalam surat Al-Qiyamah ayat 36, yang berbunyi;

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja.”

Karena makna kata “Sudan” di dalam ayat tersebut sama dengan makna kata “Hamalan”, sebagaimana dijelaskan oleh Shahabat Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma (Lihat Tafsir Ath-Thobari 24/83)

Zhohir makna ayat tersebut mencakup dua keadaan manusia:

Keadaan Pertama: Di dunia; tidak dibiarkan tanpa perintah dan tanpa larangan, (Sebagaimana penafsiran dari Imam Mujahid dan Asy-Syafi’i).

Keadaan Kedua: Di kuburannya; tidak dibiarkan (begitu saja menjadi tanah) tanpa dibangkitkan, (Sebagaimana penafsiran dari Imam As-Suddiy). (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/283)

Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah menjelaskan, bahwasanya ada hikmah yang agung tatkala Allah Ta’ala menciptakan kita -umat manusia-, termasuk (tatkala menciptakan) rezeki dan kemampuan untuk mengaisnya. Hikmah tersebut adalah agar kita beribadah (hanya) kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat:56) (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.43)

Artinya Allah ‘Azza waJalla menciptakan kita dan memberikan rezeki-Nya kepada kita bukan untuk main-main atau suatu perkara yang sia-sia. Namun untuk perkara yang agung yaitu; beribadah kepada-Nya, taat dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Karena Ibadah adalah taat kepada Allah, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir Rohimahullah. (Lihat Fathul Majid hal.14)

Jangan sampai umat manusia seperti binatang yang diciptakan hanya untuk kemanfaatan umat manusia, kemudian (setelah) mati akan pergi sirna (tanpa pertanggung jawaban). Karena mereka diciptakan tanpa dibebani syari’at, (artinya) mereka tidak diperintah dan tidak dilarang. (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.43)

Semoga kita bisa menggunakan kehidupan kita serta rezeki yang Allah anugerahkan kepada kita untuk menggapai keridhoan-Nya. Aamiin ya Robbal ‘Aalaamiin

Wallahu A’lamu bis-Showab

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Dirangkum oleh: Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.

—————–

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/259




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (13): ورزقنا

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah mengatakan:

1 ورزقنا

(1) Dan (Dia lah Allah) yang telah memberikan rezeki kepada kita.


PENJELASAN:
(1) Pada kesempatan kali ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah menerangkan kepada kita bahwa Pemberi rezeki yang memberikan rezeki kepada semua makhluk termasuk kita –umat manusia-; adalah Allah ‘Azza wa Jalla.

Hal ini harus diyakini oleh setiap muslim dan muslimah.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan bahwa dalil-dalil dari Al-Qur’an tentang permasalahan ini cukup banyak, di antaranya:

  • Surat Adz-Dzariyat ayat:58, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”

  • Surat Saba’ ayat 24, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللهُ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.”

  • Surat Yunus ayat 31, Allah Ta’ala berfirman; 

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” ”

Adapun dalil dari As-Sunnah, di antaranya hadits tentang janin (atau bakal bayi);
Dalam hadits itu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengkhabarkan bahwa tatkala janin berumur 120 hari (sekitar 4 bulan), Allah Ta’ala mengutus kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh dan mencatat empat takdir; tentang rezeki, ajal (kematian), amal perbuatan, nasib bahagia atau celaka. (HR. Al-Bukhori no.3208, dan Muslim no.2643-1)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah juga menambahkan, bahwa disamping dalil-dalil naqli tadi terdapat dalil-dalil aqli (yang bersifat logika; bisa masuk di akal);

  • Yaitu kehidupan kita –umat manusia- yang tidak akan bisa bertahan kecuali dengan makan dan minum.
  • Kita perlu ingat, bahwa pencipta semua makanan dan minuman itu adalah Allah ‘Azza waJalla. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Waqi’ah 63-70; Artinya:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam (63); Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? (64); Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang. (65); (Sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian” (66); bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa (67); Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum (68); Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? (69); Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (70) ”

Di dalam ayat-ayat ini jelas tergambarkan bahwa rezeki yang kita dapatkan -berupa makanan dan minuman- merupakan karunia dari sisi Allah ‘Azza waJalla. (Syarah Tsalatsatil-Ushul hal. 30-31)

Oleh karena itu, hendaknya karunia tersebut bisa membantu kita untuk melakukan kewajiban yang telah digariskan menjadi tujuan penciptaan kita, yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu waTa’ala.” (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.42; karya: Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah).

Semoga bermanfaat

Wallahu A’lamu bisshowab

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

 

Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.

—————-

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————-

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/251




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (12): الأولى أن الله خلقنا

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 12)

————————————-

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah mengatakan:

الأُولَى (1):

أَنَّ اللهَ خَلَقَنَا (2)، …

  1. “Permasalahan Pertama:
  2. Bahwasanya Allah Ta’ala, (Dia lah) yang telah menciptakan kita…”.

PENJELASAN:

  1. (Permasalahan Pertama) yang dimaksud di atas adalah bagian pertama dari tiga permasalahan yang akan beliau rinci penjelasannya.
  2. (Allah Ta’ala, (Dia lah) yang telah menciptakan kita), yakni menjadikan kita ada setelah sebelumnya tidak ada.

Artinya kita semua sebelum diciptakan Allah Ta’ala belum ada wujudnya.

Hal ini sebagaimana tersirat di dalam Firman Allah Ta’ala:

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (Al-Insan:1)

وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“… Dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (Maryam:9)
(Lihat “Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah” hal.42; karya Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, “Seorang manusia tidak akan bisa menciptakan dirinya sendiri, karena sebelum diciptakan dia tidak ada. Sesuatu yang tidak ada, tidak akan bisa memiliki kemampuan sama sekali. Sesuatu yang tidak memiliki kemampuan, tidak akan bisa mengadakan sesuatu.

Kita juga perlu mengetahui bahwa, keberadaan manusia bukan karena diciptakan ayahnya, ibunya, ataupun seseorang dari makhluk ini. Kita juga perlu mengetahui bahwa, keberadaan manusia bukan karena kebetulan (tiba-tiba muncul) tanpa pencipta. Karena sesuatu yang baru muncul pasti ada yang menciptakannya. Fakta kehidupan makhluk yang sangat rapi dan teratur dalam satu kesatuan ekosistem mencegah kita untuk menyatakan bahwa, “Semua ini terjadi secara kebetulan.” .

Sesuatu yang terjadi secara kebetulan tidak akan memiliki keteraturan sejak awal keberadaannya. Lalu bagaimana dia akan bisa tumbuh menjadi teratur, jika (seandainya) keberadaan dirinya tetap berlangsung. Oleh karena itu pastilah sudah, bahwa pencipta segala sesuatu adalah Allah Ta’ala, satu-satunya. Tidak ada pencipta dan pemberi perintah (yang hakiki) melainkan Allah ‘Azza wa Jalla.”
(Lihat “Syarah Tsalatsatil Ushul” hal. 29)

Wallahu a’lamu bisshowab

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Dirangkum oleh: al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullah

 

————
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

————

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/241

 




PELAJARAN TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 11)

PELAJARAN TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 11)
———————————————-

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah,

اعْلَمْ رَحِمَكَ اللهُ (1) أَنّه يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ تَعَلُّمُ ثَلَاثِ هَذِهِ المَسَائِلِ وَالعَمَلُ بِهِنَّ (2)،

  1. “Ketahuilah semoga Allah merahmatimu,
  2. Bahwasanya wajib bagi setiap muslim dan muslimah mempelajari tiga permasalahan (berikut) ini dan mengamalkannya;


PENJELASAN:
1 Ucapan Asy-Syaikh rohimahullah:
(Ketahuilah…) artinya pelajarilah (baik-baik) dan pahami apa yang akan disampaikan, kemudian yakinilah.

(Semoga Allah merahmatimu) –Rohimakallah- adalah sebuah ucapan doa yang bisa dicontoh oleh para pengajar tatkala menyampaikan ilmu kepada anak didiknya, agar Allah Ta’ala menjauhkan mereka dari sifat keras, marah, dan kaku ketika menerima ilmu. Karena sifat-sifat tersebut bisa menghalangi masuknya ilmu.

2 Ucapan Asy-Syaikh rohimahullah:
(Bahwasanya wajib bagi setiap muslim dan muslimah…) Perlu kita ketahui bahwa yang namanya kewajiban adalah satu perkara yang harus dilakukan dan dikerjakan. Jika dikerjakan diberi tsawab (ganjaran pahala) dan jika ditinggalkan (berhak) mendapatkan hukuman (yang setimpal). Sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama di bidang Ushul Fiqih.

Suatu Kewajiban bisa didapatkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Termasuk di antaranya adalah kewajiban kaum muslimin untuk mengetahui dan meyakini tiga permasalahan yang akan dibawakan oleh Penulis rohimahullah.

Sehingga perlu kita tekankan di sini, bahwa kewajiban yang dimaksud dalam ucapan Asy-Syaikh Rohimahullah bukan berasal dari beliau, namun dari sisi Allah ‘Azza waJalla, baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Ucapan beliau Rohimahullah :
(Bagi setiap muslim dan muslimah) mencakup semua kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, merdeka maupun budak (hamba sahaya).

Ucapan beliau rohimahullah:

(Mempelajari Tiga Permasalahan) maksud kata “Mempelajari” adalah bertemu langsung dengan para ulama, menimba ilmu dari mereka, menghafal ilmu tersebut, memahami dengan benar dan mematangkannya. Itulah cara belajar yang benar.

Sehingga belajar yang benar bukan sekedar membaca atau menelaah kitab para Ulama, walaupun perkara tersebut terkadang dibutuhkan dan cukup membantu para penuntut ilmu, namun itu semua belum cukup.

Pada kenyataannya mencukupkan diri hanya berguru kepada kitab-kitab para Ulama serta tidak mau duduk di majelis ilmu memiliki pengaruh yang sangat berbahaya.

  • Bagaimana tidak, Berbagai kerusakan pemahaman bisa muncul darinya.
  • Perasaan bahwa dirinya adalah seorang alim (yang serba tahu) juga bisa menghinggapinya, padahal sebetulnya dia masih jahil (atau belum tahu).
  • Orang yang seperti ini dikhawatirkan akan menghalalkan apa yang Allah haramkan atau mengharamkan apa yang Allah halalkan.
  • Orang yang seperti ini juga dikhawatirkan terjerumus ke dalam dosa ‘Berbicara atas nama Allah tanpa ilmu’.

Sehingga permasalahan ini sungguh sangat membahayakan.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dari perkara tersebut. Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin
Wallahu A’lamu bisshowaab.

 

(Disadur dengan ringkas dari kitab Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal. 39-41; karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah)

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Diringkas Oleh al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullah

—————

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/236




Pelajaran TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 10)

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 10)
—————————————————

Penjelasan ucapan Imam Al-Bukhori Rohimahullah,
Bagian Kedua.
——————-

Beliau rohimahullah mengatakan,

“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”

Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah menjelaskan, “Mengapa Ilmu (harus didahulukan) sebelum ucapan dan perbuatan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena amal perbuatan tidak akan bermanfaat (bagi pelakunya) kecuali jika dilakukan di atas ilmu.

Beliau kembali menegaskan, bahwa suatu amal perbuatan yang dilakukan di atas kejahilan (kebodohan) tidak akan bermanfaat bagi pelakunya, bahkan bisa berbahaya dan membinasakan (pelakunya) pada hari kiamat (nanti), oleh karena itu ilmu harus didahulukan sebelum melakukan amal perbuatan. (Lihat Syarah Tsalatsatil Ushul hal. 37 – 38)

Dalil atas pernyataan tersebut terdapat dalam surat Muhammad ayat 19.

{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Sesembahan Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (Muhammad:19)

Di dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menyebutkan “ilmu” terlebih dahulu sebelum “istighfar” (permintaan ampun) yang mengandung ucapan dan amal perbuatan. (Lihat ’Umdatul Qori` vol.2/39; oleh Al-‘Aini Rohimahullah)

 

Faedah:

  • Jika pada pembahasan yang lalu kita telah mengetahui ancaman murka Allah Ta’ala bagi orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya.
  • Maka pada pembahasan kali ini, ancaman kesesatan ditujukan bagi orang-orang yang beramal suatu amalan tanpa didasari ilmu.
  • Seorang muslim yang baik akan menjauhi jalan kedua kelompok tadi. Karena kehidupan kaum Mukminin dipenuhi dengan ilmu dan amal.
  • Lain halnya dengan kaum Yahudi; mereka menghilangkan amal. (Yakni berilmu tapi tidak beramal); sehingga mendapatkan murka.

Sementara kaum Nashoro mereka menghilangkan ilmu. (Yakni beramal tanpa ilmu); hingga mereka tersesat. (Penjelasan selengkapnya bisa meruju’ kepada “Tafsir Ibn Katsir” 1/141, pada tafsir surat Al-Fatihah)

 

Wallahu A’lamu bisshowaab.
Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Diringkas oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan

 

——————
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

——————

Link Telegram: https://telegram.dog/warisansalaf/228




Pelajaran TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 9) قال البخاري رحمه الله

Pelajaran TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 9)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah berkata,

وقال البخاري رحمه الله : ))بَابُ العِلْمِ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ )). وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا الله وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ} [سورة محمد، الآية: 19] ، فبدأ بالعلم قبل القول والعمل.

“(Imam) Al-Bukhori Rohimahullah berkata: ‘Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan’, Dalilnya firman Allah Ta’ala (artinya):

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Sesembahan Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (Surat Muhammad ayat 19),

(Di dalam ayat ini) Allah Ta’ala memulai dengan (menyebut) Ilmu (terlebih dahulu) sebelum ucapan dan perbuatan.”

PENJELASAN:

Pembahasan kali ini terbagi menjadi dua bagian;

Bagian Pertama: Biografi Ringkas Al-Imam Al-Bukhori Rohimahullah.
Bagian Kedua: Penjelasan ucapan beliau Rohimahullah.

Bagian Pertama:

Biografi Ringkas Al-Imam Al-Bukhori Rohimahullah:

Nama Beliau: Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim bin al-Mughiroh al-Ju’fi al-Bukhori (*)
Kunyah beliau: Abu Abdillah
(*) al-Bukhori (nisbah kepada kota Bukhoro; tempat kelahiran beliau);

Al-Bukhori kecil lahir di bulan Syawwal tahun 194 Hijriah, tepatnya malam Jum’at tanggal 13. (Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah” 11/30)

Keadaan beliau yang yatim sepeninggal ayahnya tidak menghalanginya untuk melanglang buana, mengembara mencari hadits ke segala penjuru negeri, mengambil ilmu dari para Ulama, setelah beliau selesai menghafal Al-Quran.

Imam Bukhori menuturkan, “Aku temui lebih dari seribu orang Ulama dari Hijaz, Mekkah, Madinah, Kufah, Basroh, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir.” (“Sifatus-Shofwah” 2/345 , Ibnul Jauzi)

Hingga akhirnya beliau mendapatkan ratusan ribu hadits yang menancap kuat di dalam dadanya. Beliau mengatakan, “Aku hafal 100.000 hadits shohih, dan 200.000 hadits dho’if.” (Lihat“Ma’rifah Anwa’ Ulumil-Hadits” 1/20; Ibnus-Sholah)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjuluki beliau dengan “Jabalul-Hifzh” (Gunung Hafalan, dikarenakan banyak dan kuatnya hafalan beliau, pen) (At-Taqrib No.5726)

Karya tulis beliau sangat banyak. Yang paling masyhur adalah:

“Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor min Umuuri

Rasulillah Shollallahu ‘alaihi wasallam Wa Sunanihi wa Ayyaamihi”.

Yang dikenal sebagai “Shohih Al-Bukhori”.
Sebuah kitab yang disepakati oleh umat Islam sebagai kitab paling shohih setelah Al-Qur`an. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi Rohimahullah. (Lihat “Al-Minhaj” 1/14)

 

Begitu panjang coretan pena Ulama menuliskan pujian mereka terhadap Imam besar semisal Al-Bukhori. Yang kesemuanya itu berujung pada firman Allah Ta’ala,

ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

“Itulah keutamaan (dari) Allah, (yang) diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” [Al-Maidah:54, Al-Hadid:21, Al-Jumu’ah:4]

Wallahu A’lamu bisshowaab.

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

 

Dirangkum Oleh: al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullahu Ta’ala

 

………………………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/221




PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 8) bag-2

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 8)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,

قال الشافعي: لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السورة لكفتهم

“Asy-Syafi’i berkata, Kalau seandainya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini saja, niscaya (surat ini) sudah mencukupi mereka.”

………………………………………
PENJELASAN:

Ucapan Imam Asy-Syafi’i bagian-2

Makna Ucapan tsb:

  • Empat sebab kebahagiaan hakiki (yang telah kita pelajari) pada hakekatnya dijelaskan secara ringkas di dalam surat ini (secara garis besar).
  • Adapun isi Al-Qur`an (seluruhnya) beserta As-Sunnah, menjabarkan rinciannya.
  • (Sehingga perlu kita pahami) Bahwa tatkala surat ini menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan secara garis besar. Saat itulah hujjah telah ditegakkan terhadap makhluk dengan surat ini.
  • Adapun dalil-dalil yang ada, Yakni selain surat ini –baik dari Al-Qur`an maupun dari as-Sunnah- maka (kedudukannya) sebagai perinci dan penjelas empat hal tadi.

Jangan sampai kita memahami:
Bahwa, “Surat ini (sudah) cukup bagi makhluk-Nya, andaikata Allah tidak menurunkan selainnya.”

Namun (yang seharusnya kita katakan),
“Surat ini sudah cukup sebagai hujjah (penuntut atau pembela, -pen) bagi makhluk-Nya (secara garis besar) , karena Allah Ta’ala telah menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan dan kesengsaraan (di dalamnya).

Sehingga pada hari kiamat nanti, tidak ada seorang pun yang mengatakan:

  • Saya tidak tahu sebab-sebab kebahagiaan, (atau mengatakan)
  • Saya tidak tahu sebab-sebab kesengsaraan.
    Dalam keadaan, (di dunia) dia telah membaca surat yang ringkas dan pendek ini.

(Disadur dari Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal.24), karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah)

………………………..

Sebagian Ulama menyatakan bahwa pernyataan ini tidak benar. Karena terdapat beberapa versi riwayat dari Asy-Syafi’i rohimahullah yang secara dhohir maknanya berbeda.

Namun di atas tadi kita telah baca bersama makna yang seharusnya kita pahami dari ucapan seorang Imam, seperti Asy-Syafi’i rohimahullah, hal ini karena menimbang kepercayaan kita kepada penukilnya, yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullahu Ta’ala. Wallahu A’lamu bish showab

 

Sebagai Penutup:

Sebagai seorang mukmin; Seharusnya hati kita tergerak untuk meraih kebahagiaan tatkala membaca surat ini.
Dengan giat berusaha:

  • Menjadi insan beriman yang melandasi keimanannya dengan ilmu,
  • (kemudian) Beramal sholih,
  • Berdakwah kepada kebenaran ,
  • Serta Bersabar hingga kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla-.

 

Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan jalan kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki….
Aamiin Yaa Robbal ‘Aalaamiin
Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis

 

Dirangkum Oleh: al Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullah

========

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

 

…………………………..

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/212




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (8): قال الشافعي رحمه الله

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 8)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,

قال الشافعي رحمه الله : لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السورة لكفتهم

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahullah,
“Kalau seandainya Allah Azza wajalla tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini saja, niscaya (surat ini) sudah mencukupi mereka.”

………………………………
PENJELASAN:

Pembahasan kali ini terbagi menjadi dua bagian:

Bagian Pertama: berisi biografi ringkas Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahullah.
Bagian Kedua: berisi kandungan makna ucapan beliau rohimahullah.
Bagian Pertama:

Biografi Ringkas Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahullah:

Nama Beliau
Adalah: Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ al-Muttholibi al-Qurosyi

Beliau masih satu nasab dengan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Karena kakek buyut beliau yang bernama Al-Muttholibi merupakan saudara kandung Hasyim yang merupakan kakek buyut Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Lihat Siyar A’lam An-Nubala 10/6)

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menegaskan:

إِنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبُ وَبَنُو هَاشِمٌ شَيْءٌ وَاحِدٌ

“Sungguh anak keturunan Al-Muttholib dan anak keturunan Hasyim (masih) satu nasab.” (HR. Al-Bukhori no.3502)

Asy-Syafi’i termasuk Shighor Tabi’ut Tabi’in
Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahullah dalam kitabnya Taqribut Tahdzib (no.5717) menyebutkan bahwa beliau berada pada thobaqoh (tingkatan) ke-9. (yaitu termasuk “Shighor Tabi’ut Tabi’in”)

Sehingga beliau termasuk orang-orang yang direkomendasikan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah yang semasa denganku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya (lagi).” (Muttafaqun ‘alaih, dari Shahabat Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu)

 

Beliau Termasuk Mujaddid (Pembaharu) Islam.
Maksudnya seorang (ulama) yang menjelaskan sunnah dari bid’ah, menyebarkan ilmu, dan menolong para Ulama, serta mengalahkan ahli bid’ah dan menghinakan mereka. (Lihat ‘Aunul Ma’bud 11/260)

(Yaitu) Ketika mayoritas manusia menyimpang dari jalan agama yang lurus.. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (Vol.1- (2/247)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan mengutus untuk umat ini seseorang yang (akan) memperbaharui agama mereka, pada setiap penghujung 100 tahun.” (HR. Abu Dawud no.4291, Al-Hakim dalam Al-Mustadrok no.8592 dan 8593. Dari shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Al-Albani menshohihkan hadits ini dalam Shohih Al-Jami’ (no.1874)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rohimahullah menjelaskan, bahwa pada penghujung 100 tahun pertama Allah Azza wa Jalla- memunculkan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (meninggal tahun 101 H) , kemudian pada 100 tahun kedua Allah Azza wa Jalla memunculkan Asy-Syafi’i (meninggal tahun 204 H). (lihat ‘Aunul Ma’bud 11/260 – 261)

Ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “Pada setiap penghujung 100 tahun” ada yg mengartikan pada setiap awal 100 tahun. Namun yg dipilih oleh penulis kitab ‘Aunul Ma’bud adalah setiap akhir 100 tahun. Wallahu a’lam . (lihat ‘Aunul Ma’bud 11/262)]

Semoga Allah –ta’ala- merahmati beliau dan kita semua. Aamiin
Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis

FAEDAH INI DIKIRIM OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH.

 

………………….

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………….

Pelajaran ini diterbitkan oleh Channel telegram warisan salaf

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/206




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (7): والدليل قوله تعالى والعصر

PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 7)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,

وَ الدَّلِيلُ قَولُهُ تَعَالَى:
وَ العَصْرِ ، إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إلّا الَّذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَ تَوَاصَوا بِالحَقِّ وَ تَوَاصَوا بِالصَّبْرِ

“Dalilnya firman Allah Ta’ala,
{ Demi Masa (1) Sesungguhnya (semua) manusia benar-benar dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3) } (QS. Al-Ashr: 1-3)

………………………..

PENJELASAN:

[ Dalilnya firman Allah Ta’ala ]
Yaitu dalil tentang keempat permasalahan yang beliau sebutkan sebelumnya

{Demi Masa (1) Sesungguhnya (semua) manusia dalam kerugian (2) }
Kemudian Allah Ta’ala sebutkan kriteria orang-orang yang beruntung dan selamat dari kerugian:

  1. Yang Pertama: Kecuali orang-orang yang beriman.
  2. Yang Kedua: Dan beramal sholeh.
  3. Yang Ketiga: Orang-orang yang saling menasehati untuk mentaati kebenaran.
  4. Yang Keempat: Orang-orang yang saling menasehati untuk menetapi kesabaran.

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir Rohimahullah,
“Allah Ta’ala bersumpah dengan masa bahwa semua manusia berada dalam kerugian dan kehancuran, kecuali orang-orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan, beramal sholeh dengan anggota tubuhnya, melakukan amalan-amalan taat, meninggalkan perkara-perkara yang haram, bersabar terhadap musibah-musibah (yang menimpanya), bersabar terhadap takdir (yang telah ditentukan untuknya), bersabar terhadap gangguan orang-orang yang mengganggu yang ditujukan kepada orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. (Tafsir Ibnu Katsir 8/480 secara ringkas)

Berkata Asy-Syaikh Bin Baz Rohimahullah:
“Surat ini sebagai dalil tentang empat permasalahan (yang disebutkan sebelumnya). (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 25)

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis

 

Insya Allah mulai hari ini, pelajaran Tsalatsatul Ushul akan dipandu oleh Al Ustadz Abdul Hadi Pekalongan

 

=================

Pelajaran ini diterbitkan oleh Channel telegram warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/199