MENYIA-NYIAKAN UMUR

MENYIA-NYIAKAN UMUR

Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata,

مَنْ عَلِمَ أَنَّ الْعُمْرَ بِضَاعَةٌ يَسِيرَةٌ يُسَافِرُ بِهَا إِلَى الْبَقَاءِ الدَّائِمِ فِي الْجَنَّةِ لَمْ يُضَيِّعْهُ

“Barangsiapa mengetahui bahwasanya umur merupakan perbekalan yang sedikit untuk bersafar menuju tempat kekekalan abadi di surga, niscaya dia tidak akan menyia-nyiakannya .”


Sumber: Hifzhul ‘Umr (hal.58)
Oleh Tim Warisan Salaf

———————

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

———————

Link Telegram: https://telegram.me/warisansalaf/246




ILMU AGAMA JAUH LEBIH UTAMA DARIPADA MENGINFAKKAN HARTA

ILMU AGAMA JAUH LEBIH UTAMA DARIPADA MENGINFAKKAN HARTA

Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

فالعلم أفضل بكثير من المال حتى لو تصدق الإنسان بأموال عظيمة طائلة فالعلم ونشر العلم أفضل . [ شرح رياض الصالحين ٤٣٦/٥]

“Ilmu jauh lebih banyak keutamaannya dibanding harta, walapun seseorang berinfak dengan harta yang sangat banyak, tetap saja ilmu dan penyebaran ilmu masih lebih utama.”

Sumber: Syarah Riyadhusshalihin 5/436.

Diterjemahkan oleh: Al-Ustadz Fathul Mujib Hafizhahullahu Ta’ala

———————–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

———————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/245




ORANG TUA MENJADI TELADAN BAGI KELUARGANYA

ORANG TUA MENJADI TELADAN BAGI KELUARGANYA

 

Al-Fudhail bin Iyadh (W 187H) rahimahullah berkata,

“Malik bin Dinar melihat seorang laki-laki yang jelek shalatnya. Lalu ia berkata,

«مَا ارْحَمْنِي بِعِيَالِهِ»

‘betapa kasihannya aku terhadap keluarganya.’

Maka ada yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Yahya (yakni Malik bin Dinar,pen), orang ini yang shalatnya jelek tapi engkau mengasihani keluarganya?”

Beliau menjawab,

«إِنَّهُ كَبِيرُهُمْ وَمِنْهُ يَتَعَلَّمُونَ»

“Sesungguhnya ia adalah pemimpin mereka dan darinyalah mereka belajar.”

 

 

Sumber: Hilyatul Auliya (2/383)
Oleh Tim Warisan Salaf
———————
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

——————–

Link Telegram: https://telegram.dog/warisansalaf/239




WASIAT IMAM MALIK KEPADA MURIDNYA YANG AKAN PERGI

 WASIAT IMAM MALIK KEPADA MURIDNYA YANG AKAN PERGI

 

Kholid bin Khidasy Rahimahullah berkata,

وَدَّعْتُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ فَقُلْتُ: أَوْصِنِي يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَطَلَبُ الْحَدِيثِ مِنْ عِنْدِ أَهْلِهِ

“Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Malik bin Anas. Aku berkata kepadanya, ‘berilah aku wasiat, wahai Abu Abdillah”

Beliau berkata, “(hendaknya engkau) bertakwa kepada Allah dan mencari hadits dari sisi ahlinya.”

 

 

Sumber: Hilyatul Auliya (6/319)
Oleh Tim Warisan Salaf

—————————
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————————

Link Teleram: https://telegram.dog/warisansalaf/234




MENYEMANGATI ANAK UNTUK MENUNTUT ILMU DAN MENCATAT PELAJARAN 2

MENYEMANGATI ANAK

UNTUK MENUNTUT ILMU DAN MENCATAT PELAJARAN 2

Az-Zubair bin Bakkar rahimahullah (256H) berkata,

“Bapakku menulis surat kepadaku, ia berkata, ‘wahai anakku, wajib atasmu (menuntut) ilmu. Karena sesungguhnya, demi Allah ilmu itu lebih baik bagimu daripada warisan bapakmu.” (Al-Madkhal Ila As-Sunanil Kubro no.399)

 

Dari Tsumamah bin Abdillah bin Anas, ia berkata,

“Bahwasanya Anas Radhiallahu ‘anhu dahulu berpesan kepada anak-anaknya, ‘wahai anakku, ikatlah ilmu dengan catatan.” (HR. Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu no.120)

Oleh Tim Warisan Salaf

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

 

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/233




MENYEMANGATI ANAK UNTUK MENUNTUT ILMU DAN MENCATAT PELAJARAN 1

MENYEMANGATI ANAK

UNTUK MENUNTUT ILMU DAN MENCATAT PELAJARAN 1

Mu’tamir bin Sulaiman (187 H) rahimahullah berkata,

كتب إلي أبي، وأنا بالكوفة: «يا بني اشتر الورق واكتب الحديث؛ فإن العلم يبقى والدنانير تذهب

“Bapakku (yakni Sulamain bin Tharkhan,pen) menulis surat kepadaku ketika aku di Kufah, ‘wahai anakku, belilah kertas dan catatlah hadits. Karena sesungguhnya ilmu akan tetap ada sementara dinar-dinar akan hilang.” (Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi no.292)

Oleh Tim Warisan Salaf

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/232




ULAMA SALAF DAN MEMBACA AL-QUR’AN

ULAMA SALAF DAN MEMBACA AL-QUR’AN

 

Husein Al-‘Anqazi Rahimahullah berkata,

لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ المَوْتُ، بَكَتْ بِنْتُهُ. فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ القُرْآنَ فِي هَذَا البَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَفِ ختمة.

“Tatkala Abdullah bin Idris akan meninggal, putrinya pun menangis. Maka ia berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau menangis, wahai puteriku. Karena sungguh aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an di rumah ini sebanyak empat ribu kali.”

 

  • Abdullah bin Idris bin Yazid adalah seorang imam, al-hafizh, al-muqri’, panutan, dan syaikhul Islam.
    Beliau merupakan guru dari Abdullah bin Mubarak, Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, dan selain mereka.

 

Sumber:  Siyar A’lam An-Nubala (7/499)
Oleh: Tim Warisan Salaf
………………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/230




MENGAMBIL ILMU DARI AHLUSSUNNAH

MENGAMBIL ILMU DARI AHLUSSUNNAH

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda,

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Akan muncul pada akhir jaman sekelompok manusia yang akan menceritakan hadits kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian mendengarnya demikian juga bapak-bapak kalian. Maka berhati-hatilah kalian dari mereka.” (HR. Muslim no.6)

Al-Imam Al-Baghawi Rahimahullah menyebutkan kesepakatan ulama salaf dalam memboikot ahlul bid’ah, beliau berkata,

وَقَدْ مَضَتِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ وَأَتْبَاعُهُمْ، وَعُلَمَاءُ السُّنَّةِ عَلَى هَذَا مُجْمِعِينَ مُتَّفِقِينَ عَلَى مُعَادَاةِ أَهْلِ الْبِدْعَةِ، وَمُهَاجَرَتِهِمْ

“dan telah berlalu para shahabat, tabi’in, dan pengikut mereka, serta ulama sunnah atas perkara ini, yaitu mereka bersepakat untuk memusuhi ahlul bid’ah dan memboikot mereka.” (Syarhus Sunnah 1/227)

Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata,

 

“Tiga (jenis manusia) yang tidak diambil (ilmunya) dari mereka, yaitu:

  1. Orang yang tertuduh melakukan kedustaan
  2. Pelaku kebid’ahan yang menyeruh kepada bid’ahnya
  3. dan seseorang yang cenderung keliru dan salah

 

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,

“Semoga Allah menghinakan al-Karobisi, tidak boleh dijadikan teman duduk, tidak boleh diajak bicara, tidak boleh disalin kitab-kitabnya, dan kami tidak duduk bersama orang yang duduk dengannya.”

Abdul Wahhab Al-Khaffaf rahimahullah berkata,

“Aku melewati Amr bin Ubaid (tokoh mu’tazilah,pen) sedang duduk sendirian.

Maka aku bertanya kepadanya, ‘apa yang terjadi denganmu sehingga manusia meninggalkanmu?’
Ia menjawab, ‘Ibnu ‘Aun (ulama sunnah,pen) telah melarang manusia dariku, maka mereka pun pergi (meninggalkanku).” (Mizanul I’tidal 3/274)

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata,

“Barangsiapa mendengar dari ahli bid’ah, maka Allah tidak akan memberi manfaat dengan apa yang ia dengar. dan barangsiapa berjabatan tangan dengannya, maka sungguh ia telah melepas Islam seutas demi seutas.” (Al-Jami’ Li AKhlaqi Ar-Rawi 1/138 hal.163)

Al-Qahthani rahimahullah berkata dalam bait syar’irnya,

Tidaklah berteman dengan ahli bid’ah kecuali orang yang sepertinya …

di bawah asap ada api yang berkobar..

Oleh karena itu, janganlah mengambil ilmu dari ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang atau memiliki penyakit di dalam hatinya. Karena mengambil ilmu dari mereka akan mewariskan penyimpangan dari al-haq baik disadari ataupun tidak.

Bundar Ibnul Husein rahimahullah berkata, “Berteman dengan ahli bid’ah akan mewariskan berpalingnya dari kebenaran.” (As-Siyar 16/106)

Sehingga, jangan pedulikan orang yang mengatakan “aku akan mengambil ilmu dari siapa pun” atau “aku akan mengambil yang baiknya saja, adapun yang jelek aku tinggalkan”

 

Sebenarnya, mereka sedang mempertaruhkan hidayah yang telah Allah berikan kepada mereka.. Allahul musta’an

 

Semoga bermanfaat
Referensi: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi (hal.24-28)
Oleh: Tim Warisan Salaf
———–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

———–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/229




ULAMA SALAF SAJA MENCATAT ILMU.. MENGAPA KITA TIDAK?

ULAMA SALAF SAJA MENCATAT ILMU.. MENGAPA KITA TIDAK?

Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata,

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ

“Tidak ada seorang pun dari shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang paling banyak haditsnya dari aku, kecuali Abdullah bin Amr, karena ia dahulu menulis sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Al-Bukhari no.113)

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata,

إذا سمعت شيئا فاكتبه ولو في الحائط

“Apabila engkau mendengar sesuatu (dari ilmu) maka tulislah walaupun di atas tembok.” (HR. Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu no.146)

Ma’mar bin Rasyid rahimahullah berkata,

“Aku menceritakan kepada Yahya bin Abi Katsir beberapa hadits. Maka ia berkata kepadaku, ‘tuliskanlah untukku hadits ini dan hadits ini’

Aku menjawab, “Sesungguhnya kami tidak menyukai menulis ilmu.’

Ia berkata, “Tulislah, karena sesungguhnya engkau jika tidak menulisnya maka sungguh engkau telah menyia-nyiakan (hadits tersebut).”

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata,

“Aku bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarak tentang menulis ilmu.

Maka beliau menjawab, “Seandainya bukan karena kitab (buku catatan ilmu,pen) niscaya kami tidak hafal.” (As-Siyar 8/409)

Keadaan mereka yang memiliki hafalan yang kuat dan kecerdesan saja sangat bersemangat mencatat ilmu dan menasehatkan kepada para muridnya untuk mencatat. Lalu bagaimana dengan kita??

Referensi: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi (hal.138)
Oleh: Tim Warisan Salaf
—————-
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————-

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/223




NIKMAT AGAMA LEBIH PATUT UNTUK DISYUKURI DARIPADA NIKMAT DUNIA

NIKMAT AGAMA LEBIH PATUT UNTUK DISYUKURI DARIPADA NIKMAT DUNIA

 

Salam bin Abi Muthi’ rahimahullah berkata,

كُنْ لِنِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكَ فِي دِينِكَ أَشْكَرُ مِنْكَ لِنِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكَ فِي دُنْيَاكَ

“Jadilah engkau terhadap nikmat Allah atasmu dalam urusan agamamu lebih bersyukur daripada nikmat Allah atasmu dalam urusan duniamu.”

Abu Sa’id Sallam bin Abi Muthi’ Al-Bashri merupakan seorang Imam yang kokoh dan panutan. Beliau mengambil ilmu dari Qatadah, Ayyub As-Sakhtiani, Hisyam bin Urwah, dan selain mereka. Di antara murid beliau adalah Abdull bin Al-Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi, dan selain keduanya.
Imam Ahmad berkata, “Ia adalah seorang yang kuat dan shahibu sunnah.”

(Siyar A’lam An-Nubala’ 7/96)

Sumber: Hilyatul Auliya (6/188)
Dikumpulkan oleh: Tim Warisan Salaf

—————-

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————-

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/222