PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 7)

——————-—

HADITS KEDUA (LANJUTAN)

(Larangan berpuasa pada Hari Syak -hari yang diragukan-)

Dari Shahabat ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:

مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم- ،

“Barangsiapa berpuasa pada Hari Syak –hari yang diragukan- , maka dia telah durhaka (bermaksiat) kepada Abul Qosim (yakni Rasulullah) Shollallahu ‘alaihi waSallam.”

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

5. Bolehnya menyebut Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam bentuk penyampaian kabar dengan selain gelar kerasulan atau kenabian  (seperti Rasulullah atau Nabi Allah); contohnya, “Telah berkata Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam”, atau seperti dalam hadits, “Telah durhaka kepada Abul Qosim Shollallahu ‘alaihi wa Sallam”.

Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak boleh dipanggil (atau diseru) dengan nama saja maupun nama kunyah (*). (Misal Shahabat memanggil Nabi Shollallahu ‘alaihi waSallam dengan namanya: “Wahai Muhammad!”, pen) (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/174 & Taudhihul Ahkam 3/135)

(*) Nama Kunyah adalah nama yang di awali dengan Abu atau Ummu, seperti Abu Abdillah dan Ummu al-Khoir.

Pelarangan tersebut dijelaskan oleh Shahabat Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

“Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul diantara kalian seperti panggilan sebahagian kalian kepada sebahagian (yang lain).” [An-Nur:63]

Beliau Rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Dahulu para shahabat memanggil Rasul dengan (nama atau kunyahnya): “Wahai Muhammad, Wahai Abul Qosim”, hingga Allah ‘Azza waJalla melarang mereka dari perkara itu, dalam rangka mengagungkan Nabi-Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kemudian setelah itu mereka pun mengatakan: “Wahai Rasulullah, Wahai Nabi Allah.”

(HR. Abu Nu’aim dalam Dalailun Nubuwwah no.4, lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 6/88)

Catatan: Al-Imam Ibnu Katsir Rohimahullah menjelaskan, bahwa penafsiran ini adalah satu dari dua penafsiran yang zhohirnya sesuai konteks ayat, Wallahu a’lam.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, bahwa menyebut Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam dengan gelar kerasulan lebih utama. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/174)

TENTANG PENYEBUTAN NAMA ABUL QOSIM

Sebagian Ulama menjelaskan, bahwa Al-Qosim nama putra Rasul yang pertama dari istri beliau Khodijah Rodhiyallahu ‘anha. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hisyam Rohimahullah dalam sirohnya, (1/174).

Sebagian yang lain menjelaskan, Itu adalah julukan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam. Sebagaimana dalam hadits:

وَاللهُ المُعْطِي وَأَنَا القَاسِمُ

“Dan Allah lah yang Maha memberi, sedangkan aku hanya pembagi (Yang membagi sesuai dengan perintah Allah Ta’ala, pen.).” (HR. Al-Bukhori no.3116, dari Shahabat Mu’awiyah Rodhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyebutkan dua kemungkinan tersebut tanpa menyebutkan yang terpilih. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/173-174)

6. Bolehnya menyampaikan hadits secara makna (walaupun tidak sama persis dengan aslinya, pen), Sebagaimana kita dapatkan dalam hadits ini. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/174)

Al-Imam As-Sakhowi Rohimahullah menjelaskan, bahwa Periwayatan hadits secara makna diperbolehkan berdasarkan pendapat yang benar, (hal ini khusus) bagi orang-orang yang mengetahui sisi pendalilan lafadz hadits dan maknanya. (At-Taudhihul Abhar hal.179)

Wallahu A’lam Bisshowaab

(Bersambung Insya Allah,…)

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com




PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 6)

——————————

HADITS KEDUA (LANJUTAN)
(Larangan berpuasa pada Hari Syak -hari yang diragukan-)

Dari Shahabat ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:

 مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم- ،

“Barangsiapa berpuasa pada Hari Syak –hari yang diragukan- , maka dia telah durhaka (bermaksiat) kepada Abul Qosim (yakni Rasulullah) Shollallahu ‘alaihi waSallam.”

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

1. Di dalam hadits ini terkandung larangan untuk berpuasa pada “Hari Syak” yaitu hari yang diragukan; dimana datangnya bulan Romadhon belum bisa dipastikan, karena hilal terhalangi sesuatu pada malam ke-30 (akhir tanggal 29 Sya’ban, sebagaimana telah kita lewati penjelasannya). (Taudhihul- Ahkam 3/134)

2. Larangan tersebut diambil dari ucapan Shahabat ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu yang artinya “Barangsiapa berpuasa pada Hari Syak –hari yang diragukan- , maka dia telah durhaka (bermaksiat) kepada Abul-Qosim (yaitu Rasulullah) Shollallahu ‘alaihi waSallam.”

Secara tidak langsung, ucapan ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu merupakan larangan dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/172)

3. Bentuk hadits yang seperti ini diistilahkan dengan “Mauquf Lafzhon & Marfu’ Hukman”, sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam ash-Shon’ani Rohimahullah dalam Subulus Salam (1/558).

Istilah “Mauquf” artinya semua yang disandarkan kepada Shahabat, berupa ucapan, perbuatan, maupun semisalnya. (At-Tadzkiroh; hal. 15; karya Al-Imam Ibnul Mulaqqin Rohimahullah)

Sedangkan definisi “Marfu’” adalah semua yang disandarkan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi waSallam, berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat beliau; meliputi akhlak dan bentuk tubuhnya (Mustholahul Hadits hal.30; karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah)

Mauquf Lafzhon; maksudnya secara lafadz hadits ini mauquf karena yang mengucapkan adalah seorang Shahabat.
dapun Marfu’ Hukman; secara hukum hadits ini marfu’ (disandarkan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi waSallam) karena kandungan maknanya adalah larangan dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/172)

4. Puasa pada “Hari Syak” hukumnya haram, karena dikategorikan ke dalam perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam (berdasarkan pendapat terpilih). (Fathu Dzil-Jalal 3/174 & Taudhihul Ahkam 3/134)

Wallahu A’lam Bisshowaab

(Bersambung Insya Allah,…)

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com




PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 5)

—————–

 

HADITS KEDUA
(Larangan berpuasa pada Hari Syak -hari yang diragukan-)

Dari Shahabat ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:

مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم- ،

“Barangsiapa berpuasa pada Hari Syak –hari yang diragukan- , maka dia telah durhaka (bermaksiat) kepada Abul Qosim (yakni Rasulullah) Shollallahu ‘alaihi waSallam.”

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqolani Rohimahullah;

وَذَكَرَهُ اَلْبُخَارِيُّ تَعْلِيقًا, وَوَصَلَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ.

“Al-Bukhori Rohimahullah menyebutkan hadits ini secara mu’allaq (baca: tanpa sanad (*)).

(*) Sanad artinya rantai para rowi (yaitu orang-orang yang menyampaikan hadits) hingga sampai kepada matan (kandungan) hadits.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rohimahullah melanjutkan penjelasannya, “bahwa “Al-Khomsah” (**) menyambungkan (sanad) hadits ini (sampai kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam).

Al-Hafizh Rohimahullah juga menyebutkan, bahwa hadits ini dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

(**) Al-Khomsah maksudnya para imam yang lima, “Yaitu Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi, Imam an-Nasa`i, dan Imam Ibnu Majah Rohimahumullah Jami’an”  (Lihat penjelasan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah dalam Fath Dzil-Jalal 3/172)

TAKHRIJ HADITS:

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhori secara mu’allaq dalam Shohih-nya (3/27), Abu Dawud (no.2334), at-Tirmidzi (no.686), an-Nasa`i (no.2188), Ibnu Majah (no.1645), Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya (no.1914), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no.3585, 3596), dan selain mereka.

Asy-Syaikh al-Albani Rohimahullah menshohihkan hadits ini dalam kitab Shohih Sunan Abu Dawud (no.2022) dan Al-Irwa` (no.961).

MAKNA HADITS

Hari Syak adalah hari ke-30 bulan Sya’ban, jika hilal tak terlihat (pada sore 29 Sya’ban) karena tertutup mendung, debu (asap), gunung atau sesuatu. (Berdasarkan pendapat terpilih). (Fathu Dzil-Jalal 3/172 – 173).

Disebut hari syak atau hari yang diragukan karena datangnya Romadhon tidak bisa dipastikan.

PENJELASAN HADITS:
Sebuah kisah pendek menjadi pembuka hadits ini, sebagaimana di sebutkan dalam Sunan Abi Dawud (no.2334) dan At-Tirmidzi (no.686).

Pada suatu hari, Shilah bin Zufar dan beberapa orang tabi’in berkumpul bersama Shahabat ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu. Saat itu bertepatan dengan hari Syak dimana masuknya bulan Romadhon masih diragukan, namun sebagian tabi’in tetap berpuasa. Tak disangka, ternyata disuguhkan kepada mereka masakan kambing guling (siap saji). Melihat sajian tersebut, sebagian tabi’in (yang berpuasa) menyingkir pergi. Ketika itulah, Shahabat ‘Ammar bin Yasir mengingatkan para tamunya, “Barangsiapa berpuasa pada hari Syak –hari yang diragukan- , maka dia telah durhaka  (bermaksiat) kepada Abul Qosim (yakni Rasulullah) Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.”

Wallahu A’lamu bisshowaab

(Bersambung Insya Allah,…)

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com




PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 4)
—————————

 

HADITS PERTAMA (Lanjutan Pertemuan Sebelumnya…)
(Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

…..

LANJUTAN FAEDAH HADITS:

5. Kata “Laki-laki” dalam hadits, tidak menunjukkan pengkhususan kaum pria saja. Karena syari’at ini pada asalnya berlaku untuk kaum laki-laki dan perempuan, kecuali jika didapatkan dalil yang mengkhususkan. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)

6. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, hadits ini mengisyaratkan lemahnya riwayat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu yang berbunyi;

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا

“Jika bulan Sya’ban tersisa separuhnya, maka janganlah kalian berpuasa!” (Hadits riwayat Ahmad no.9707, At-Tirmidzi no.738, Abu Dawud no.2337, Ibnu Majah no.1651, An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubro no.2923, dan selainnya.)

Hadits di atas diingkari oleh Imam Ahmad Rohimahullah. (akan tetapi) Sebagian ulama yang lain menshohihkan atau menghasankannya. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/171)

Imam Ahmad mengatakan, “Ini adalah hadits mungkar. Abdurrahman bin Mahdi tidak pernah menyampaikan kepada kami hadits ini; karena berseberangan dengan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anhuma.” (Masail Imam Ahmad Riwayat Abi Dawud no.2002 hal.434, Al-Muharrir no.646 hal.378 karyaIbnu ‘Abdil Hadi Rohimahullah)

Hadits ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَان يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa pada seluruh bulan Sya’ban; beliau juga berpuasa Sya’ban (1 bulan) kurang sedikit.” (HR. Al-Bukhori no.1970 dan Muslim no.1156-(176), dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha)

Sedangkan Hadits Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يَصِلُ شَعْبَانَ بِرَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali tatkala beliau menyambung (puasa) Sya’ban dengan Romadhon.” (HR. Ahmad no.265652, At-Tirmidzi no.736, An-Nasa`i no.2175, Dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahullah dalam Mukhtashor Asy-Syamail no.255, Shohih At-Targhib wat Tarhib no. 1025, Shohih Ibni Majah no.1648)

Wallahu A’lamu bisshowab

(Bersambung Insya Allah,…)

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/278




PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 3)

—————————

 

HADITS PERTAMA (Lanjutan Pertemuan Sebelumnya…)

(Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

…..

Faedah-Faedah Hadits:
1. Di dalam hadits ini terkandung larangan berpuasa sehari atau dua hari di akhir bulan Sya’ban, menjelang bulan Romadhon. Sifat larangan tersebut diperselisihkan para Ulama. Sebagian mereka menyatakan haram, sebagian yang lain menyatakan makruh (di bawah tingkatan haram). Pendapat yang dikuatkan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah adalah yang menyatakan makruh. (Catatan: beliau pernah berpendapat haram). Namun apabila bertepatan dengan hari Syak (*) hukumnya haram. (Berdasarkan hadits ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallahu ‘anhu; setelah hadits ini insya Allah).

(*) Hari Syak terjadi pada tanggal 30 Sya’ban; yaitu hari yang diragukan, tidak bisa dipastikan apakah Romadhon telah masuk atau belum. Penyebabnya, hilal tidak terlihat pada sore 29 Sya’ban karena tertutup mendung, debu (asap), gunung, atau sesuatu; berdasarkan pendapat terpilih.

Jika langit cerah pada sore tanggal 29 tapi hilal tidak terlihat; maka puasa tanggal 30 Sya’ban hukumnya makruh. Wallahu A’lam (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/171 & 174)

2. Larangan di dalam hadits berlaku untuk seluruh umat Islam. Walaupun konteks larangan ditujukan kepada Shahabat. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/169)

3. Adanya Rukhshoh (atau keringanan) bagi orang yang rutin (terbiasa) melakukan puasa tertentu, untuk berpuasa pada dua hari terakhir bulan Sya’ban. (Taudhihul-Ahkam 3/132)

4. Lafadz perintah menunjukkan pembolehan, jika konteksnya berlawanan dengan larangan. Misal perintah dalam hadits “lakukanlah puasa tersebut!”, karena perintah tersebut didahului dengan larangan, maka maknanya sekedar pembolehan untuk berpuasa. Wallahu A’lam. (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)

Wallahu A’lamu bisshowab

(Bersambung Insya Allah,…)

 

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/277




PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 1)

—————————

 

HADITS PERTAMA
(Larangan Mendahului Romadhon dengan Puasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ, إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا, فَلْيَصُمْهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan kalian dahului Romadhon dengan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya), kecuali (bagi) seorang lelaki yang rutin melakukan amalan puasa tertentu; lakukanlah puasa tersebut” (Muttafaqun ‘alaih)


TAKHRIJ HADITS:

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori no.1914 , Muslim no.1082-(21), Ahmad no.7200, 8575, 9287, 10184, 10662, 10755, Abu Dawud no.2335, At-Tirmidzi no.685, An-Nasa`i no.2173, 2190, Ibnu Majah no.1650 , dan selain mereka.

MAKNA HADITS

Di dalam hadits ini Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melarang kita (umat Islam) untuk berpuasa sehari atau dua hari menjelang bulan Romadhon, kecuali seseorang yang rutin (*) melakukan amalan puasa tertentu, maka boleh baginya untuk berpuasa pada dua hari tersebut.

(*) Maksud “Rutin” adalah; “Terbiasa melakukan puasa tersebut.” (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin; dalam Fathu Dzil-Jalal 3/169)

Misalnya:

Seorang yang rutin berpuasa tiga hari setiap bulan yang bertepatan dengan tanggal 27, 28, 29 (menjelang Romadhon); maka yang seperti ini tidak mengapa.

Atau Seseorang yang rutin berpuasa Senin-Kamis, dimana hari Kamis nya jatuh pada tanggal 29 Sya’ban; yang seperti ini juga boleh; tidak mengapa.

Atau Puasa Qodho` (membayar hutang puasa Romadhon tahun lalu) tepat sebelum masuk bulan Romadhon; yang seperti ini juga boleh, bahkan hukumnya wajib (Lihat Fathu Dzil-Jalal 3/170)

Wallahu A’lamu bisshowaab

(Bersambung Insya Allah,…)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/275




PEMBAHASAN KITAB SHIYAM DARI BULUGHUL MAROM (Bagian 1)

 

MUKADDIMAH

PENGERTIAN SHIYAM (Puasa)
Di dalam istilah syari’at, Shiyam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari pembatal-pembatalnya (*), sejak terbit fajar Shubuh hingga tenggelamnya matahari.
(*) Pembatal-pembatal shiyam akan dibahas pada tempatnya, insya Allah.

Dalam bahasa Arab, Shiyam (disebut pula dengan Shaum); artinya “menahan”. (Lihat Fathu Dzil-Jalali wal-Ikrom 3/165; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah)

Kata Shiyam dan Shaum, telah tercantum di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia); pada kata (Siam dan Saum) tanpa huruf ‘h’ yang berarti puasa, walhamdulillah.

HUKUM SHIYAM
Adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah (yang telah akil baligh), untuk berpuasa di bulan Romadhon.

Landasan hukumnya adalah perintah Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqoroh ayat 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa,…”

Dan perintah Rasul-Nya,

إِذَا رَأَيْتُمُ الهِلالَ فَصُومُوا

“Jika kalian melihat hilal (bulan Romadhon), berpuasalah kalian!”
(HR. Al-Bukhori no.1900 dan Muslim no.1080, Dari Shahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma; dengan lafadz Muslim)

Bahkan Shiyam Romadhon termasuk rukun Islam yang lima. (Lihat HR. Al-Bukhori no.8 dan Muslim no.16, dari Shahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma)

HUKUM MENINGGALKAN PUASA ROMADHON
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan, “Barangsiapa hidup di tengah-tengah kaum muslimin dan mengingkari kewajiban puasa Romadhon, maka dia telah kafir. Karena dia mengingkari perkara yang telah jelas hukumnya di dalam agama Islam.” (Lihat Al-Fath 3/165)

Para ulama berbeda pendapat, tentang hukum orang yang meninggalkan puasa Romadhon karena tahawun (meremehkan pelaksanaannya). Pendapat yang kuat adalah tidak dikafirkan. (Lihat Al-Fath 3/165-166)

Semoga kita dimudahkan Allah Ta’ala untuk melaksanakan kewajiban Shiyam Romadhon dengan penuh keimanan, mengharap balasan kebaikan dari sisi Allah ‘Azza waJalla. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin

(Bersambung Insya Allah,…)

Ikuti terus pelajaran Kitab Shiyam dari Bulughul Marom di channel ini.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/274

 




Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 15)
——————————————-

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah mengatakan:

بَلْ أَرْسَلَ إِلَيْنَا رَسُولًا (1) ، …

(1) Bahkan Dia (yaitu Allah Ta’ala) mengutus kepada kita seorang rasul (atau utusan).


PENJELASAN:

(1) Setelah kita mengetahui dan meyakini bahwa manusia diciptakan di dunia ini untuk satu tujuan mulia; yaitu ibadah.

Maka penjelasan berikutnya adalah: Untuk tujuan mulia ini, Allah ‘Azza waJalla tidak akan membiarkan umat manusia begitu saja tanpa bimbingan. Sehingga diutuslah seorang rasul untuk membimbing mereka, agar bisa beribadah dengan cara yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah ‘Azza waJalla.

Para pembaca –yang dirahmati Allah-, Yang namanya ibadah, pelaksanaannya bukan berdasarkan “prasangka” ataupun “kata orang”. (Menurut prasangka saya amalan ini baik, atau kata Fulan dan ‘Allan amalan ini baik).

Namun, pelaksanaan ibadah harus sesuai dengan petunjuk dan bimbingan para rasul yang diutus kepada kita. Disamping tugas mereka untuk melarang umat manusia dari kesyirikan dan kekufuran. Mereka juga bertugas menyampaikan tata cara ibadah yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah ‘Azza waJalla.

Oleh karena itu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam menegaskan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718-18)

Kesimpulannya: Ibadah harus bersifat “tauqifiyyah” (Artinya harus sesuai dengan perintah dan bimbingan para Rasul –‘alaihimus Salam-).

Kemudian, bid’ah (perkara baru yang di ada-adakan, yang tidak pernah diperintahkan dalam agama) harus disingkirkan, khurofat (cerita dongeng legenda) juga harus ditolak, taqlid buta (mengikuti pendapat atau paham seseorang tanpa mengetahui dasar atau dalilnya) juga harus dibuang jauh-jauh. Wabillahit-taufiq

Adapun maksud “Seorang Rasul” dalam penjelasan Asy-Syaikh Rohimahullah adalah Nabi kita Muhammad Shollallahu ‘alaihi waSallam; penutup para nabi.

Beliau diutus untuk menjelaskan tujuan penciptaan kita, menjelaskan tata cara ibadah yang baik kepada Allah ‘Azza waJalla, serta melarang kita dari kesyirikan, kekafiran, dan kemaksiatan. Beliau telah menyampaikan misi tugas kerasulannya dengan jelas, menunaikan amanah, menasehati kita umat manusia, menjelaskan kepada kita dengan penjelasan yang jelas gamblang, bagaikan jalan yang terang, malam harinya seperti siang. Jika ada orang yang menyimpang darinya pasti akan celaka.

Wallahu A’lamu bisshowaab.

(Disadur dari kitab Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal. 45-47; karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhohullah)

 

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

 

Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/268




Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 14)

———————————————

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah menjelaskan:

وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلا (1) ،…

(1) Dan Dia (yaitu Allah Ta’ala) tidak membiarkan kita begitu saja.

———————

PENJELASAN:

(1) Penjelasan Asy-Syaikh Rohimahullah di atas semakna dengan firman Allah Ta’ala di dalam surat Al-Qiyamah ayat 36, yang berbunyi;

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja.”

Karena makna kata “Sudan” di dalam ayat tersebut sama dengan makna kata “Hamalan”, sebagaimana dijelaskan oleh Shahabat Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma (Lihat Tafsir Ath-Thobari 24/83)

Zhohir makna ayat tersebut mencakup dua keadaan manusia:

Keadaan Pertama: Di dunia; tidak dibiarkan tanpa perintah dan tanpa larangan, (Sebagaimana penafsiran dari Imam Mujahid dan Asy-Syafi’i).

Keadaan Kedua: Di kuburannya; tidak dibiarkan (begitu saja menjadi tanah) tanpa dibangkitkan, (Sebagaimana penafsiran dari Imam As-Suddiy). (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/283)

Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah menjelaskan, bahwasanya ada hikmah yang agung tatkala Allah Ta’ala menciptakan kita -umat manusia-, termasuk (tatkala menciptakan) rezeki dan kemampuan untuk mengaisnya. Hikmah tersebut adalah agar kita beribadah (hanya) kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat:56) (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.43)

Artinya Allah ‘Azza waJalla menciptakan kita dan memberikan rezeki-Nya kepada kita bukan untuk main-main atau suatu perkara yang sia-sia. Namun untuk perkara yang agung yaitu; beribadah kepada-Nya, taat dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Karena Ibadah adalah taat kepada Allah, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir Rohimahullah. (Lihat Fathul Majid hal.14)

Jangan sampai umat manusia seperti binatang yang diciptakan hanya untuk kemanfaatan umat manusia, kemudian (setelah) mati akan pergi sirna (tanpa pertanggung jawaban). Karena mereka diciptakan tanpa dibebani syari’at, (artinya) mereka tidak diperintah dan tidak dilarang. (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.43)

Semoga kita bisa menggunakan kehidupan kita serta rezeki yang Allah anugerahkan kepada kita untuk menggapai keridhoan-Nya. Aamiin ya Robbal ‘Aalaamiin

Wallahu A’lamu bis-Showab

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

Dirangkum oleh: Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.

—————–

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/259




Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah mengatakan:

1 ورزقنا

(1) Dan (Dia lah Allah) yang telah memberikan rezeki kepada kita.


PENJELASAN:
(1) Pada kesempatan kali ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah menerangkan kepada kita bahwa Pemberi rezeki yang memberikan rezeki kepada semua makhluk termasuk kita –umat manusia-; adalah Allah ‘Azza wa Jalla.

Hal ini harus diyakini oleh setiap muslim dan muslimah.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan bahwa dalil-dalil dari Al-Qur’an tentang permasalahan ini cukup banyak, di antaranya:

  • Surat Adz-Dzariyat ayat:58, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”

  • Surat Saba’ ayat 24, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللهُ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.”

  • Surat Yunus ayat 31, Allah Ta’ala berfirman; 

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” ”

Adapun dalil dari As-Sunnah, di antaranya hadits tentang janin (atau bakal bayi);
Dalam hadits itu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengkhabarkan bahwa tatkala janin berumur 120 hari (sekitar 4 bulan), Allah Ta’ala mengutus kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh dan mencatat empat takdir; tentang rezeki, ajal (kematian), amal perbuatan, nasib bahagia atau celaka. (HR. Al-Bukhori no.3208, dan Muslim no.2643-1)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah juga menambahkan, bahwa disamping dalil-dalil naqli tadi terdapat dalil-dalil aqli (yang bersifat logika; bisa masuk di akal);

  • Yaitu kehidupan kita –umat manusia- yang tidak akan bisa bertahan kecuali dengan makan dan minum.
  • Kita perlu ingat, bahwa pencipta semua makanan dan minuman itu adalah Allah ‘Azza waJalla. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Waqi’ah 63-70; Artinya:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam (63); Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? (64); Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang. (65); (Sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian” (66); bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa (67); Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum (68); Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? (69); Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (70) ”

Di dalam ayat-ayat ini jelas tergambarkan bahwa rezeki yang kita dapatkan -berupa makanan dan minuman- merupakan karunia dari sisi Allah ‘Azza waJalla. (Syarah Tsalatsatil-Ushul hal. 30-31)

Oleh karena itu, hendaknya karunia tersebut bisa membantu kita untuk melakukan kewajiban yang telah digariskan menjadi tujuan penciptaan kita, yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu waTa’ala.” (Lihat Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.42; karya: Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah).

Semoga bermanfaat

Wallahu A’lamu bisshowab

Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah

 

Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta’ala.

—————-

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————-

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/251