SEPENGGAL KISAH SHAHABAT

(Abu Darda Shahabat Yang Zuhud dan Rajin Ibadah)

Perhatian Terhadap Keluarga
Imam Al-Bukhori Rohimahullah menyebutkan dalam kitab Shohih-nya hadits nomer 1968 dan 6139:

Alkisah, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara shahabat Salman Al-Farisi dan Abu Darda’ (*).

(*) Penulisan aslinya Abu Ad-Darda’; kami hapus imbuhan “ad” atau “alif lam” pada kata “Darda’” agar lebih mudah dalam penyebutan; menjadi Abu Darda’.

Pada suatu ketika Salman datang mengunjungi Abu Darda’, dan melihat Ummu Darda’ mengenakan pakaian kumal (tidak bagus) yang biasa dikenakan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.

(Zhohir kisah ini terjadi sebelum turun ayat tentang perintah hijab, wallahu a’lam. Lihat penjelasan Asy-Syaikh Zaid Al-Madkholi di pelajaran Syarhus-Sunan bag.1, http://goo.gl/LFJQGS

Shahabat Salman lantas bertanya kepada Ummu Darda’, “Kenapa keadaanmu (demikian)?”

“Sungguh, saudaramu itu sudah tidak butuh lagi kepada dunia.” jawab Ummu Darda’.

(Ummu Darda’ menceritakan perihal suaminya, dengan harapan agar bisa menasehatinya).

Tak lama kemudian, datanglah Abu Darda’ menghidangkan jamuan untuk saudaranya. Dalam keadaan dirinya sedang berpuasa.

“Makanlah!” seru Salman kepada saudaranya.

“Aku sedang berpuasa”, jawab Abu Darda’.

“Aku tidak akan makan sampai engkau memakannya”. Ujar Salman menimpali.

Akhirnya, Abu Darda’ pun ikut memakan hidangan itu bersama sang tamu.

Ketika malam telah tiba, Shahabat Salman bermalam di rumah Abu Darda’, Dengan harapan semoga dirinya bisa menasehati saudaranya tersebut.

Di awal malam, Abu Darda’ melakukan kebiasaan sholatnya. Namun tiba-tiba Salman menyuruhnya untuk tidur. Abu Darda’ pun menurut untuk tidur.

Tak lama kemudian, Abu Darda’ bangun lagi hendak melakukan sholat. Namun lagi-lagi Salman menyuruhnya untuk tidur.

Hingga tibalah waktu malam yang terakhir, Salman membangunkan Abu Darda’ untuk sholat. Keduanya pun melakukan sholat malam.

(Saat itulah untaian nasehat Salman terucap untuk saudaranya dengan penuh keikhlasan mengharap kebaikan)

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ.

“Sungguh, Robb-mu memiliki hak yang wajib engkau tunaikan, tubuhmu juga punya hak yang wajib engkau penuhi, keluargamu juga memiliki hak yang harus engkau berikan (kepada mereka). Maka, berikanlah hak-hak tersebut kepada pemiliknya.”

Setelah selesai dari sholat Shubuh, Abu Darda’ memberitahukan perkara tadi malam kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waSallam. Beliau mengatakan, “Salman berkata benar.”

[Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori no.1968, 6139, Ibnu Hibban di dalam Shohihnya no.320 ,dan selainnya]

Wallahu A’lamu bis-Showab

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/263




Sebuah pertanyaan diajukan kepada Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah, “Wahai samahatus syaikh betapa seringnya kami mendengar tentang (kitab) Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, tetapi kami tidak tahu apa maknanya. Apakah yang dimaksud dengannya adalah aqidah yang benar atau apakah yang dimaksud dengannya? Mohon arahannya untuk pertanyaan kami ini dan kami merupakan sekumpulan para penuntut ilmu.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz menjawab, “Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah merupakan kitab yang ditulis oleh Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah Al-Harrani yang dijuluki sebagai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan juga dijuluki sebagai Taqiyuddin. Beliau dilahirkan pada tahun 661 H dan wafat pada tahun 728 H. Beliau bagian dari para Imam mujtahid dan dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, dan beliau bagian dari para Imam Ahlussunnah wal Jama’ah semoga Allah merahmati mereka semuanya.

Beliau memiliki karya tulis yang banyak, di antaranya ialah Minhajus Sunnah sebagai bantahan atas Mu’tazilah dan Syi’ah Rafidhah, juga kitab Iqthida’ Ash-Shirothol Mustaqim fii Mukhalafati Ashabil Jahim, juga kitab beliau Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah.

Dinamakan dengan Al-Wasithiyah karena kitab ini ditulis untuk penduduk Wasith di negeri Iraq. Beliau menulisnya untuk mereka sehingga disebut Al-Wasitiyah. Beliau menulisnya kepada sekelompok orang yang bertanya kepada beliau dari penduduk daerah Wasith sehingga disebut Al-Wasithiyah.

Beliau juga memiliki tulisan lain dalam bidang ‘Aqidah yang diberi judul Al-Hamawiyah, beliau menulisnya untuk penduduk negeri Hamah di Syam.

Dan beliau juga punya kitab lain yang ketiga tentang Sifat Allah yang diberi judul At-Tadmuriyyah, beliau menulisnya untuk penduduk Tadmur di Syam.

Inilah sebab penamaan Wasithiyyah, dikarenakan ia merupakan kitab aqidah yang beliau tulis kepada penduduk wasith. Sedangkan Hamawiyah adalah aqidah yang beliau tulis kepada penduduk Hamah, dan Tadmuriyah kitab aqidah yang beliau tulis kepada penduduk Tadmur.

Ini merupakan tiga kitab yang agung pada kitab Ahlussunnah wal Jama’ah dan bermanfaat, kami wasiatkan agar membacanya dan mengambil faedah darinya.

Sumber: Syabakah Al-Ajury

Download suara: disini

 

ADMIN WARISAN SALAF




Bismillahirrahmanirrohim

KABAR TENTANG PARA MUALLAF

Pada akhir bulan Muharram 1435 H yang lalu, ada seorang teman dari Poso mengabarkan   tentang masuk islamnya beberapa orang suku terasing di Desa Dongkalan Kecamatan Palasa Kabupaten Parigi Moutong (PARIMO) Sulawesi Tengah. Mereka adalah suku terasing Lauje atau yang lebih dikenal oleh warga setempat dengan sebutan “Orang Bela”. Walaupun Bapak Bupati PARIMO lebih menganjurkan untuk memanggil mereka dengan sebutan “Orang La Uje Asli”, agar lebih menghargai mereka. Karena kegiatan misionaris Canada (Amerika), mayoritas mereka sudah di kristenkan. Mereka mendiami pegunungan Pantai Timur (istilah untuk wilayah pesisir timur provinsi Sulawesi Tengah). Alhamdullillah ada beberapa orang dari mereka yang tersentuh hidayah untuk memeluk Islam, sehingga mereka pun menjadi muallaf.

Para muallaf ini sangat membutuhkan bimbingan demi memperkuat keimanan mereka. “ Kami tidak ingin berislam sekedar islam KTP”, kata salah satu muallaf. Akan tetapi sayang, mereka belum mendapatkan penanganan serius. Kondisi ini sangat di khawatirkan membuat mereka akan kembali lagi kepada kekafiran. Karena sudah banyak warga muallaf yang tidak terbina, akhirnya mereka pun murtad kembali.

 

PERJALANAN MENUJU KAMPUNG MUALLAF

8Mendengar berita masuk Islamnya beberapa orang suku terasing tersebut, sejumlah da’i  Ahlus Sunnah di Poso dan Palu, merasa terpanggil untuk berangkat menemui para muallaf tersebut. Jarak dari Poso menuju menuju kecamatan Palasa itu sekitar 300 km, kalau dari palu sekitar 200 km. Rombongan Poso sepakat untuk bertemu dengan rombongan Palu di kota Parigi, lalu mereka bersama-sama menuju kecamatan Palasa.

Dengan bermodalkan nomor HP, pada pukul 14.30 WITA rombongan pun meluncur dari Parigi menuju tempat tinggal para muallaf tersebut. Pada pukul 18.30 WITA rombongan sudah tiba di desa Dongkalan. Kemudian rombongan langsung di sambut ramah oleh Pak Arsyad (yang lebih akrab disapa Pak Acat). Seorang warga desa Dongkalan yang sering berinteraksi dengan orang-orang Bela. Dari Pak Acat inilah informasi awal tentang para muallaf ini didapat.

 

BEBERAPA ORANG BELA MENJADI MUALLAF

Setiap hari sabtu (hari pasaran Dongkalan) beberapa Orang Bela selalu turun membawa barang dagangan dari gunung, seperti kayu manis, rotan, bawang merah dan hasil bumi lainnya untuk di jual di pasar. Uang yang didapat, mereka pakai untuk membeli ikan asin, garam, minyak goreng dan keperluan lainnya.

Sehari sebelum hari pasar, banyak orang bela yang turun dan berinteraksi dengan kaum muslimin, termasuk pak Arsyad. Dengan sebab interaksi tersebut, sebagian mereka akhirnya masuk islam. Mereka memilih masuk Islam tanpa paksaan. Mereka pun masuk Islam dengan dibimbing Pak Imam Masjid setempat mengucapkan dua kalimat syahadat lalu dimandikan oleh Pak Imam Masjid. Sebagian mereka juga masuk Islam lantaran pernikahan mereka dengan beberapa warga muslim di sekitar desa Dongkalan.

Akan tetapi setelah keislaman tersebut, mereka tidak mendapatkan pembinaan lanjutan dari tokoh setempat, sehingga keadaan mereka sangat memprihatinkan. Kebanyakan mereka belum mengerti  sholat, puasa dan amal ibadah lainnya. Ada yang sudah masuk Islam sejak satu atau dua tahun lalu, akan tetapi masih belum mengerti shalat, puasa dan dasar-dasar Islam lainnya. Bahkan penulis menemui, ada seorang yang masih terbata-bata dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. “Kami baru bersyahadat satu kali saja pak“ ujar salah satu muallaf. Jumlah para muallaf  desa Dongkalan hingga sekarang ada 18 keluarga atau sekitar 60 jiwa, yang semuanya membutuhkan bimbingan. Kehidupan mereka yang di bawah garis kemiskinan membuat mereka sangat rawan untuk kembali murtad keajaran agama nasrani.

 

SEORANG MANTAN PENGINJIL YANG MENJADI MUALLAF9

Setibanya rombongan di rumah pak Acat, beliau langsung menelepon salah satu muallaf untuk turun kerumah beliau. Sepulang dari Sholat Isya, rombongan sudah mendapati dua orang duduk di teras rumah pak Acat. Mereka langsung menyalami  keduanya, Pak Andi dan Pak Asmin namanya. Pak Andi adalah seorang mantan Penginjil yang baru satu pekan masuk islam.

Beliau sempat mengenyam pelatihan Penginjil di Manado selama sebulan. Dahulu pak Andi berganti-gantian memimpin kebaktian jemaat Solongan bersama pendeta. Karena beliau lancar berbahasa Indonesia, juga pandai baca tulis, maka beliau sering mendampingi para tamu dari kalangan pendeta dan tokoh nasrani yang datang ke dusun Solongan.

Adapun pak Asmin, beliau sudah berislam sejak lahir, hanya saja isteri beliau adalah seorang muallaf. Dalam kesempatan berjumpa dengan muallaf itu salah seorang rombongan menawarkan untuk menyampaikan beberapa ajaran Islam. Keduanyapun mengiyakan. Maka sambil berbincang santai, salah seorang diantara mereka menyampaikan makna dua kalimat syahadat secara ringkas, juga rukun islam lainnya, tata cara bersuci dan beberapa adab Islam lainnya.

Dua orang tersebut mendengarkan dengan seksama. Bahkan pak Andi sempat merekam beberapa penjelasan tersebut dengan HP-nya. Dengan harapan bisa didengar ulang nanti di rumahnya. Kemudian mereka  menyampaikan kepada pak Andi, rencana akan naik ke gunung besok pagi Insya Allah. Rencana tersebut di sambut baik Pak Andi, bahkan beliau meminta diadakan pengajaran Islam di gunung untuk warga muallaf lainnya.

Tidak beberapa lama, datanglah Pak Sekdes dan Pak Ketua P2N, maka pembicaraan beralih ke topik kondisi orang-orang Bela. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul; 22.30 Wita, maka kedua orang bela tersebut berpamitan untuk pulang kerumahnya di gunung.

 

SEMANGAT BELAJAR SEORANG MUALLAF

Walaupun malam mulai larut, pak Andi dan pak Asmin tetap berangkat pulang ke gunung. Dengan menaiki sebuah motor bebek, keduanya menaiki jalan terjal di kegelapan malam sejauh 8 km untuk sampai di rumahnya. Setibanya di rumah, pak Andi bukannya langsung tidur, akan tetapi malah membangunkan keluarganya yang sudah tertidur. “Bangun-bangun, ini ada rekaman pelajaran agama islam dari Pak Ustad.7 Mari kita dengarkan!” Akhirnya mereka pun bangun dan mendengarkan rekaman tersebut. Pak Andi mengatakan. “Kami mengulang-ulang mendengarkan rekaman tersebut hingga jam 2 malam, baru kami tidur.“ (Waktu itu isteri pak Andi masih  Nasrani, dengan ijin Allah beberapa pekan kemudian masuk islam walhamdulillah). Masya Allah, demikianlah semangat seorang muallaf yang ingin mengetahui ajaran islam. Semoga Allah mengokohkan iman pak Andi sekeluarga.

Besok harinya, masih pagi-pagi sekali, Pak Andi dan Pak Asmin berjalan naik turun bukit untuk menyampaikan undangan ta’lim kepada para muallaf lainnya yang akan dilaksanakan di Ruang Kelas SD terpencil Punsung Lemo.

 

TA’LIM BERSAMA PARA MUALLAF

Pagi harinya, sekitar jam 08.00 Wita, rombongan naik ke SD Punsung Lemo guna bertemu 4langsung dengan para muallaf. Perjalanan ke sana dengan menggunakan motor ojek. Mengingat medan yang terjal, dengan tinggi gunung sekitar 1500 meter di atas permukaan laut dan jarak yang lumayan jauh, yaitu 8 km, maka tarifnya pun menyesuaikan. Untuk pulang pergi tukang ojek memasang tarif Rp. 70.000-, untuk sekali antar Rp. 40.000-. Setelah menaiki banyak tanjakan, tak terlihat perkumpulan rumah layaknya perkampungan. Akan tetapi yang terlihat rumah-rumah yang terpencar diantara kebun yang terjal. Jarang sekali didapati tanah yang rata. Itulah tempat tinggal mereka, layaknya gubuk-gubuk tempat beristirahat dikebun. Hanya saja mereka telah mendapatkan bantuan dari pemerintah, sehingga atapnya sudah terbuat dari seng dan dindingnya papan. Adapun rumah mereka yang masih asli berdindingkan kulit kayu dan beratapkan daun rotan, dalam keadaan tidak menggunakan paku tapi diikat dengan rotan. Akhirnya rombongan tiba di SD Terpencil Punsung Lemo. Terlihat sekumpulan warga yang berjalan menaiki bukit. Merekalah para muallaf yang hendak menghadiri ta’lim di SD Punsung Lemo. Diantara mereka juga ada warga Bela yang memang sudah muslim sejak lahir. Tidak lama merekapun masuk ke ruangan kelas untuk mendengarkan ta’lim. Disampaikan saran, agar jama’ah wanita dipisah di ruang sebelahnya, dan merekapun memahaminya. Sementara anak-anak mereka bermain di halaman sekolah. Kemudian ta’limpun di mulai, salah satu dari rombongan menyampaikan beberapa materi kajian islam : Makna dan Keutamaan dua kalimat syahadat, rukun islam, tata cara thaharah, berwudhu, tata cara sholat dan beberapa adab islam lainnya. Setiap 4 atau 5 menit penyampaian materi, Pak Andi menerjemahkannya ke bahasa Lauje, karena memang kebanyakan mereka belum paham Bahasa Indonesia.

Alhamdulillah mereka mendengarkan dengan seksama. Seusai ta’lim, salah satu dari rombongan membagi-bagi mie instan kepada muallaf.

 

KRISTENISASI DI KEC. TINOMBO, KEC PALASA DAN SEKITARNYA

Menurut warga, misionaris dari Canada Amerika sudah melakukan misi kristenisasi di Pantai Timur sejak sekitar tahun 40-an. Awal mulanya ada beberapa penginjil bule yang datang ke kecamatan Tinombo (sebelah kec. Palasa). Mereka meminta salah seorang guru bahasa inggris di sebuah sekolah setempat untuk menuliskan kamus Inggris-Lauje. Akhirnya mereka menguasai bahasa Lauje. Mereka kemudian menerjemahkan injil ke dalam bahasa lauje. Para penginjil Canada tersebut tinggal bertahun-tahun di pegunungan suku terasing La uje. Dahulu mereka sempat menggunakan helikopter untuk menjangkau daerah-daerah terpencil dalam menjalankan misi kristenisasi. (Alhamdulillah, sekarang helikopter tersebut sudah tidak terlihat lagi, wallahu a’lam apa sebabnya). Setelah itu mereka mulai mendekati beberapa tokoh dan kepala suku orang Bela. Dengan diiming-imingi pakaian dan makanan mereka berhasil mengkristenkan tokoh-tokoh orang Bela tersebut. Ketika kepala sukunya sudah masuk Kristen, maka dengan mudah masyarakatnya pun ikut masuk Kristen. Lebih-lebih mereka juga membagi-bagikan beras dan pakaian kepada masyarakat gunung tersebut.

Beberapa kepala suku yang berhasil mereka rekrut ada yang dikirim ke Canada, Amerika. Akhirnya kepala suku tersebut menjadi pendeta dan penginjil di gunung. Beberapa Pemuda/pemudi orang Bela juga mereka kirim ke Perguruan Theology, seperti ke Manado, Tentena (Poso) atau tempat lainnya, yang akhirnya mereka pulang menjadi pendeta di gunung.

 

PEMBANGUNAN GEREJA ILEGAL

Sekitar 3 tahun lalu, masyarakat Desa Dongkalan sedang disibukkan dengan kerja bakti membangun pasar Dongkalan. Mereka hampir tidak pernah naik ke kebun di gunung. Ternyata secara diam-diam, para penginjil Pantekosta di dusun Pungsu membangun sebuah gereja, tanpa seijin pemerintah dan warga setempat. Warga dikagetkan dengan adanya undangan kebaktian dari seorang pendeta perempuan bernama Selvi. Warga bertambah kaget lagi ketika jemaat gereja yang datang itu ternyata dari luar daerah, seperti dari tentena (Poso), Bondoyong (Tinombo), dan Manado.

Warga sangat tersinggung dengan perbuatan para penginjil tersebut. Spontan warga langsung naik ke gunung dan merobohkan gereja illegal tersebut. Konon kabarnya, gereja tersebut adalah gereja terbesar di kecamatan tersebut. Tidak lama kemudian Pak Danramil, Pak Camat dan Pak Kades naik ke lokasi. Mereka juga menyalahkan tindakan para penginjil tersebut yang membangun gereja tanpa izin Pemerintah dan warga setempat.

 

AKHIRNYA PENDETA MUDA ITU MASUK ISLAM

Para penginjil itu ternyata sudah menyiapkan seorang pendeta muda perempuan untuk memimpin jemaat gereja pantekosta di dusun Pungsu. Adalah Arina, seorang gadis belia suku Bela yang telah mereka kirim ke sebuah sekolah Theology di Manado. Dia mengenyam pendidikan Pendeta sekitar 3 Tahun di Manado. Mereka harap-harap Arina bisa melanjutkan misi di dusun Pungsu, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala musnahkan impian mereka.

Walaupun Gereja illegal tersebut sudah dirobohkan warga, Pendeta Selvi masih ngotot terus melakukan kebaktian di rumah seorang warga. Hanya saja Pendeta Arina sudah tidak begitu aktif memimpin jemaat lagi. Entah apa yang menyebabkan pendeta Arina tidak aktif memimpin jemaat. Karena kevakumannya, Pendeta Selvi sempat memukul Pendeta Arina. Kurang lebih dua bulan yang lalu, kaum muslimin Dongkalan mendapat kabar gembira dengan masuk islamnya Pendeta muda Arina, menyusul dua kakaknya yang terlebih dahulu masuk islam. Ada seorang pria muslim dari dusun Tingkulang yang mempersunting mantan Pendeta Arina. Akhirnya mereka berdua dinikahkan oleh Pak Imam Masjid setempat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah keimanan beliau. Hanya saja mantan pendeta Arina sekarang berpindah ikut suaminya tinggal di Tingkulang.

 

KEINGINAN MEMBANGUN MASJID

10Para muallaf sangat mendambakan berdirinya sebuah masjid di Dusun Pungsu-Solongan. Mereka sangat menginginkan bisa belajar islam bersama anak-anak dan istri mereka di mesjid tersebut, akan tetapi karena kurang mendapat dukungan dari pihak-pihak terkait, keinginan mulia ini belum tercapai.

Sepulangnya rombongan para da’i Ahlus Sunnah tersebut dari kampung muallaf itu, mereka terus menyampaikan kabar tentang kondisi para muallaf tersebut kepada kaum muslimin di Poso, Parigi dan Palu. Alhamdulillah Allah gerakkan hati kaum muslimin untuk membantu para muallaf dalam meraih cita-cita mulia tersebut. Tidak lama, terkumpullah belasan karung pakaian pantas pakai serta sejumlah dana dakwah dan  pembangunan Masjid. Sekarang program pembangunan masjid kayu dengan ukuran 8 x 8 m masih berlangsung. Kerangka bangunan dan atap seng sudah terpasang. Karena keterbatasan tenaga tukang, pembangunan belum berlanjut. Tahap selanjutnya adalah pemasangan lantai kayu dan dinding kayu.

 

 PROGRAM DAKWAH YANG LAINNYA

A.  Rencana pengadaan sarana MCK dan tempat wudhu dan pengadaan air bersih. Mengingat langkanya sumber air, pengadaan air bersih rencana diambil dari sebuah mata air di bukit yang berjarak sekitar 600 m. Sehingga dibutuhkan slang air sebanyak 12 rol dan dua buah tandon penampungan air.

B.  Program pemberangkatan 5 guru ngaji setiap pekan sekali bergiliran. Mengingat jarak Poso-Palasa sekitar 300km, maka dibutuhkan biaya akomodasi para ikhwah pengajar mengaji. Demikian pula ikhwah Palu dan Parigi juga akan bergiliran mengajar mengaji insya Allah.

C.  Program pembagian santunan rutin (bulanan) kepada 18 keluarga Muallaf. Mengingat banyaknya isu fitnah yang ditebarkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Beberapa keluarga muallaf ada yang terhasut dan tidak mau menghadiri ta’lim lagi. Maka dakwah kepada mereka dilanjutkan dalam bentuk bantuan santunan rutin, atau pembagian sembako dalam rangka melembutkan hati-hati mereka. Tatkala penulis menyerahkan santunan sejumlah uang kepada seorang muallaf terlihat matanya berkaca-kaca. Mengingat sampai sekarang, belum ada santunan rutin yang diberikan kepada tiap-tiap keluarga muallaf, selain pembagian pakaian pantas pakai, sabun dan garam dapur, itupun baru terlaksana satu kali. Dan juga demi meredam berbagai isu fitnah, program santunan juga ditujukan kepada beberapa tokoh adat, kepala dusun (orang bela yang sudah muslim sejak lahir), akan tetapi hidup mereka juga dibawah garis kemiskinan.

D.  Program biaya belajar santri Lauje. Alhamdulillah ada dua santri muallaf yang sudah dikirim ke Poso untuk belajar di ma’had Al-Manshuroh dan Pra Tahfizh Poso. Insya Allah ada beberapa anak muallaf lainnya yang ingin menyusul mereka untuk belajar Islam di Poso.

E.  Diantara program dakwah juga adalah pembebasan tanah dan pembangunan beberapa unit rumah kayu untuk beberapa orang bela yang ingin belajar Islam ke dekat masjid. Adalah Aji, seorang muallaf yang tinggal di dusun Silongkohung. Kalau mau ke lokasi masjid, dia mesti berjalan kaki sekitar empat puluh menit. Dia sangat menginginkan berpindah ke dekat masjid agar lebih intensif belajar Islam. Hanya saja karena terkendala biaya, Aji masih belum bisa membangun rumah dekat masjid. Selain Aji, masih ada beberapa warga Bela yang menginginkan mendekat ke lokasi Masjid.

F.  Program pembinaan pertanian untuk peningkatan taraf hidup masyarakat Bela.

 

PERIJINAN DAKWAH KEPADA PARA MUALLAF

Sudah menjadi prinsip dakwah Ahlussunnah, bahwasanya setiap langkah dakwahnya selalu berkoordinasi dengan pemerintah, sebagai bentuk ketaatan kepada Pemerintah dalam hal ma’ruf. Para da’i yang hendak berdakwah kepada para muallaf ini menemui kepala desa Dongkalan, pak Camat dan Kapolsek Palasa. Para pejabat tersebut secara umum mendukung program mulia ini. Proses perijinan pun dilanjutkan ke tingkat atasnya dengan menghadap ke Kapolres Parimo, Sekretaris Daerah Kab. Parimo dan kepala Departemen Agama Parimo. Dengan kemudahan dari Allah surat ijin kegiatan Dakwah dari Polres dan Depag Kab. Parimo telah keluar. Para da’i pun senantiasa berkoordinasi  dengan pemerintah setempat dalam menjalankan dakwahnya.

Demikian gambaran singkat agenda dakwah kepada para muallaf suku terasing Lauje. Tentunya program ini membutuhkan uluran tangan dari kaum mukminin. Bagi kaum mukminin yang ingin berinfaq demi kelanjutan dakwah kepada para muallaf, infaq dapat disalurkan melalui :

Bank BRI Poso No Rek : 0072-01-006008-53-0

a.n Sarmin Paroso.

Atau Bank Syariah Mandiri Poso No Rek : 70-699-3950-8

a.n Atjo Ishak Andi Mapatoba.

Contact Person :  HP 0852-41098-250, 0852-41480-960.

Untuk bantuan pakaian pantas pakai, bisa dikirim ke Masjid Babul Iman Jl. KH. Abdul Wahab lorong Srigading Kel. Sayo. Poso.

Kepada para muhsinin, kami ucapkan Jazaakumullah khairan.

Kampung-Lauje1-donasi

========================

SEKILAS TENTANG KAMPUNG MUALLAF

Dusun Solongan dan Pungsu, adalah dua dusun yang bersebelahan, keduanya masih dibawah pemerintahan Desa Dongkalan. Solongan berjarak sekitar 8 km dari jalan poros, sementara Pungsu terletak dibawah solongan. Mayoritas warga Solongan beragama Nasrani, sementara Pungsu lebih banyak kaum musliminnya. Di kedua dusun inilah para Muallaf itu tinggal. Warga Bela di sana hidup dari sektor pertanian. Secara geografis kedua dusun tersebut terletak diatas perbukitan terjal dan berbatu. Lereng-lereng gunung yang sangat terjal mereka olah menjadi kebun-kebun. Mereka bercocok tanam ubi, singkong, padi ladang, bawang, cabai, coklat atau cengkih. Pengetahuan mereka tentang pertanian sangat minim, sehingga hasil panennya pun sangat terbatas. Hal inilah yang melatar belakangi program pembinaan pertanian kepada mereka demi lebih menambah produktivitas hasil pertanian. Makanan pokok mereka adalah talas, ubi, singkong kadang nasi. Ubi atau singkong terkadang dibakar, atau direbus. Lauk yang paling mereka sukai adalah ikan asin, kalau tidak ada ikan asin mereka makan dengan lauk garam dicampur cabai.

 

SEKILAS TENTANG DUSUN SALAMAYANG

Salamayang adalah dusun yang sangat terpencil, hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki selama setengah hari bagi Orang Bela yang sudah biasa. Adalah pak Nani Hati, beliau adalah warga Salamayang yang sudah masuk Islam dua tahun lalu. Hanya saja, beliau masih belum mengenal islam. Anak-anak dan isterinya masih belum dibimbing bersyahadat oleh pak Imam Dongkalan. Beliau adalah satu-satunya guru Sekolah di sana. Sekolah yang beliau kelola hanya beratap terpal, berlantai papan, tanpa ada dindingnya. Jumlah siswanya 120 orang. Di sana ada 400 KK atau sekitar 3000 jiwa yang mayoritasnya masih beragama Nasrani. Hanya saja kegiatan gereja sekarang sudah tidak aktif lagi. Dahulu pernah ada pendeta bule Canada yang tinggal menetap disana. Akan tetapi karena suatu kasus akhirnya dia diusir dari Salamayang. Pak Nani Hati menjelaskan, kalau warga Salamayang disentuh dengan bantuan-bantuan insya Allah mereka bisa diajak masuk Islam. Beliau siap menjembatani untuk sampainya program dakwah kepada suku terasing disana. Dari sisi mata pencaharian, mayoritas warga Salamayang bercocok tanam bawang merah. Bagi yang pernah berkunjung ke Palu, mungkin sudah mengenal oleh-oleh Bawang Goreng renyah. Dari Salamayanglah asalnya bawang goreng tersebut di tanam. Mereka berjalan selama setengah hari memikul hasil panennya dari Salamayang menuju pasar. Terkadang bawang hasil panen mereka muat dengan rakit menyusuri sungai Palasa menuju jalan raya.

Keadaan Salamayang yang sangat terpencil tersebut membuat petugas  pemerintah merasa kesulitan dalam membina mereka. Pembinaan dari para misionaris kristen yang sempat menyentuh mereka sehingga mereka sekarang memeluk agama kriaten.

 

KEINGINAN MASUK ISLAM YANG TIDAK TERSAMPAI

Ada seorang warga Solongan, pak Tahar namanya, beliau pernah bertemu dengan sepuluh laki-laki warga Salamayang yang baru pulang dari kampung di bawah. Ketika ditanya apa hajat mereka dari kampung di bawah, mereka menjawab, “Kami ada 10 keluarga ingin masuk Islam, akan tetapi tidak ada tanggapan dari pak Imam.” Sehingga 10 keluarga ini dengan penuh kesedihan pulang ke Salamayang tidak jadi masuk Islam. Sungguh ironis, sepuluh keluarga tersebut tidak tersalurkan hajatnya untuk memeluk islam. Semoga Allah mempertemukan mereka dengan hidayah.

Demikianlah  gambaran singkat kisah muallaf suku terasing Lauje. Semoga Allah memberikan  keteguhan Iman dan keistiqomahan kepada mereka semua. Amiin.

 

http://salafy.or.id/blog/2014/04/26/kisah-muallaf-suku-terasing-lauje/

 




Biografi Singkat Asy-Syaikh Ahmad Bazmul

– Hafizhahullah Ta’ala –

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim bin Ahmad bin ‘Abud, Abu Umar Bazmul Al-Makki.

Kelahiran dan Pertumbuhan Beliau

Beliau dilahirkan dan bertumbuh kembang dengan baik di Makkah. Disitulah beliau menimbah ilmu dari para ulama’nya.

Diantara ulama’ dan masyayikh beliau adalah:

Asy-Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, beliau menghadiri pelajaran-pelajaran Syaikh Rabi’, seperti:

  • Syarah Kitabut Tauhid karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
  • Syarah Kitab Asy-Syari’ah karya Imam Al-Ajurri.
  • Syarah ‘Aqidah Ashabul Hadits karya Imam Ash-Shabuni.
  • Dan beliau juga belajar dihadapan Asy-Syaikh Rabi’ beberapa hadits Shahih Muslim dan beberapa kitab lainnya.

Saudara kandung beliau, Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul. Kepada beliau lah Syaikh Ahmad banyak mengambil faedah dan beliau juga belajar kepadanya beberapa kitab, diantaranya:

  • Kitabut Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  • Bulughul Marom, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar.
  • Al-Waroqot, karya Imam Al-Juwaini.
  • Beberapa Risalah tentang tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  • Muqoddamah Tafsir, karya Ibnu Taimiyyah.
  • Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an
  • Dan beberapa kitab lainnya.
  • Dan beliau diberi ijazah semua riwayat Syaikh Muhamamad Bazmul.

Asy-Syaikh DR. Washiyullah Abbas, dosen di Jami’ah Ummul Qura, Mekkah. Syaikh Ahmad Bazmul belajar kepada beliau kitab Nuzhatun Nazhor, Umdatul Ahkam, dan beberapa pelajaran lainnya.

Ada beberapa ulama’ dan masyayikh lainnya lagi yang beliau keruk ilmunya di berbagai macam ilmu dan bidang-bidangnya.

Ijazah Haditsiyah
Diantara ulama’ yang memberikan kepada beliau Ijazah dalam hal periwayatan hadits adalah:

  • Asy-Syaikh Muhammad Abdullah Ash-Shaumali.
  • Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi.
  • Asy-Syaikh Abdullah Aad Asy-Syinqithi. Rahimahullah
  • Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholi Hafizhahullah.
  • Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah As-Sabil.
  • Asy-Syaikh Yahya bin Utsman Al-Mudarris.
  • Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al-‘Aqil, manta ketua Majlis Qadha’ Al-A’la.
  • Asy-Syaikh Washiyullah ‘Abbas.
  • Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul Hafizhahumullah Ta’ala.

Terjun ke Medan Dakwah dan Mengajar
Di antara kebiasaan dan adab yang kita dapati dari para ulama’ salaf adalah mereka tidak memberanikan diri untuk terjun dan tampil di medan dakwah sampai diberi ijin dan rekomendasi dari para guru mereka.
Sebagai contoh adalah Al-Imam Malik, Khalaf bin ‘Umar Shiddiq meriwayatkan, bahwa suatu ketika ia berada di sisi Imam Malik bin Anas. Khalaf berkata: “Aku mendengar Malik bin Anas berkata, ‘Tidaklah aku berfatwa hingga aku bertanya kepada orang yang lebih berilmu dariku, apakah ia memandang aku memiliki tempat dalam hal itu (fatwa)? Aku bertanya kepada Rabi’ah dan bertanya kepada Yahya bin Sa’id, maka keduanya memerintahkan aku untuk itu.
Maka aku (Khalaf,pen) berkata kepadanya (Malik bin Anas), ‘Wahai Abu Abdillah, seandainya mereka melarangmu? Beliau menjawab, ‘aku akan berhenti. Tidak pantas bagi seseorang menilai dirinya telah mapan tentang sesuatu hingga ia bertanya kepada orang yang lebih berilmu darinya.” (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/312)

Para pembaca rahimakumullah, itulah bukti bahwa di antara akhlaq salaf adalah tidak memberanikan diri tampil untuk berdakwah kecuali setelah mendapatkan rekomendasi dari para ulama’nya.

Jika kita perhatikan keadaan Asy-Syaikh DR. Ahmad Bazmul Hafizhahullah, maka beliau tidak jauh dari apa yang telah ternukilkan dari Al-Imam Malik. Beliau hafizhahullah tidak memberanikan diri untuk tampil di medan dakwah sampai mendapatkan rekomendasi dan ijin dari masyayikh beliau.

Diantara para masyayikh yang memberi rekomendasi beliau untuk berdakwah dan mengajar adalah:

  • Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam.
  • Asy-Syaikh Muhammad As-Sabiil.
  • Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali.
  • Asy-Syaikh Washiyullah ‘Abbas.
  • Asy-Syaikh Muhammad Umar Bazmul.
  • Dan beberapa masyayikh lainnya.

Tentu para ulama’ dan masyayikh tersebut tidaklah sembarangan memberikan rekomendasi kepada seseorang untuk mengajar dan berdakwah kecuali setelah mengetahui bahwa orang tersebut memiliki kemapaman dalam bidang tersebut.

Pernah ditanyakan kepada Asy-Syaikh DR. Ahmad Bazmul Hafizhahullah Ta’ala, “Seandainya mereka tidak membolehkanmu (berdakwah dan mengajar)?” Beliau menjawab:  “Aku akan berhenti mengajar.”

Subhanallah, benar-benar menakjuban. Demikianlah seharusnya akhlaq seorang ‘alim dan seorang salafi, berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti jejak para salafush shalih.

Demikian pula, ketika mengajar di Ma’had Al-Haramil Makki, beliau mendapatkan rekomendasi dari empat Ulama’ Ma’had. Mereka adalah:

  • Asy-Syaikh Yahya bin ‘Utsman Al-Mudarris.
  • Asy-Syaikh Musa As-Sukkar.
  • Asy-Syaikh Abdullah At-Tinbukti
  • Asy-Syaikh Sayyid Shadiq Al-Anshari

Dan beberapa gurunya juga meminta beliau untuk mengajar dan berdakwah agar para penuntut ilmu bisa mengambil faedah darinya.

Dari sinilah beliau memberanikan diri untuk mengajar dan berdakwah. Alhamdulillah, beliau telah mengajar di beberapa Ma’had di Saudi Arabiyah, diantaranya adalah:

  • Ma’had Al-Haram Al-Makki, di Mekkah.
  • Ma’had Manabir As-Su’ada’
  • Ma’had Al-‘Ilmiy As-Sanawi, keduanya di Jeddah, pada mata pelajaran Tafsir, hadits, mustholah, dan takhrij.
  • Jami’ah Thoif, pada mata pelajaran ahaditsul ahkam, fiqih, mawarits (hukum waris), qowa’id ushuliyah, dan takhrijul furu’ ‘alal ushul.

Beliau juga memberikan muhadharah di radio Idza’atul Qur’an dengan tema “Ma la yashluhu fi shiyam”

Dan di radio Idza’atu Nida-il Qur’an dengan tema “Al-Minnah fi Nasyris Sunnah”.

Beliau juga mengajarkan beberapa cabang ilmu pada beberapa daurah ‘ilmiyyah, seperti:

  • Ushul Tafsir
  • Fiqih
  • Hukum waris
  • Nahwu
  • Takhrij
  • Dan Dirosah asanid

Beliau juga memberikan berbagai kajian ilmiyyah di beberapa masjid…

Dan beliau sekarang sebagai Dosen di Jami’ah Ummul Qura, Mekkah Al-Mukarromah.

Pujian Para ulama’

Di antara ciri seorang ‘alim yang dapat diambil ilmunya adalah adanya rekomendasi dan pujian dari ‘alim lain yang setara atau lebih tua dari sisi umur dan ilmu. Baik pujian itu kembali kepada pribadi ‘alim tersebut atau kembali kepada ilmunya. Demikianlah kiranya Asy-Syaikh DR. Ahmad Bazmul Hafizhahullah Ta’ala.

Diantara para ulama’ yang memuji beliau adalah:

1. Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam
Beliau adalah murid Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah Ta’ala. Beliau menyatakan:

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد أما بعد: فبخصوص الأخ الشيخ : أحمد بن عمر بن سالم بازمول السعودي الجنسية هو من طلاب العلم ومتخرج من جامعة أم القرى ويحضر الشهادة في الكتاب والسنة، وهو صاحب دين واستقامة، كما أن فيه الكفاءة للصلاة والإمامة والخطابة والوعظ وهو بعيد عما لا يعنيه من الأمور والله الموفق .

2. Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi
Beliau adalah Mufti Saudi bagian selatan, dan murid Asy-Syaikh Hafizh Al-Hakami dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Qar’awi, Rahimahullah Ta’ala.

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه.

أما بعد :

“Telah memperlihatkan kepadaku Al-‘Allamah Ahmad bin Umar Bazmul -semoga Allah memberinya taufik- tulisannya berjudul Ad-Durarus Saniyyah fi Tsanail ‘Ulama ‘alal Mamlakah Al-‘Arabiyyah As-Su’udiyyah…”

Dalam tempat lain beliau berkata, “Telah mengirimkan kepadaku Asy-Syaikh Al-Fadhil As-Salafi, kitabnya berjudul As-Sunnah fima Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah.”

3. DR. ‘Uwaid bin ‘Iyad Al-Mathrofi Rahimahullah Ta’ala

Beliau berkata: “wa ba’du: Sesungguhnya al-akh al-ustadz Ahmad bin Umar Bazmul… beliau memiliki pemahaman ilmu yang mumtaz dalam menetapkan berbagai masalah ilmiyyah, baik memahami dan membaca. Dan pengetahuannya bagus tentang maraji’ ilmiyyah, dan ia memahami kejadian-kejadian fikriyah yang kesemua itu menunjukkan keahliannya yang ilmiyyah.

Beliau berhak untuk di timba ilmunya. Dan aku berwasiat untuknya dengan kebaikan, mudah-mudahan Allah memberikan manfaat melaluinya islam dan kaum muslimin.”

4. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah As-Sabil

Beliau adalah imam sekaligus khatib Masjidil Harom. Beliau berkata, “Sesungguhnya al-akh asy-syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul adalah salah seorang penuntut ilmu yang baik. Beliau telah meraih gelar magister dari Jami’ah Ummul Qura. Beliau memiliki kesungguhan yang diberkahi dalam berdakwah di jalan Allah, dan mengajari kaum muslimin tentang urusan agama mereka.

Dan kami telah mengenal kebaikan aqidahnya dan manhajnya yang sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, dan beliau juga mentahdzir dari ahlul bida’ dan ahwa’ (pengikut hawa nafsu).”

5. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah Ta’ala

Beliau adalah ulama’ kondang dan sepuh yang semua kita mengenalnya, beliau termasuk anggota Hai’ah Kibarul ‘Ulama. Dalam pendahuluan beliau terhadap kitab Asy-Syaikh Ahmad Bazmul berjudul Al-Madarij, beliau berkata:

“Alhamdulillah wa ba’du: aku telah membaca kitab yang ditulis oleh al-akh fillah, Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul yang bertema Kasyfu Syubuhatil Khawarij (menyingkap syubuhat khawarij), maka aku mendapatinya –bihamdillah- (bantahan) yang mencukupi pada temanya untuk membantah syubuhat kelompok yang melenceng dan merusak ini…, semoga Allah membalas penulis kitab ini dengan balasan yang terbaik. Kitab ini adalah saham darinya yang bagus untuk menahan bahaya mereka, dan meruntuhkan syubuhat mereka. Semoga Allah memberikan manfaat dengan kitab ini, dan membungkam dengannya tipu daya musuh-musuh.”

6. Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah.

Beliau adalah pembawa bendera Jarh wa Ta’dil abad ini, beliau berkata:

الحمد لله والصلاة على رسلو الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه.

“amma ba’du: Sesungguhnya al-akh Ahmad Bazmul, aku mengenalnya termasuk seorang ‘alim yang khair, baik pada agama, akhlak, dan manhaj. Dan aku meyakini bahwa ia termasuk orang yang berhak untuk mengajar dan berdakwah.

Dan ia telah meminta dariku tazkiyah ini, maka aku pun memberinya tazkiyah karena aku yakin ia berhak menerimanya.”

7. Asy-Syaikh Al-‘Allamah Zaid bin Muhammad Al-Madkhali

Beliau adalah seorang ‘alim yang terkenal, semoga Allah menjaganya. Beliau berkata ketika memberi pendahuluan terhadap kitab Ad-Durarus Saniyyah, kata beliau:

“Dan aku telah menyempurnakan pengecekan atas risalah berjudul Ad-Durarus Saniyyah fi Tsana-il Ulama’ yang disusun oleh saudara kami yang mulia Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul.”

8. Ada beberapa tazkiyah lain dari masyayikh lainnya

Karya Tulis Beliau

Asy-Syaikh Ahmad Bazmul memiliki sekian karya tulis yang itu semua menunjukkan kemapamannya dalam hal dakwah dan mengajar. Diantara karya tulis beliau adalah:

1) رسالة عمر بن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء وآدابه رواية ودراية.

2) المقترب في بيان المضطرب.

3) المدارج في كشف شبهات الخوارج.ـ

4) السنة فيما يتعلق بولي الأمة.

5) الدرر السنية في ثناء العلماء على المملكة العربية السعودية.

6) دولة التوحيد والسنة.

7) تحفة الألمعي بمعرفة حدود المسعى وأحكام السعي

8 ) حجية الأحاديث النبوية الواردة في الطب والعلاج

9) خطورة نقد الحديث.

10) النجم البادي في ترجمة الشيخ العلامة السلفي يحيى بن عثمان عظيم آبادي.

11) الانتقادات العلية لمنهج الخرجات والطلعات والمكتبات والمراكز الصيفية وهو كتاب ألفه مشاركة مع الشيخ أحمد بن يحيى الزهراني.

12) قواعد وضوابط في فقه الفرائض والمواريث

Semoga tulisan sederhana ini bisa menambah faedah dan wawasan kita….

Lihat versi arabnya di :
http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=7829

Bagi yang sudah memiliki kemampuan berbahasa arab kami sarankan membaca Biografi beliau yang berbahasa arab di link yang kami sertakan di atas. Karena padanya ada tambahan dan pemahaman yang tidak ada pada tulisan kami…, wallahu a’lam





Ditulis oleh Ali bin Muhammad Al-Bathliyusi

Tahun 488 H

Ditulis oleh Abu Sa’d Muhammad bin Isma’il

Tahun  549 H

————————————–

Ditulis oleh Abdullah bin Muhammad bin Sa’d

Tahun  678 H

————————————-

Ditulis pada abad delapan hijriyah




Sejarah kejayaan Islam tak lepas dari amalan jihad yang diperani oleh para pendahulu umat ini. Jihad memiliki kedudukan mulia di dalam Islam. Tentunya, diatas ketentuan yang telah digariskan Allah  dan Rasul-Nya . Bukan aksi teror yang muncul dari semangat tanpa ilmu. Tulisan berikut ini adalah memaparkan gambaran jihad fii sabilillaah di masa Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq .

Seusai memulihkan kondisi jazirah ’Arab, dengan memerangi kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat, Abu Bakr  berusaha keras memobilisasi pasukan Islam dalam upaya menaklukkan negeri Syam yang termasuk daerah teritorial kerajaan Romawi.

Keadaan Romawi sebelum Peperangan

Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam, tentara Romawi merasa terkejut dan sangat takut. Dengan serta-merta mereka mengirimkan surat yang memberitahukan akan hal tersebut kepada Heraklius, raja Romawi yang berada di Himsh (sekarang dikenal dengan Homs –red). Dia pun melayangkan surat balasan yang berbunyi, ”Celaka kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk agama baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Patuhilah aku, dan berdamailah dengan menyerahkan setengah penghasilan bumi Syam! Bukankah kalian masih memiliki pegunungan Romawi?! Jika kalian tidak mematuhi perintahku, niscaya mereka akan merampas negeri Syam dan akan memojokkan kalian hingga terjepit di pegunungan Romawi.”

Tatkala telah mendapatkan surat balasan seperti ini, mereka (tentara Romawi) tidak mau menerima saran tersebut. Akhirnya, mau tidak mau Raja Heraklius mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Pasukan Romawi mulai bergerak, dan berhenti di lembah Al-Waqusah, di samping sungai Yarmuk yang berdataran rendah dan memiliki banyak jurang.

 

Kedatangan Khalid bin Al-Walid  dari ‘Iraq

Pasukan Islam yang berada di Syam segera meminta bantuan. Maka Abu Bakr Ash-Shiddiq  memerintahkan Khalid bin Al-Walid  agar menarik diri dari ’Iraq untuk kemudian menuju Syam bersama bala tentaranya. Dengan segera Khalid  menunjuk Al-Mutsanna bin Haritsah v sebagai penggantinya di ’Iraq. Kemudian beliau  bergerak cepat dengan membawa 9.500 personel pasukan menuju Syam. Mereka melalui jalan-jalan yang tidak pernah dilalui seorang pun sebelumnya, dengan menyeberangi padang pasir, mendaki gunung, serta melewati lembah-lembah yang sangat gersang.

 

Persiapan Pasukan Islam

Abu Sufyan  mengusulkan, layaknya ahli strategi perang, agar pasukan dibagi menjadi tiga formasi. Sepertiga bersiap-siap di depan pasukan Romawi, sepertiga lainnya yang terdiri dari bagian perbekalan dan para wanita agar berjalan, dan sepertiga yang tersisa dipimpin oleh Khalid  di posisi belakang. Jika musuh telah mencapai perkemahan wanita dan perbekalan, Khalid  akan berpindah ke depan kaum wanita, sehingga mereka dapat menyelamatkan diri di belakang pasukan Khalid bin Al-Walid .

Maka mereka pun segera merealisasikan usulan itu. Pasukan Islam mulai berkumpul dan berhadapan dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.

 

Strategi Pasukan Islam

Pasukan Islam kala itu jumlahnya berkisar antara 36 ribu sampai dengan 40 ribu personel tentara. Didalamnya terdapat seribu orang shahabat Nabi  . Seratus orang dari mereka adalah para veteran perang Badar. Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah (namanya Hanzholah bin Ath-Thufail) memimpin posisi tengah pasukan. ’Amru bin Al-’Ash  dan Syarahbil bin Hasanah  memimpin sayap kanan pasukan. Sedangkan pemimpin sayap kiri pasukan adalah Yazid bin Abi Sufyan (dia dikenal dengan sebutan Yazid Al-Khoir).

Khalid  membawa kudanya ke arah Abu ’Ubaidah  dan berkata, ”Aku akan memberikan usul.” Abu ’Ubaidah  menjawab, ”Katakanlah, aku akan mendengar dan mematuhinya.” Khalid  kembali berkata, ”Musuh pasti menyiapkan pasukan besar untuk membobol pertahanan pasukan kita. Aku khawatir pertahanan sayap kiri dan kanan akan kebobolan. Menurutku, pasukan berkuda harus dibagi menjadi dua kelompok. Satu pasukan ditempatkan di belakang sayap kanan, dan yang lain ditempatkan di belakang sayap kiri. Apabila musuh berhasil menembus pertahanan sayap kiri atau kanan, para pasukan berkuda berperan membantu mereka. Lalu kita datang menyerbu dari belakang.” Abu ’Ubaidah  berkomentar, ”Alangkah jitu usulmu itu!”

Khalid bin Al-Walid  pun memerintahkan agar Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah  pindah ke posisi belakang. Hal ini agar jika ada tentara Islam berlari mundur, ia akan malu saat melihatnya kemudian kembali ke kancah pertempuran. Kemudian Khalid  menginstruksikan agar para wanita bersiap-siap dengan pedang, pisau belati, dan tongkat. Khalid  berkata, ”Siapa saja yang kalian jumpai melarikan diri dari medan pertempuran, bunuh dia!”

 

Strategi Pasukan Romawi

Setelah menerima bantuan personel dari pusat, pasukan Romawi maju dengan kesombongan membawa 240 ribu personel. 80 ribu pasukan pejalan kaki, 80 ribu pasukan berkuda, dan 80 ribu pasukan yang diikat dengan rantai besi (setiap sepuluh tentara diikat menjadi satu agar tidak lari dari peperangan).

Mereka bergerak hingga menutupi seluruh tempat yang ada seakan-akan mereka adalah awan hitam. Mereka berteriak-teriak, mengangkat suara tinggi-tinggi, sementara para pendeta, uskup, maupun pihak gereja mengelilingi pasukan membacakan Injil sambil memotivasi mereka agar gigih dalam berperang.

Pasukan lini depan dipimpin oleh Jarajah (George), sayap kiri dan kanan dipimpin oleh Mahan dan Ad-Daraqus. Pasukan penyerang dipimpin oleh Al-Qolqolan, menantu Heraklius. Adapun pimpinan tertinggi pasukan ini adalah saudara kandung Heraklius yang bernama Tadzariq.

 

Perundingan sebelum meletusnya Pertempuran

Abu ’Ubaidah dan Yazid bin Abi Sufyan maju ke arah pasukan Romawi dengan membawa Dhirar bin Al-Azur, Al-Harits bin Hisyam dan Abu Jandal bin Suhail  untuk bertemu dengan Tadzariq yang tengah duduk di dalam tenda yang terbuat dari sutera.

Para shahabat  berkata, ”Kami tidak dihalalkan memasuki tenda ini.” Maka dibentangkanlah karpet dari sutera dan mereka dipersilahkan untuk duduk di atasnya. Para shahabat  berkata, ”Kami tidak diperbolehkan duduk di atasnya.” Akhirnya Tadzariq duduk di tempat yang mereka inginkan. Para shahabat  mendakwahinya agar masuk Islam, namun perundingan ini berakhir tanpa hasil. Akhinya mereka pun kembali ke barisan pasukan. Pemimpin sayap kiri Romawi yang bernama Mahan ingin bertemu dengan Khalid bin Al-Walid  di antara dua pasukan yang saling berhadapan. Mahan berkata, ”Kami mengetahui bahwa kemiskinan dan kelaparanlah yang mengeluarkan kalian dari negeri kalian. Maukah kalian jika aku beri sepuluh dinar untuk setiap tentara beserta makanan dan pakaian, lalu kalian pulang ke negeri kalian? Dan pada tahun depan aku akan memberikan jatah yang serupa?”

Khalid bin Al-Walid  menjawab, ”Sesungguhnya, bukanlah yang mengeluarkan kami dari negeri kami apa yang engkau sebutkan tadi. Tetapi sebenarnya kami adalah sekelompok manusia peminum darah. Dan telah sampai berita kepada kami bahwa tidak ada darah yang lebih segar daripada darah kalian, bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang kesini!” Mendengar jawaban itu para sahabat Mahan berucap, ”Demi Allah, ucapan tersebut baru pertama kali kita dengar dari bangsa ’Arab.”

 

Jalannya Pertempuran

Pasukan Romawi pada perang ini keluar dalam jumlah besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Khalid  juga membawa pasukan besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ’Arab. Tatkala persiapan sudah matang, Khalid  memerintahkan untuk memulai dengan perang tanding. Mulailah para jagoan Islam di tiap pasukan maju hingga membuat suasana memanas. Sementara Khalid  berdiri menyaksikan laga tersebut.

Ditengah suasana yang sudah memanas, pemimpin pasukan lini depan Romawi yang bernama Jarajah ingin bertemu dengan Khalid  di tengah dua pasukan. Ia bertanya mengenai agama Islam, maka Khalid  memberitahukan dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Akhirnya, Jarajah masuk Islam, membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan pasukan Islam.

Melihat pembelotan Jarajah, pasukan Romawi menyerbu ke barisan kaum muslimin. Mahan memerintahkan pasukan sayap kanan menyerang menerobos pertahanan sayap kanan pasukan Islam. Kaum muslimin tetap tegar berjuang di bawah panji-panji mereka, hingga berhasil membendung serangan musuh.

Setelah itu, pasukan besar Romawi datang lagi bak gunung besar yang berhasil memporak-porandakan pasukan sayap kanan, hingga pasukan Islam beralih ke tengah. Tak lama kemudian, mereka saling memanggil agar kembali ke medan laga hingga berhasil memukul mundur kembali. Adapun para wanita, tatkala melihat ada tentara Islam yang lari mundur, mereka segera memukulinya dengan kayu, atau melemparinya dengan batu sehingga tentara tersebut kembali ke kancah peperangan.

Kemudian Khalid  beserta pasukannya yang berada di sayap kiri menerobos ke sayap kanan yang kebobolan diserang musuh, hingga berhasil membunuh enam ribu tentara Romawi. Lalu Khalid  membawa seratus pasukan berkuda menghadapi seratus ribu tentara Romawi hingga berhasil meluluhlantakkan pasukan musuh.

Pada hari itu, begitu terlihat kegigihan, kesabaran, dan kepahlawanan tentara-tentara Islam hingga pasukan Romawi berputar-putar seperti penumbuk gandum. Mereka tidak melihat, pada perang itu, melainkan kepala-kepala yang berterbangan, tangan-tangan maupun jari-jari yang terpotong, serta semburan darah yang membasahi medan laga.

Ketika itulah, seluruh pasukan Islam menyerbu dengan serentak, untuk kemudian dengan leluasa menghabisi musuh tanpa ada perlawanan sedikit pun. Jarajah pun akhirnya terluka parah dan meninggal dunia. Padahal beliau belum pernah shalat sekalipun, kecuali dua raka’at yang dikerjakan (diajarkan) oleh Khalid  ketika baru/awal masuk Islam.

Peperangan ini berawal dari siang hingga malam, sampai kemenangan diraih oleh Islam dan kaum muslimin. Malam itu, pasukan Romawi berlari dalam kegelapan. Adapun pasukan Romawi yang diikat rantai besi, jika salah seorang dari mereka terjatuh, maka terjatuhlah seluruhnya. Malam itu, Khalid  bermalam di kemah Tadzariq, pimpinan tertinggi pasukan Romawi.

Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah Khalid  menunggu tentara Romawi yang lewat untuk dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun terbunuh. Telah terbunuh pada hari itu 120.000 lebih pasukan Romawi. Adapun tentara Islam yang gugur di medan perang sebanyak tiga ribu pasukan. Kaum muslimin mendapat harta pampasan yang begitu banyak pada perang ini.

Demikianlah, kejayaan yang diraih oleh umat Islam tatkala mereka kokoh diatas kemurnian ibadah kepada Allah  dan berpegang teguh kepada sunnah (ajaran) Rasul-Nya . Sebagaimana firman Allah  (yang artinya):

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Wallahu a’lam bish showab.

 

Buletin Islam AL ILMU Edisi: 19/V/VIII/1431




Pelajaran Berharga dari Sisi Kehidupan

AL-IMAM ASY-SYAFI’I Rahimahullah

Sejarah para ulama salaf merupakan salah satu tentara dari tentara-tentara Allah subhanahu wata’ala . Begitu seorang muslim mempelajarinya, ia akan bisa mengambil pelajaran darinya, kemudian bersegera untuk mengamalkannya. (Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah)

 

Biografi beliau rahimahullah

Beliau adalah seorang imam, ‘alim di zamannya, seorang penolong sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , dan orang yang faqih.

 

Nama dan Nasab beliau rahimahullah

Nama beliau rahimahullah adalah Muhammad, dan kunyahnya Abu ‘Abdillah. Nama lengkap beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin ‘Ubaid bin Abdi Yazid bin Hisyam bin Al-Muththalib bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab Al-Qurasyi Al-Muththalibi Asy-Syafi’i Al-Makki Al-Ghazi.

 

Tempat dan tanggal lahir beliau rahimahullah

Beliau rahimahullah dilahirkan pada hari Jum’at siang, di hari terakhir bulan Rajab, pada tahun 150 H, di desa Ghaza (disini lebih dikenal dengan sebutan Gaza). Sebuah desa yang terletak di sebelah selatan Palestina, dan berbatasan dengan negeri Syam (sekarang Libanon) dari arah Mesir. Tidak lama kemudian, ibunya membawanya ke kota ‘Asqalan, sebuah kota yang terletak tidak jauh dari Ghaza dan terhitung masih satu propinsi.

 

Hubungan kekerabatan beliau dengan Rasulullah shallallahualaihi wasallam

Beliau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu kakek Al-Imam Asy-Syafi’i, yang bernama Al-Muththalib, adalah saudara laki-laki Hasyim, ayah dari ‘Abdul Muththalib, kakek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: “Sesungguhnya antara Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib satu kesatuan yang tidak akan ada yang bisa memisahkan antara kita, baik di zaman jahiliyah maupun di zaman islam.” (HR. Al-Bukhari).

 

Pindah ke kota Makkah

Beliau adalah anak yatim dibawah asuhan ibunya di Mesir. Kemudian, pada usia 2 tahun, dibawa oleh ibunya untuk pindah ke kota Makkah. Semenjak kecil beliau telah berlatih memanah dan melempar, sehingga menjadi orang yang paling unggul diantara teman-temannya di bidang olahraga tersebut.

 

Pendidikan dan Perjalanan Al-Imam Asy-Syafi’i dalam menuntut ilmu rahimahullah

– Pendidikan beliau rahimahullah selama di Makkah

Beliau menjalani pendidikan masa kecilnya di sebuah kuttab (madrasah anak-anak). Beliau bercerita: “Dahulu aku di madrasah anak-anak. Aku mendengarkan seorang guru sedang menalqinkan (mendiktekan) ayat kepada seorang anak, maka aku menghapalkannya. Dan sungguh aku telah menghapal semua yang ia diktekan.”

Pada usia 7 tahun, beliau rahimahullah telah hapal Al-Qur’an. Kemudian setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat madrasah (sekolah dasar), beliau belajar di Masjidil Haram. Belajar kepada para ahli fiqih dan para ahli hadits yang ada disana, sehingga beliau menjadi orang yang paling unggul dalam masalah fiqih.

Pada usia 10 tahun, beliau rahimahullah telah hapal kitab Al-Muwaththo’, karya Al-Imam Malik rahimahullah, sebelum beliau belajar kepada Al-Imam Malik rahimahullah.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga pergi ke perkampungan arab badui dari Bani Hudzail untuk mempelajari bahasa arab yang masih asli, dan juga belajar balaghah (ilmu sastra dalam Bahasa Arab), kemudian menjadi orang yang pandai dalam dua bidang tersebut. Setelah itu, beliau rahimahullah kembali ke kota Makkah, melanjutkan belajar kepada para ulama yang berada di kota tersebut.

Beliau rahimahullah menuntut ilmu kepada para ulama terkemuka yang ada di kota Makkah, seperti Muslim bin Khalid Az-Zanji rahimahullah, Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, dan lain-lain.

Bahkan, di usia 15 tahun, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah telah memiliki kemampuan untuk memberikan fatwa. Salah satu guru beliau di kota Makkah, yang bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji, berkata kepada beliau: “Berfatwalah, wahai Abu ‘Abdillah! Sungguh, demi Allah, sudah saatnya bagimu sekarang untuk berfatwa!”

Saat itu beliau rahimahullah baru berusia 15 tahun.

– Pendidikan beliau rahimahullah di luar Makkah

Pada usia 20 tahun, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengadakan rihlah (perjalanan menuntut ilmu) keluar kota Makkah, dan belajar kepada para ulama di berbagai negeri. Di kota Madinah, beliau belajar kepada Al-Imam Malik rahimahullah dan menyetorkan hapalan kitab “Al-Muwaththo’ ” karya Al-Imam Malik sendiri. Beliau rahimahullah telah hapal kitab “Al- Muwaththo’ ” sebelum mencapai usia baligh.

Di negeri Yaman, beliau belajar kepada Muthorrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qodhiy, dan lain-lain.

Di kota Baghdad, beliau belajar kepada Muhammad bin Al-Hasan, Isma’il bin ‘Ulayyah, dan lain-lain.

 

Murid-murid beliau rahimahullah

Diantara para ulama terkemuka yang pernah duduk belajar di hadapan beliau adalah seperti: Al-Humaidi, Ahmad bin Hanbal, Harmalah bin Yahya, Abdul ‘Aziz Al-Kinani Al-Makki, Ishaq bin Rahuyah, ‘Amr bin Sawwad, dan lain-lain.

Beliau cukup lama tinggal di kota Baghdad sampai akhirnya beliau pindah ke negeri Mesir.

Beliau meninggal di negeri Mesir pada malam Jum’at, setelah shalat ‘Isya di akhir bulan Rajab, saat mulai munculnya hilal di bulan Sya’ban, tahun 204 H, pada usia 54 tahun setelah mengalami sakit bawasir.

Keteladanan Beliau rahimahullah

– Kesungguhan dan semangat beliau rahimahullah dalam menuntut ilmu

Pada suatu hari, ibunya mengantarkannya kepada seorang guru, agar ia bisa belajar. Akan tetapi, ibunya tidak punya uang untuk membayar guru tersebut yang mengajar anaknya. Akhirnya, guru tersebut rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan cepatnya hapalan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

Setelah selesai menghapal Al-Qur’an, beliau masuk ke dalam masjid duduk bersama para ulama. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mendengarkan satu permasalahan atau satu hadits, lalu menghapalkannya. Ibunya tidak mempunyai harta untuk diberikan kepada beliau untuk membeli lembaran atau kertas sebagai tempat beliau menulis. Beliaupun mencari tulang, tembikar, tulang pundak unta, dan pelepah kurma, lalu menulis hadits padanya. Bila sudah penuh, beliau menaruhnya dalam tempayan yang ada di rumahnya, sehingga tempayan-tempayan yang ada di rumah beliau pun menjadi banyak. Ibunya berkata kepada beliau: “Sesungguhnya tempayan-tempayan ini telah menjadikan rumah kita sempit.” Maka beliau pun mendatangi tempayan-tempayan ini, menghapal apa yang ada padanya, kemudian membuangnya. Setelah itu, Allah subhanahu wata’ala memudahkan beliau untuk melakukan safar ke negeri Yaman.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana ambisi anda untuk mendapatkan ilmu?”

Beliau menjawab, “Seperti ambisi orang yang tamak terhadap dunia dan bakhil ketika memperoleh kelezatan harta.”

Lalu ditanyakan kepada beliau, “Seperti apakah anda didalam mencari ilmu?”

Beliau menjawab, “Seperti pencarian seorang wanita yang kehilangan anak satu-satunya.”

Ketika Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah duduk di hadapan Al-Imam Malik rahimahullah dan belajar kepadanya, ia membuat Al-Imam Malik kagum akan kecerdasan, kejelian dan kesempurnaan pemahamannya. Al-Imam Malik berkata, “Sesungguhnya aku melihat Allah subhanahu wata’ala telah memberikan cahaya atas hatimu. Maka janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan gelapnya perbuatan maksiat.”

– Ketawadhu’an beliau rahimahullah

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah adalah seorang yang rendah hati (tawadhu’). Beliau pernah berkata, “Aku ingin, apabila manusia mempelajari ilmu ini -maksudnya kitab-kitab beliau-, hendaklah mereka tidak menyandarkan sesuatu pun dari kitab-kitab tersebut kepadaku.”

Beliau rahimahullah pernah berkata kepada Al-Imam Ahmad rahimahullah -salah satu murid beliau-, “Kamu lebih berilmu tentang hadits yang shahih dibanding aku. Maka apabila engkau mengetahui tentang sebuah hadits yang shahih, maka beritahukanlah kepadaku hingga aku berpegang dengan pendapat tersebut. Baik hadits tersebut datang dari penduduk Kufah, Bashrah (nama kota di Iraq), maupun Syam.

– Kewibawaan beliau rahimahullah

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah adalah seorang yang memiliki kewibawaan di hadapan manusia, sampai dikatakan oleh Ar-Rabi’ bin Sulaiman (teman dan murid beliau rahimahullah) berkata, “Demi Allah, aku tidak berani untuk meminum air tatkala Asy-Syafi’i melihat kepadaku, karena segan kepadanya.”

Adalah Sufyan bin ‘Uyainah -salah satu guru beliau rahimahullah– apabila mendapati sebuah permasalahan dalam masalah fatwa dan tafsir, beliau melihat kepada pendapat Asy-Syafi’i, dan berkata kepada orang-orang: “Tanyakanlah kepadanya.”

– Keteladanan beliau rahimahullah dalam membagi waktu malam

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah membagi waktu malamnya menjadi 3 bagian, sepertiga malam yang pertama untuk menulis, sepertiga malam yang kedua untuk shalat dan sepertiga malam yang ketiga untuk tidur.

Pujian para Ulama

1. Yahya bin Sa’id Al-Qoththon rahimahullah:

“Aku selalu mendoakan kebaikan kepada Asy-Syafi’i, dan aku mengkhususkan doa tersebut baginya.”

2. Qutaibah bin Sa’id rahimahullah:

“Telah meninggal Sufyan Ats-Tsauri maka hilanglah sifat Al-Wara’, dan telah meninggal Asy-Syafi’i maka matilah sunnah dan telah meninggal Ahmad bin Hanbal maka tersebarlah kebid’ahan.”

3. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:

“Sesungguhnya Allah membangkitkan kepada manusia di penghujung setiap seratus tahun, seorang yang mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah (ajaran-ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menghilangkan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .” kemudian beliau berkata, ‘maka kami melihat ternyata di penghujung seratus tahun pertama, orang tersebut adalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz dan di penghujung seratus tahun kedua,orang tersebut adalah Asy-Syafi’i.”

Dan beliau (Al-Imam Ahmad) selalu mengulang-ngulang di dalam majelis beliau perkataan: “Telah berkata Abu ‘Abdillah Asy-Syafi’i.” Kemudian beliau mengatakan, “Tidaklah aku melihat seorangpun yang lebih kuat dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , dibanding Asy-Syafi’i.”

Dan beliau (Al-Imam Ahmad) juga selalu mendoakan dengan kebaikan kepada gurunya (Al-Imam Asy-Syafi’i) di dalam doa-doa beliau.

Karya tulis beliau rahimahullah

Al-Imam Al-Marwazi rahimahullah mengatakan:” Sesungguhnya Asy-Syafi’i telah menulis karya tulis sebanyak 113 kitab baik dalam bidang tafsir, fiqih, adab (akhlaq), dan lain-lain.” Dan ada yang mengatakan bahwa karya tulis beliau mencapai 147 judul. Dan ada pula yang mengatakan bahwa karya tulis beliau mencapai 200 judul.

Diantara karya tulis beliau yang terkenal adalah “Al-Umm“, kitab yang membahas tentang masalah fiqih. Kemudian juga kitab yang berjudul “Ar-Risalah“, yang membahas tentang ushul fiqh. Beliau rahimahullah juga memiliki kumpulan sya’ir yang terkumpul dalam sebuah kitab yang dinamakan dengan “Diwan Asy-Syafi’i

Mutiara hikmah beliau rahimahullah

1. Beliau pernah bersyair:

Aku mengadukan kepada Waki’ (guru beliau) tentang jeleknya hapalan

Maka beliau membimbingku untuk meninggalkan perbuatan maksiat

Dan berkata, ‘Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya

Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat’

2. Barangsiapa ingin agar Allah membukakan hatinya atau meneranginya, maka dia harus meninggalkan pembicaraan yang tidak bermanfaat, meninggalkan dosa-dosa, menghindari perbuatan-perbuatan maksiat dan menyembunyikan amalan yang dikerjakan antara dia dan Allah. Jika dia mengerjakan hal tersebut, maka Allah akan membukakan ilmu baginya yang akan menyibukkan dia dari yang lainnya. Sesungguhnya dalam kematian terdapat perkara yang menyibukkan.”

3. Berdebat di dalam masalah agama akan mengeraskan hati dan menimbulkan kedengkian.

4. Beliau pernah bersyair:

Bersabarlah atas pahitnya kekerasan seorang guru

Sesungguhnya kegagalan ilmu jika lari darinya

Barangsiapa tidak merasakan pahitnya belajar sesaat

Akan mereguk hinanya kebodohan sepanjang hidupnya

Barangsiapa luput darinya belajar pada waktu mudanya

Maka bertakbirlah atasnya empat kali atas kematiannya

5. Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , maka berpeganglah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, dan buanglah ucapanku.

6. Jika ada sebuah hadits yang shahih, maka itulah madzhabku.

7. Keridhoan manusia adalah sesuatu yang tidak akan pernah tercapai, dan tidak ada jalan menuju keselamatan dari mereka, maka wajib bagimu melakukan sesuatu yang bisa memberi kemanfaatan kepadamu dan berpegang teguhlah dengannya.

8. Yang dinamakan dengan ilmu itu adalah sesuatu yang bisa memberi kemanfaatan dan tidaklah yang dinamakan dengan ilmu itu adalah sesuatu yang sekedar dihapal.

Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=488