Bulughul Marom: Kitabus Shiyam 4

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 4)
—————————

 

HADITS PERTAMA (Lanjutan Pertemuan Sebelumnya…)
(Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

…..

LANJUTAN FAEDAH HADITS:

5. Kata “Laki-laki” dalam hadits, tidak menunjukkan pengkhususan kaum pria saja. Karena syari’at ini pada asalnya berlaku untuk kaum laki-laki dan perempuan, kecuali jika didapatkan dalil yang mengkhususkan. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)

6. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, hadits ini mengisyaratkan lemahnya riwayat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu yang berbunyi;

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا

“Jika bulan Sya’ban tersisa separuhnya, maka janganlah kalian berpuasa!” (Hadits riwayat Ahmad no.9707, At-Tirmidzi no.738, Abu Dawud no.2337, Ibnu Majah no.1651, An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubro no.2923, dan selainnya.)

Hadits di atas diingkari oleh Imam Ahmad Rohimahullah. (akan tetapi) Sebagian ulama yang lain menshohihkan atau menghasankannya. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/171)

Imam Ahmad mengatakan, “Ini adalah hadits mungkar. Abdurrahman bin Mahdi tidak pernah menyampaikan kepada kami hadits ini; karena berseberangan dengan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anhuma.” (Masail Imam Ahmad Riwayat Abi Dawud no.2002 hal.434, Al-Muharrir no.646 hal.378 karyaIbnu ‘Abdil Hadi Rohimahullah)

Hadits ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَان يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa pada seluruh bulan Sya’ban; beliau juga berpuasa Sya’ban (1 bulan) kurang sedikit.” (HR. Al-Bukhori no.1970 dan Muslim no.1156-(176), dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha)

Sedangkan Hadits Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يَصِلُ شَعْبَانَ بِرَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali tatkala beliau menyambung (puasa) Sya’ban dengan Romadhon.” (HR. Ahmad no.265652, At-Tirmidzi no.736, An-Nasa`i no.2175, Dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahullah dalam Mukhtashor Asy-Syamail no.255, Shohih At-Targhib wat Tarhib no. 1025, Shohih Ibni Majah no.1648)

Wallahu A’lamu bisshowab

(Bersambung Insya Allah,…)

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/278




Bulughul Marom: Kitabus Shiyam 3

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 3)

—————————

 

HADITS PERTAMA (Lanjutan Pertemuan Sebelumnya…)

(Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

…..

Faedah-Faedah Hadits:
1. Di dalam hadits ini terkandung larangan berpuasa sehari atau dua hari di akhir bulan Sya’ban, menjelang bulan Romadhon. Sifat larangan tersebut diperselisihkan para Ulama. Sebagian mereka menyatakan haram, sebagian yang lain menyatakan makruh (di bawah tingkatan haram). Pendapat yang dikuatkan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah adalah yang menyatakan makruh. (Catatan: beliau pernah berpendapat haram). Namun apabila bertepatan dengan hari Syak (*) hukumnya haram. (Berdasarkan hadits ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu; setelah hadits ini insya Allah).

(*) Hari Syak terjadi pada tanggal 30 Sya’ban; yaitu hari yang diragukan, tidak bisa dipastikan apakah Romadhon telah masuk atau belum. Penyebabnya, hilal tidak terlihat pada sore 29 Sya’ban karena tertutup mendung, debu (asap), gunung, atau sesuatu; berdasarkan pendapat terpilih.

Jika langit cerah pada sore tanggal 29 tapi hilal tidak terlihat; maka puasa tanggal 30 Sya’ban hukumnya makruh. Wallahu A’lam (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/171 & 174)

2. Larangan di dalam hadits berlaku untuk seluruh umat Islam. Walaupun konteks larangan ditujukan kepada Shahabat. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/169)

3. Adanya Rukhshoh (atau keringanan) bagi orang yang rutin (terbiasa) melakukan puasa tertentu, untuk berpuasa pada dua hari terakhir bulan Sya’ban. (Taudhihul-Ahkam 3/132)

4. Lafadz perintah menunjukkan pembolehan, jika konteksnya berlawanan dengan larangan. Misal perintah dalam hadits “lakukanlah puasa tersebut!”, karena perintah tersebut didahului dengan larangan, maka maknanya sekedar pembolehan untuk berpuasa. Wallahu A’lam. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)

Wallahu A’lamu bisshowab

(Bersambung Insya Allah,…)

 

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/277




Bulughul Marom: Kitabus Shiyam 2

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 1)

—————————

 

HADITS PERTAMA
(Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ, إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا, فَلْيَصُمْهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan kalian dahului Romadhon dengan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya), kecuali (bagi) seorang lelaki yang rutin melakukan amalan puasa tertentu; lakukanlah puasa tersebut” (Muttafaqun ‘alaih)


TAKHRIJ HADITS:

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori no.1914 , Muslim no.1082-(21), Ahmad no.7200, 8575, 9287, 10184, 10662, 10755, Abu Dawud no.2335, At-Tirmidzi no.685, An-Nasa`i no.2173, 2190, Ibnu Majah no.1650 , dan selain mereka.

MAKNA HADITS

Di dalam hadits ini Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melarang kita (umat Islam) untuk berpuasa sehari atau dua hari menjelang bulan Romadhon, kecuali seseorang yang rutin (*) melakukan amalan puasa tertentu, maka boleh baginya untuk berpuasa pada dua hari tersebut.

(*) Maksud “Rutin” adalah; “Terbiasa melakukan puasa tersebut.” (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin; dalam Fathu Dzil-Jalal 3/169)

Misalnya:

Seorang yang rutin berpuasa tiga hari setiap bulan yang bertepatan dengan tanggal 27, 28, 29 (menjelang Romadhon); maka yang seperti ini tidak mengapa.

Atau Seseorang yang rutin berpuasa Senin-Kamis, dimana hari Kamis nya jatuh pada tanggal 29 Sya’ban; yang seperti ini juga boleh; tidak mengapa.

Atau Puasa Qodho` (membayar hutang puasa Romadhon tahun lalu) tepat sebelum masuk bulan Romadhon; yang seperti ini juga boleh, bahkan hukumnya wajib (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)

Wallahu A’lamu bisshowaab

(Bersambung Insya Allah,…)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/275




Bulughul Marom: Kitabus Shiyam 1

PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 1)

 

MUKADDIMAH

PENGERTIAN SHIYAM (Puasa)
Di dalam istilah syari’at, Shiyam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari pembatal-pembatalnya (*), sejak terbit fajar Shubuh hingga tenggelamnya matahari.
(*) Pembatal-pembatal shiyam akan dibahas pada tempatnya, insya Allah.

Dalam bahasa Arab, Shiyam (disebut pula dengan Shaum); artinya “menahan”. (Lihat Fathu Dzil-Jalali wal-Ikrom 3/165; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah)

Kata Shiyam dan Shaum, telah tercantum di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia); pada kata (Siam dan Saum) tanpa huruf ‘h’ yang berarti puasa, walhamdulillah.

HUKUM SHIYAM
Adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah (yang telah akil baligh), untuk berpuasa di bulan Romadhon.

Landasan hukumnya adalah perintah Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqoroh ayat 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa,…”

Dan perintah Rasul-Nya,

إِذَا رَأَيْتُمُ الهِلالَ فَصُومُوا

“Jika kalian melihat hilal (bulan Romadhon), berpuasalah kalian!”
(HR. Al-Bukhori no.1900 dan Muslim no.1080, Dari Shahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma; dengan lafadz Muslim)

Bahkan Shiyam Romadhon termasuk rukun Islam yang lima. (Lihat HR. Al-Bukhori no.8 dan Muslim no.16, dari Shahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma)

HUKUM MENINGGALKAN PUASA ROMADHON
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, “Barangsiapa hidup di tengah-tengah kaum muslimin dan mengingkari kewajiban puasa Romadhon, maka dia telah kafir. Karena dia mengingkari perkara yang telah jelas hukumnya di dalam agama Islam.” (Lihat Al-Fath 3/165)

Para ulama berbeda pendapat, tentang hukum orang yang meninggalkan puasa Romadhon karena tahawun (meremehkan pelaksanaannya). Pendapat yang kuat adalah tidak dikafirkan. (Lihat Al-Fath 3/165-166)

Semoga kita dimudahkan Allah Ta’ala untuk melaksanakan kewajiban Shiyam Romadhon dengan penuh keimanan, mengharap balasan kebaikan dari sisi Allah ‘Azza waJalla. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin

(Bersambung Insya Allah,…)

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/274

 




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (15): بل أرسل إلينا رسولا

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 15)
——————————————-

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah mengatakan:

بَلْ أَرْسَلَ إِلَيْنَا رَسُولًا (1) ، …

(1) Bahkan Dia (yaitu Allah Ta’ala) mengutus kepada kita seorang rasul (atau utusan).


PENJELASAN:

(1) Setelah kita mengetahui dan meyakini bahwa manusia diciptakan di dunia ini untuk satu tujuan mulia; yaitu ibadah.

Maka penjelasan berikutnya adalah: Untuk tujuan mulia ini, Allah ‘Azza waJalla tidak akan membiarkan umat manusia begitu saja tanpa bimbingan. Sehingga diutuslah seorang rasul untuk membimbing mereka, agar bisa beribadah dengan cara yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah ‘Azza waJalla.

Para pembaca –yang dirahmati Allah-, Yang namanya ibadah, pelaksanaannya bukan berdasarkan “prasangka” ataupun “kata orang”. (Menurut prasangka saya amalan ini baik, atau kata Fulan dan ‘Allan amalan ini baik).

Namun, pelaksanaan ibadah harus sesuai dengan petunjuk dan bimbingan para rasul yang diutus kepada kita. Disamping tugas mereka untuk melarang umat manusia dari kesyirikan dan kekufuran. Mereka juga bertugas menyampaikan tata cara ibadah yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah ‘Azza waJalla.

Oleh karena itu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam menegaskan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718-18)

Kesimpulannya: Ibadah harus bersifat “tauqifiyyah” (Artinya harus sesuai dengan perintah dan bimbingan para Rasul –‘alaihimus Salam-).

Kemudian, bid’ah (perkara baru yang di ada-adakan, yang tidak pernah diperintahkan dalam agama) harus disingkirkan, khurofat (cerita dongeng legenda) juga harus ditolak, taqlid buta (mengikuti pendapat atau paham seseorang tanpa mengetahui dasar atau dalilnya) juga harus dibuang jauh-jauh. Wabillahit-taufiq

Adapun maksud “Seorang Rasul” dalam penjelasan Asy-Syaikh Rohimahullah adalah Nabi kita Muhammad Shollallahu ‘alaihi waSallam; penutup para nabi.

Beliau diutus untuk menjelaskan tujuan penciptaan kita, menjelaskan tata cara ibadah yang baik kepada Allah ‘Azza waJalla, serta melarang kita dari kesyirikan, kekafiran, dan kemaksiatan. Beliau telah menyampaikan misi tugas kerasulannya dengan jelas, menunaikan amanah, menasehati kita umat manusia, menjelaskan kepada kita dengan penjelasan yang jelas gamblang, bagaikan jalan yang terang, malam harinya seperti siang. Jika ada orang yang menyimpang darinya pasti akan celaka.

Wallahu A’lamu bisshowaab.

(Disadur dari kitab Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal. 45-47; karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhohullah)

 

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

 

Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/268




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (14): ولم يتركنا هملا

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 14)

———————————————

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah menjelaskan:

وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلا (1) ،…

(1) Dan Dia (yaitu Allah Ta’ala) tidak membiarkan kita begitu saja.

———————

PENJELASAN:

(1) Penjelasan Asy-Syaikh Rohimahullah di atas semakna dengan firman Allah Ta’ala di dalam surat Al-Qiyamah ayat 36, yang berbunyi;

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja.”

Karena makna kata “Sudan” di dalam ayat tersebut sama dengan makna kata “Hamalan”, sebagaimana dijelaskan oleh Shahabat Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma (Lihat Tafsir Ath-Thobari 24/83)

Zhohir makna ayat tersebut mencakup dua keadaan manusia:

Keadaan Pertama: Di dunia; tidak dibiarkan tanpa perintah dan tanpa larangan, (Sebagaimana penafsiran dari Imam Mujahid dan Asy-Syafi’i).

Keadaan Kedua: Di kuburannya; tidak dibiarkan (begitu saja menjadi tanah) tanpa dibangkitkan, (Sebagaimana penafsiran dari Imam As-Suddiy). (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/283)

Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah menjelaskan, bahwasanya ada hikmah yang agung tatkala Allah Ta’ala menciptakan kita -umat manusia-, termasuk (tatkala menciptakan) rezeki dan kemampuan untuk mengaisnya. Hikmah tersebut adalah agar kita beribadah (hanya) kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat:56) (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.43)

Artinya Allah ‘Azza waJalla menciptakan kita dan memberikan rezeki-Nya kepada kita bukan untuk main-main atau suatu perkara yang sia-sia. Namun untuk perkara yang agung yaitu; beribadah kepada-Nya, taat dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Karena Ibadah adalah taat kepada Allah, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir Rohimahullah. (Lihat Fathul Majid hal.14)

Jangan sampai umat manusia seperti binatang yang diciptakan hanya untuk kemanfaatan umat manusia, kemudian (setelah) mati akan pergi sirna (tanpa pertanggung jawaban). Karena mereka diciptakan tanpa dibebani syari’at, (artinya) mereka tidak diperintah dan tidak dilarang. (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.43)

Semoga kita bisa menggunakan kehidupan kita serta rezeki yang Allah anugerahkan kepada kita untuk menggapai keridhoan-Nya. Aamiin ya Robbal ‘Aalaamiin

Wallahu A’lamu bis-Showab

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Dirangkum oleh: Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.

—————–

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/259




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (13): ورزقنا

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah mengatakan:

1 ورزقنا

(1) Dan (Dia lah Allah) yang telah memberikan rezeki kepada kita.


PENJELASAN:
(1) Pada kesempatan kali ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah menerangkan kepada kita bahwa Pemberi rezeki yang memberikan rezeki kepada semua makhluk termasuk kita –umat manusia-; adalah Allah ‘Azza wa Jalla.

Hal ini harus diyakini oleh setiap muslim dan muslimah.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan bahwa dalil-dalil dari Al-Qur’an tentang permasalahan ini cukup banyak, di antaranya:

  • Surat Adz-Dzariyat ayat:58, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”

  • Surat Saba’ ayat 24, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللهُ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.”

  • Surat Yunus ayat 31, Allah Ta’ala berfirman; 

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” ”

Adapun dalil dari As-Sunnah, di antaranya hadits tentang janin (atau bakal bayi);
Dalam hadits itu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengkhabarkan bahwa tatkala janin berumur 120 hari (sekitar 4 bulan), Allah Ta’ala mengutus kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh dan mencatat empat takdir; tentang rezeki, ajal (kematian), amal perbuatan, nasib bahagia atau celaka. (HR. Al-Bukhori no.3208, dan Muslim no.2643-1)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah juga menambahkan, bahwa disamping dalil-dalil naqli tadi terdapat dalil-dalil aqli (yang bersifat logika; bisa masuk di akal);

  • Yaitu kehidupan kita –umat manusia- yang tidak akan bisa bertahan kecuali dengan makan dan minum.
  • Kita perlu ingat, bahwa pencipta semua makanan dan minuman itu adalah Allah ‘Azza waJalla. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Waqi’ah 63-70; Artinya:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam (63); Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? (64); Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang. (65); (Sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian” (66); bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa (67); Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum (68); Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? (69); Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (70) ”

Di dalam ayat-ayat ini jelas tergambarkan bahwa rezeki yang kita dapatkan -berupa makanan dan minuman- merupakan karunia dari sisi Allah ‘Azza waJalla. (Syarah Tsalatsatil-Ushul hal. 30-31)

Oleh karena itu, hendaknya karunia tersebut bisa membantu kita untuk melakukan kewajiban yang telah digariskan menjadi tujuan penciptaan kita, yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu waTa’ala.” (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.42; karya: Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah).

Semoga bermanfaat

Wallahu A’lamu bisshowab

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

 

Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.

—————-

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————-

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/251




Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul (12): الأولى أن الله خلقنا

Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 12)

————————————-

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah mengatakan:

الأُولَى (1):

أَنَّ اللهَ خَلَقَنَا (2)، …

  1. “Permasalahan Pertama:
  2. Bahwasanya Allah Ta’ala, (Dia lah) yang telah menciptakan kita…”.

PENJELASAN:

  1. (Permasalahan Pertama) yang dimaksud di atas adalah bagian pertama dari tiga permasalahan yang akan beliau rinci penjelasannya.
  2. (Allah Ta’ala, (Dia lah) yang telah menciptakan kita), yakni menjadikan kita ada setelah sebelumnya tidak ada.

Artinya kita semua sebelum diciptakan Allah Ta’ala belum ada wujudnya.

Hal ini sebagaimana tersirat di dalam Firman Allah Ta’ala:

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (Al-Insan:1)

وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“… Dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (Maryam:9)
(Lihat “Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah” hal.42; karya Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, “Seorang manusia tidak akan bisa menciptakan dirinya sendiri, karena sebelum diciptakan dia tidak ada. Sesuatu yang tidak ada, tidak akan bisa memiliki kemampuan sama sekali. Sesuatu yang tidak memiliki kemampuan, tidak akan bisa mengadakan sesuatu.

Kita juga perlu mengetahui bahwa, keberadaan manusia bukan karena diciptakan ayahnya, ibunya, ataupun seseorang dari makhluk ini. Kita juga perlu mengetahui bahwa, keberadaan manusia bukan karena kebetulan (tiba-tiba muncul) tanpa pencipta. Karena sesuatu yang baru muncul pasti ada yang menciptakannya. Fakta kehidupan makhluk yang sangat rapi dan teratur dalam satu kesatuan ekosistem mencegah kita untuk menyatakan bahwa, “Semua ini terjadi secara kebetulan.” .

Sesuatu yang terjadi secara kebetulan tidak akan memiliki keteraturan sejak awal keberadaannya. Lalu bagaimana dia akan bisa tumbuh menjadi teratur, jika (seandainya) keberadaan dirinya tetap berlangsung. Oleh karena itu pastilah sudah, bahwa pencipta segala sesuatu adalah Allah Ta’ala, satu-satunya. Tidak ada pencipta dan pemberi perintah (yang hakiki) melainkan Allah ‘Azza wa Jalla.”
(Lihat “Syarah Tsalatsatil Ushul” hal. 29)

Wallahu a’lamu bisshowab

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Dirangkum oleh: al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullah

 

————
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

————

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/241

 




FIKIH MUYASSAR (5): BAB TENTANG BUANG HAJAT DAN ADAB-ADABNYA (Lanjutan)

الفقه الميسر في ضوء الكتاب والسنة

PELAJARAN FIKIH (5):

BAB TENTANG BUANG HAJAT DAN ADAB-ADABNYA (Lanjutan)

 

Permasalahan Ketiga: Perkara yang disunnahkan dilakukan di tempat Buang Hajat

Disunnahkan bagi orang yang masuk ke tempat buang hajat untuk:

Mengucapkan (ketika akan masuk),

بسم الله اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث

BISMILLAH ALLOHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAITS

“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (kejahatan) Syaithan laki-laki dan syaithan perempuan.”

 

dan ketika selesai mengucapkan (diluar tempat buang hajat),

غفرانك

GHUFRONAKA

“(ya Allah, Aku memohon) ampunan-Mu.”

 

  • Mendahulukan Kaki kiri ketika masuk dan kaki kanan ketika keluar.
  • Tidak membuka auratnya kecuali setelah ia dekat dengan tanah.
  • Apabila buang hajat dilakukan di tempat terbuka (seperti padang pasir dan yang semisalnya) maka disunnahkan baginya untuk menjauh dan menutupi hingga tidak terlihat.

Dalil-dali untuk semua poin di atas adalah sebagai berikut:

Hadits Jabir Radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

خرجنا مع رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – في سفر وكان رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لا يأتي البراز حتى يتغيب فلا يُرى

“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah mendatangi tempat buang hajat hingga menjauh sehingga tidak terlihat.” (HR. Abu Daud no.2)

Hadits Ali Radhiallahu ‘anhu beliau, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

ستر ما بين الجن وعورات بني آدم إذا دخل الخلاء، أن يقول: بسم الله

“Penghalang antara jin dan auratnya bani Adam apabila ia memasuki tempat buang hajat adalah ia mengucapkan, Bismillah.” (HR. Ibnu Majah no.297)

Hadits Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika masuk ke tempat buang hajat beliau mengucapkan,

اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث

ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAITS

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (kejahatan) syaithan laki-laki dan syaithan perempuan.” (HR. Al-Bukhari no.142 dan Muslim no.375)

Hadits Aisyah Radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika keluar dari tempat buang hajat mengucapkan,

غفرانك

GHUFRONAKA

“(ya Allah, aku memohon) ampunan-MU” (HR. Abu Daud no.17)

Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila ingin buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya kecuali setelah mendekat ke tanah.” (HR. Abu Daud no.14)

Ikuti terus pelajaran Fikih Muyasar setiap hari Selasa dan Kamis.
Sumber panduan: Al-Fiqhu Al-Muyassar hal.10
Disajikan oleh Tim Warisan Salaf

 

——————–
Warisan Salaf menyajikan artikel dan Fatawa Ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah
Ikuti Channel kami di telegram https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

——————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/142

 




FIKIH MUYASSAR (4): BAB TENTANG BUANG HAJAT DAN ADAB-ADABNYA (Lanjutan)

الفقه الميسر في ضوء الكتاب والسنة

PELAJARAN FIKIH (4):

BAB TENTANG BUANG HAJAT DAN ADAB-ADABNYA (Lanjutan)


KEDUA: MENGHADAP dan MEMBELAKANGI kiblat Ketika Buang Hajat

TIDAK BOLEH menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat di tempat terbuka tanpa ada yang menutupi. Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إذا أتيتم الغائط فلا تستقبلوا القبلة، ولا تستدبروها، ولكن شَرِّقوا أو غَرِّبوا

“Apabila kalian mendatangi tempat buang hajat, maka janganlah menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi (menghadaplah) ke arah timur atau barat.”

Abu Ayyub berkata, ketika kami di Syam, kami dapati tempat-tempat buang hajat dibangun menghadap ke arah Ka’bah. Maka kami pun memalingkannya darinya (Ka’bah) dan kami memohon ampunan kepada Allah.” (HR. AL-Bukhari no.144 dan Muslim no.264)

Adapun apabila (buang hajat dilakukan) di dalam bangunan atau antara dia dan kiblat ada sesuatu yang menghalanginya, maka tidak mengapa. Berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, “Bahwasanya ia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam buang air kecil di rumahnya dengan menghadap Syam dan membelakangi kiblat.” (HR. Al-Bukhari no.148 dan Muslim no.266)

dan juga hadits Marwan Al-Ashghor ia berkata,

أناخ ابن عمر بعيره مستقبل القبلة، ثم جلس يبول إليه، فقلت: أبا عبد الرحمن، أليس قد نُهي عن هذا؟ قال: بلى إنما نهي عن هذا في الفضاء، أما إذا كان بينك وبين القبلة شيء يسترك فلا بأس

Bahwasanya Ibnu Umar menderumkan untanya menghadap ke arah kiblat, kemudian ia duduk dan kencing ke arahnya.

Aku berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Abdirrahman, bukankah telah di larang dari hal ini (kencing menghadap kiblat,pen)?
Beliau menjawab, “Betul. Hanyasaja yang dilarang ketika di tempat terbuka. Adapun jika ada penghalang antara dirimu dan arah kiblat maka tidak mengapa.” (HR. Abu Daud no.11, dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa no.61)

Yang lebih utama, adalah meninggalkannya (menghadap atau membelakangi kiblat) walaupun di dalam bangunan. Wallahu a’lam.
Insya Allah akan kita lanjutkan kepada permasalahan ketiga pada pertemuan berikutnya.
Ikuti terus pelajaran Fikih Muyassar setiap hari Selasa dan Kamis.

 

Sumber Panduan: Al-Fiqhu Al-Muyassar hal.9-10
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf

 

—————
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Ikuti Channel kami di telegram https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/118