MENGINGKARI BID’AH DI MAJLIS

MENGINGKARI BID’AH DI MAJLIS

 

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihi hafizhahullah berkata,

إذا جلس الإنسان في مجلس فيه صاحب بدعة، وهو يظهر بدعته، وسكت الجالس ولم ينكر، ولم يقم وهو يستطيع، فهو مبتدع مثله، فالواجب عليه، إما ينكر البدعة أو يقوم.

“Apabila seseorang duduk di suatu majlis yang di situ ada MUBTADI’ (pelaku bid’ah) dan ia menampakkan kebid’ahannya, sementara orang yg duduk tersebut diam tdk mengingkari, tidak pula berdiri (meninggalkannya) padahal ia sanggup, maka dia (digolongkan sebagai) MUBTADI’ (pelaku bid’ah) sepertinya. Maka yg wajib atasnya adalah: dia mengingkari bid’ah, atau ia berdiri (meninggalkannya).”

 

Sumber: Al-I’anah ala Taqribis Syarhi wal Ibanah, hal 258
Diterjemahkan Oleh: al-Ustadz Abu Ja’far Hafizhahullah


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/279




TIDAK… TAPI ALLAH AKAN MENGADZABMU KARENA MENYELISIHI SUNNAH

 

TIDAK… TAPI ALLAH AKAN MENGADZABMU KARENA MENYELISIHI SUNNAH

 

Suatu hari Said bin Al Musayyib melihat seseorang melakukan shalat dengan jumlah rakaat yang banyak sekali pada waktu-waktu terlarang, kemudian beliau melarangnya.

Orang tersebut berkata:

“Hai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengadzabku karena shalat?”.

Said menjawab: “Tidak. Namun Allah akan mengadzabmu karena kamu (beribadah) tidak sesuai sunnah”.

Berkata Asy Syaikh Al Albani:
“Ini merupakan jawaban luar biasa dari Said bin Al Musayyib. Dan jawaban ini merupakan senjata ampuh untuk mematahkan argumen mereka yang menganggap baik banyak kebid’ahan, dan menuduh miring Ahlus Sunnah dengan menyatakan sebagai pengingkar dzikir dan shalat. Akan tetapi sebenarnya Ahlus Sunnah hanyalah mengingkari (ibadah) Ahlul Bid’ah yang tidak sesuai Sunnah.” (Irwaul Ghalil 2/236)

 

💡 انتبه بارك الله فيك

رأى سعيد بن المسيب رحمه الله رجلا يصلي في وقت النهي ركعات كثيرة فنهاه، فقال: يا أبا محمد

» يعذبني الله على الصلاة ؟!! قال : لا ولكن يعذبك على خلاف السنة .

– قال الإمام الألباني رحمه الله: وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب، وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع ويتهمون أهل السنة بأنهم ينكرون الذكر والصلاة، وهم إنما ينكرون عليهم مخالفتهم للسنة . [ إرواء الغليل (٢٣٦\٢) ]

املؤوا الدنيا علما: يوصى بنشرها

Sumber: Channel telegram Syaikh Fawwaz al-Madkhali Hafizhahullah

Diterjemahkan Oleh: Al-Ustadz Abdul Wahid bin Faiz At-Tamimi Hafizhahullah


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/267




HUKUM MERAYAKAN MALAM NISHFU SYA’BAN

HUKUM MERAYAKAN MALAM NISHFU SYA’BAN

 

Asy syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya:

“Apakah boleh merayakan malam nishfu (pertengahan) sya’ban dan menghidupkan malam tersebut (dengan ibadah, pen) ? “

Beliau menjawab, “Tidak boleh merayakan malam nishfu sya’ban, ia tdk ada asalnya (dalam agama,pen), dan tidak pula (merayakan) malam 27 rajab yg mereka namakan malam isra’ mi’raj, semua itu adalah bid’ah.

‼️ Tidak dilakukan perayaan malam nishfu sya’ban, tidak pula malam 27 rajab, ini semua termasuk bid’ah yang diada-adakan oleh manusia.

Demikian pula perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah bid’ah, tidak boleh merayakan maulid nabi, tidak pula malam nishfu sya’ban, dan tidak pula malam 27 rajab yg mereka namakan dgn malam isra’ mi’raj, INI SEMUA ADALAH BID’AH.

(amalan tersebut,pen) tidak diamalkan oleh Rasulullah dan khulafa ar rasyidun, serta para sahabat nabi (yang lainnya). dan tidak pula diamalkan oleh salafus sholih pada tiga generasi utama. Bahkan ini adalah sesuatu yg diada-adakan oleh manusia. Kita memohon kepada Allah keselamatan.”

Sumber: http://cutt.us/TFdC
Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Ja’far Jember hafizhahullah


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com




BERAMAL SESUAI SUNNAH

BERAMAL SESUAI SUNNAH

 

Mathor al-Warraq rahimahullahu Ta’ala berkata,

عَمَلٌ قَلِيلٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ فِي بِدْعَةٍ، وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا فِي سُنَّةٍ قَبِلَ اللهُ مِنْهُ عَمَلَهُ، وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا فِي بِدْعَةٍ رَدَّ اللهُ عَلَيْهِ بِدْعَتَهُ

“Amalan yang sedikit namun sesuai sunnah lebih baik dari amalan yang banyak di atas bid’ah. Barangsiapa melakukan amalan sesuai sunnah maka Allah akan menerima amalan tersebut darinya, dan barangsiapa melakukan amalan dalam kebid’ahan maka Allah akan tolak (kembalikan) kebid’ahan tersebut kepadanya.”

Al-Imam Malik bin Dinar rahimahullah berkata tentang Mathor, “Semoga Allah merahmati Mathor. Sungguh aku benar-benar mengharapkan surga baginya.”

Lihat Hilyatul Aulia (3/75)
Oleh Tim Warisan Salaf

———–

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/260




HUKUM ZIARAH KUBUR UNTUK TUJUAN BERDO’A

HUKUM ZIARAH KUBUR UNTUK TUJUAN BERDO’A

 

Asy Syaikh Shalih al Fauzan hafizhahullah ditanya, “apakah boleh ziarah kubur hanya untuk berdoa saja?”

Syaikh bertanya : doa apa?

Kemudian beliau menjawab,

“(kalau) doa untuk mayyit boleh. Engkau berziarah untuk mengucapkan salam kepadanya dan engkau doakan dia dengan ampunan dan rahmat, ini baik.

‼️ Adapun engkau menziarahinya agar engkau berdoa bagi dirimu di sisi kuburan dan engkau menyangka bahwa ini sebab terkabulnya doa, maka ini bid’ah dan wasilah (perantara) kepada kesyirikan”.

 

—————–

السُّؤَالُ: هل يجوز زيارة القبور للدعاء فقط؟ الشيخ: ما هو الدعاء؟
الجَوَابُ: ” الدعاء للميت نعم، تزوره لتسلم عليه وتدعوا له بالمغفرة والرحمة هذا طيب، أما تزوره تدعو لك لنفسك عندها وتظن أن هذا سبب لإجابة الدعاء هذا بدعة، ووسيلة إلى الشرك “ .

—————–

 

Sumber Fatwa: http://cutt.us/I6fmN
Diterjemahkan oleh: Al-Ustadz Abu Ja’far Hafizhahullahu Ta’ala
—————–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/255




MENGAMBIL ILMU DARI AHLUSSUNNAH

MENGAMBIL ILMU DARI AHLUSSUNNAH

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda,

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Akan muncul pada akhir jaman sekelompok manusia yang akan menceritakan hadits kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian mendengarnya demikian juga bapak-bapak kalian. Maka berhati-hatilah kalian dari mereka.” (HR. Muslim no.6)

Al-Imam Al-Baghawi Rahimahullah menyebutkan kesepakatan ulama salaf dalam memboikot ahlul bid’ah, beliau berkata,

وَقَدْ مَضَتِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ وَأَتْبَاعُهُمْ، وَعُلَمَاءُ السُّنَّةِ عَلَى هَذَا مُجْمِعِينَ مُتَّفِقِينَ عَلَى مُعَادَاةِ أَهْلِ الْبِدْعَةِ، وَمُهَاجَرَتِهِمْ

“dan telah berlalu para shahabat, tabi’in, dan pengikut mereka, serta ulama sunnah atas perkara ini, yaitu mereka bersepakat untuk memusuhi ahlul bid’ah dan memboikot mereka.” (Syarhus Sunnah 1/227)

Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata,

 

“Tiga (jenis manusia) yang tidak diambil (ilmunya) dari mereka, yaitu:

  1. Orang yang tertuduh melakukan kedustaan
  2. Pelaku kebid’ahan yang menyeruh kepada bid’ahnya
  3. dan seseorang yang cenderung keliru dan salah

 

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,

“Semoga Allah menghinakan al-Karobisi, tidak boleh dijadikan teman duduk, tidak boleh diajak bicara, tidak boleh disalin kitab-kitabnya, dan kami tidak duduk bersama orang yang duduk dengannya.”

Abdul Wahhab Al-Khaffaf rahimahullah berkata,

“Aku melewati Amr bin Ubaid (tokoh mu’tazilah,pen) sedang duduk sendirian.

Maka aku bertanya kepadanya, ‘apa yang terjadi denganmu sehingga manusia meninggalkanmu?’
Ia menjawab, ‘Ibnu ‘Aun (ulama sunnah,pen) telah melarang manusia dariku, maka mereka pun pergi (meninggalkanku).” (Mizanul I’tidal 3/274)

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata,

“Barangsiapa mendengar dari ahli bid’ah, maka Allah tidak akan memberi manfaat dengan apa yang ia dengar. dan barangsiapa berjabatan tangan dengannya, maka sungguh ia telah melepas Islam seutas demi seutas.” (Al-Jami’ Li AKhlaqi Ar-Rawi 1/138 hal.163)

Al-Qahthani rahimahullah berkata dalam bait syar’irnya,

Tidaklah berteman dengan ahli bid’ah kecuali orang yang sepertinya …

di bawah asap ada api yang berkobar..

Oleh karena itu, janganlah mengambil ilmu dari ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang atau memiliki penyakit di dalam hatinya. Karena mengambil ilmu dari mereka akan mewariskan penyimpangan dari al-haq baik disadari ataupun tidak.

Bundar Ibnul Husein rahimahullah berkata, “Berteman dengan ahli bid’ah akan mewariskan berpalingnya dari kebenaran.” (As-Siyar 16/106)

Sehingga, jangan pedulikan orang yang mengatakan “aku akan mengambil ilmu dari siapa pun” atau “aku akan mengambil yang baiknya saja, adapun yang jelek aku tinggalkan”

 

Sebenarnya, mereka sedang mempertaruhkan hidayah yang telah Allah berikan kepada mereka.. Allahul musta’an

 

Semoga bermanfaat
Referensi: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi (hal.24-28)
Oleh: Tim Warisan Salaf
———–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

———–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/229




3 GOLONGAN MANUSIA PADA HARI KIAMAT

3 GOLONGAN MANUSIA PADA HARI KIAMAT

 

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah berkata,

“Pada hari kiamat nanti manusia terbagi menjadi tiga golongan:

Golongan Pertama adalah orang-orang Beriman yang bertakwa.

  • (Tempat kembali mereka) ke dalam Jannah.
  • Kuburan mereka berupa taman dari taman-taman Jannah.
  • Dibukakan untuknya sebuah pintu menuju Jannah. Sehingga kenikmatan, luasnya, dan aromanya menghampiri mereka,
  • Sebagaimana kabar yang datang dari Rasulullah – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ -.

Golongan Kedua adalah orang-orang kafir yang berhak memperoleh adzab Allah dan murka-Nya, dan penjara di negeri yang penuh dengan kehinaan yaitu Api Neraka.

  • Kuburan mereka penuh dengan siksa dan adzab. (Berupa) Kobangan yang berasal dari Api Neraka.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala keselamatan (untuk diri-diri kita dari adzab-Nya).

(Itulah) adzab yang disegerakan.

Golongan Ketiga adalah pelaku maksiat, mereka bukan orang kafir dan bukan orang mukmin yang sempurna keimanannya. Bahkan mereka memiliki dosa dan kemaksiatan.

Mereka berada pada satu dari dua kemungkinan;

  • Di adzab di dalam kuburnya.
  • Atau diselamatkan (dari adzab).

 

Pada hari kiamat (nasib mereka) juga seperti itu:
Ada kemungkinan diampuni dan dimasukkan ke dalam Jannah. Karena sebab keislaman mereka atau tauhid mereka serta keimanan yang masih mereka miliki, tentunya juga karena keutamaan dari Allah.

Atau (dia selamat) karena mendapatkan syafa’at dari para malaikat, para nabi, atau bayi yang meninggal, atau yang semisalnya.

Atau kemungkinannya mereka mendapatkan adzab sesuai dengan kadar dosa mereka. Kemudian setelah kotoran dosa mereka dibersihkan di dalam Api Neraka, mereka dipindahkan ke dalam Jannah.

Selesai –

 

Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar dimasukkan ke dalam Jannah, dan dijauhkan dari Siksa-Nya. Aamiin

 

 

Sumber: Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb Li Ibni Baaz (4/332)
Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan
…………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

…………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/190




7 Alasan Mengapa Syirik Menjadi Dosa Besar yang Paling Besar (Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Para pembaca rahimakumullah, menyekutukan Allah dalam peribadatan merupakan dosa besar yang paling besar, di dalam Islam ia diistilahkan dengan perbuatan syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan syirik sebagai dosa yang tidak ada tandingannya, dimana pelakunya akan dikeluarkan dari bingkaian Islam dan akan menetap di dalam neraka selama-lamanya.

Di dalam Al-Qur’an berulang kali Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya dari perbuatan ini. Bahkan larangan pertama di dalam Al-Qur’an ialah larangan dari perbuatan syirik. Allah berfirman di dalam surat Al-Baqarah (2:22),

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka janganlah kalian menjadikan bagi Allah tandingan-tandingan dalam keadaan kalian mengetahui.”

Barangkali ada yang bertanya-tanya, mengapa syirik digolongkan menjadi dosa besar yang paling besar? Pertanyaan penting ini telah dijawab dengan detil oleh Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullahu Ta’ala dalam kitabnya At-Tauhid, pada halaman 10 beliau menyebutkan bahwasanya syirik adalah dosa yang paling besar. Kemudian beliau menyebutkan tujuh (7) alasannya,

  1. Dikarenakan perbuatan syirik hakekatnya adalah menyerupakan makhluk dengan Sang Kholiq (Pencipta) dalam hal kekhususan peribadahan. Siapa saja yang menyekutukan Allah dengan suatu makhluq maka hakekatnya dia telah menyamakan antara keduanya. Tentu saja ini kezhaliman yang paling besar, Allah berfiman, “Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang paling besar.” (QS Luqman:13), makna dzalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada posisinya. Ketika seorang hamba beribadah kepada selain Allah berarti ia telah meletakkan peribadahan tidak pada tempatnya yang tepat.
  2. Dosa syirik tidak akan mendapat ampunan Allah. Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” ( An-Nisa:48)
  3. Allah mengharamkan Al-Jannah (surga) bagi pelaku kesyirikan, dan dia akan kekal berada di dalam neraka Jahannam. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” ( Al-Maidah:72)
  4. Syirik menghapus segala amal kebaikan, Allah berfirman, “seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” ( Al-An’am:88), dalam ayat lain Allah berfirman, “dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar:65)
  5. Pelaku kesyirikan halal darah dan hartanya (tentu saja bagi pemerintah kaum muslimin dan bukan kepada setiap individu muslim). Allah Ta’ala berfirman, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian.” ( At-Taubah:5), dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH, apabila mereka telah mengucapkannya maka darah dan harta mereka telah terlindungi dariku kecuali dengan haknya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  6. Syirik merupakan dosa besar yang paling besar sebagaimana dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Maukah aku beritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar?” para shahabat menjawab, tentu wahai Rasulullah. Beliau mengatakan, “yaitu penyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” ( Al-Bukhari dan Muslim)
  7. Syirik merupakan bentuk kekurangan dan aib yang telah Allah bersihkan diri-Nya darinya. Ketika seseorang berani memberikan sekutu bagi Allah padahal sekutu telah Allah tiadakan untuk dirinya, maka ini merupakan puncak perbuatan lancang dan durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diringkas dari kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullahu Ta’ala (hal.10)

ADMIN WARISAN SALAF




Menelisik Berbagai Tradisi di Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, bulan ini berada pada urutan pertama penanggalan hijriyah sejak diresmikan oleh Khalifah Umar bin KhattabRadhiallahu ‘anhu.

Pada mulanya, terjadi silang pendapat di antara para shahabat dalam menentukan awal masuk kalender Islam, dengan bulan apa dimulai? Sebagian mereka mengusulkan dimulai dengan bulan Rabi’ul Awwal, sebagian lagi mengusulkan dengan bulan Ramadhan. Namun, Khalifah Umar dan sejumlah shahabat lainnya lebih memilih bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, dengan alasan bahwa di bulan inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membulatkan tekadnya untuk berhijrah ke negeri Madinah. Oleh karena itu, penanggalan Umar ini disebut penanggalan hijriyyah. (Al-Bidayah wa An-Nihayah)

Bulan Muharram Menurut Islam

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam Islam yang tersebut dalam Al-Qur’an,

إِنَّ عِدَّةَالشُّهُورِعِنْدَاللَّهِ اثْنَاعَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.”  (QS. At-Taubah: 36)

Keempat bulan itu adalah: Muharram, Rajab, Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah, sebagaimana yang dideklarasikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada saat haji perpisahan.

Disebut bulan haram karena ia mengandung kemuliaan lebih (dari bulan-bulan lainnya) dan karena pada bulan-bulan ini diharamkan untuk berperang. (Tafsir As-Sa’di, hal.192)

Cukuplah menunjukkan kemuliaan bulan Muharram ini ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjulukinya sebagai bulan Allah, beliau bersabda, “… yaitu bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim, no.1982)

Kata para ulama’, segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah itu memiliki kemuliaan lebih dari yang tidak disandarkan kepada-Nya, seperti baitullah (rumah Allah), rasulullah (utusan Allah), dll.

Dalam Islam, bulan Muharram memiliki nilai historis (sejarah) yang luar biasa; pada bulan ini, tepatnya pada tanggal sepuluh, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya serta menenggelamkan mereka di laut merah.

Di bulan ini juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertekad kuat untuk berhijrah ke negeri Madinah, setelah mendengar bahwa penduduknya siap berjanji setia membela dakwah beliau. Walaupun tekad kuat beliau ini baru bisa terealisasi pada bulan Shafar.

Selain itu, di bulan ini terdapat ibadah puasa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai puasa terbaik setelah Ramadhan, beliau bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah berpuasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim, no.1982 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Beliau ` juga bersabda ketika ditanya tentang keutamaannya: “Menghapuskan dosa-dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim, no.1977 dari shahabat Abu Qotadah Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu)

Berkaitan dengan puasa Asyuro, untuk lebih lengkapnya bisa dibaca kembali pada edisi sebelumnya.

Bulan Muharram Menurut Masyarakat Jawa

Bagi masyarakat Jawa, bulan Muharram atau yang lebih dikenal dengan bulan suro memiliki nilai religi yang tinggi. Bulan ini dianggap sebagai bulan keramat yang tidak boleh dibuat pesta dan bersenang-senang, sehingga banyak aktivitas yang ditunda atau bahkan dibatalkan. Lebih dari itu, mereka meyakini siapa yang mengadakan hajatan pada bulan ini akan ditimpa musibah dan malapetaka. Sebagai contoh adalah pernikahan, masyarakat Jawa pada umumnya, enggan menikahkan putra atau putri mereka di bulan ini karena khawatir ditimpa petaka dan kesengsaraan bagi kedua mempelai.

Ketika ditanya mengenai alasan mereka menilai bulan Muharram sebagai bulan keramat nan penuh pantangan, tidak ada Jawaban berarti dari mereka selain, ‘Beginilah tradisi kami’ atau‘Beginilah yang diajarkan bapak-bapak kami’.

Para pembaca rahimakumullah, sikap mengikuti tradisi atau leluhur tanpa bimbingan Islam adalah terlarang, bahkan sikap seperti ini termasuk sifat orang-orang jahiliyyah dan para pembangkang yang hidup jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Berkaitan dengan orang-orang Jahiliyyah, Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an menyebutkan Jawaban orang-orang Quraisy ketika diajak oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk meninggalkan kesyirikan, kata mereka:

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.”  (QS. Az-Zukhruf: 22)

Demikian pula Fir’aun, ketika diajak oleh Nabi Musa ‘Alaihis Salam agar beriman kepada Allah, ia malah berkata:

قَالُو اأَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا

“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya.” (QS. Yunus: 78)

Kemudian, anggapan sial untuk melakukan aktivitas di bulan Muharram yang diyakini oleh keumuman masyarakat Jawa saat ini dalam ajaran Islam disebut Tathoyur atau Thiyaroh, yaitu meyakini suatu keburuntungan atau kesialan didasarkan pada kejadian tertentu, atau tempat tertentu.

Anggapan seperti ini sebenarnya sudah ada sejak zaman jahiliyah. Setelah Islam datang, maka ia dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus ditinggalkan. Allah berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131)

Dalil yang menunjukkan bahwa Thatoyur atau Thiyaroh termasuk kesyirikan adalah sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاثًا

“Thiyaroh adalah kesyirikan”, beliau mengulangnya sebanyak tiga kali.” (HR. Ahmad dan Abu Daud, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu)

Apabila kita telah tahu bahwa anggapan sial atau keberuntungan seperti itu termasuk kesyirikan, kewajiban kita selanjutnya adalah menjauhinya dan menjauhkannya dari anak dan istri kita. Sehingga kita beserta keluarga kita tidak terjerembab kedalam kobangan dosa besar yang paling besar, yaitu dosa syirik.

Bulan Muharram Menurut Syi’ah

Berbeda halnya dengan orang-orang syi’ah, apabila keumuman masyarakat Jawa menjadikan bulan Muharram sebagai bulan pantangan untuk melakukan aktivitas tertentu, justru orang-orang syi’ah menjadikannya sebagai hari berkabung. Pada setiap tanggal 10 Muharram, orang-orang syi’ah di Iran mengadakan pawai akbar untuk memperingati hari terbunuhnya cucu RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam, Husein bin Ali Radhiallahu ‘anhuma di padang Karbala.

Acara rutin mereka tersebut dimulai sejak tanggal 1 sampai tanggal 10 Muharram. Pada tanggal 1 Muharram sampai tanggal 9 Muharram mereka mengadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju Al-Huseiniyah. Al-Huseiniyah adalah tempat ibadah syi’ah, kalau kaum muslimin menyebutnya masjid, tetapi biasanya Al-Huseiniyyah digunakan untuk makam Imam, bukan untuk shalat, sedang shalat dilakukan di luar bangunan. Penamaan ini diambil dari nama Imam syi’ah ke 3, yaitu Al-Imam Husein bin Ali radhiallahu ‘anhu.

Peserta pawai hanya mengenakan celana atau sarung saja sedangkan badannya terbuka. Selama pawai, mereka memukul-mukul dada dan punggungnya dengan rantai besi sehingga meninggalkan luka memar yang mencolok.

Kemudian, pada acara puncak, mereka mengenakan kain berwarna putih dan ikat kepala berwarna putih pula. Setelah itu, mereka menghantamkan pedang, pisau, atau benda tajam lainnya ke kepala dan dahi mereka sehingga darah pun bercucuran. Darah yang mengalir ke kain putih membuat suasana semakin haru dan duka, bahkan tak sedikit di antara mereka yang menangis histeris.

Demikianlah gambaran ringkas tentang aktivitas syi’ah di bulan Muharram. Seperti yang telah kami sebutkan, tujuan utama mereka adalah untuk mengenang terbunuhnya Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Para pembaca rahimakumullah, sebagai seorang muslim tentu kita juga sangat bersedih dengan peristiwa tragis nan menyayat hati yang menimpa cucu RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam itu. Namun, Islam melarang pemeluknya yang tertimpa musibah untuk berucap atau berbuat sesuatu yang menunjukkan ketidak-ridhaan kepada keputusan Allah, seperti, merobek baju, menampar pipi, menjambak rambut, menangis histeris, apalagi menyayat kepala dan dahi seperti yang dilakukan orang-orang syi’ah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bukan dari golongan kami barang siapa yang menampar pipi, menyobek baju, atau meratap dengan ratapan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Lebih dari itu, bagi wanita peratap yang mati dan belum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan pakaian dari tembaga yang meleleh, sebagaimana dijelaskan RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam haditsnya yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu.

Maka tahulah kita bahwa apa yang dilakukan orang-orang syi’ah tersebut bukan hanya tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Lebih parah lagi, di Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan, orang-orang syi’ah menutup acara mereka itu dengan ‘malam gembira’ berupa mut’ah (baca; zina) masal. Na’audzu billahi min dzalik.

Para pembaca rahimakumullah, peringatan 10 Muharram untuk mengenang terbunuhnya Imam Husein tidak hanya diadakan di Iran saja, tetapi juga di negara-negara lainnya, seperti India, Pakistan, Lebanon, dan juga Indonesia, hanya saja tata caranya berbeda.

Di Indonesia, contohnya, sudah menjadi acara rutin tahunan bagi syi’ah mengadakan acara ini yang mereka istilahkan dengan arba’in-an, yaitu mengenang 40 hari syahidnya Imam Huseinradhiallahu ‘anhu. Yang paling ‘unik’ adalah yang dilakukan orang-orang syi’ah dari kota Lawang, Bondowoso, Situbondo, dan beberapa daerah lainnya beberapa tahun silam, mereka menyelenggarakan ritual tahunan itu di Gereja Berzicht di kota Lawang, Jawa Timur. La haula wala quwwata illa billah.

Penutup

Para pembaca rahimakumullah, itulah fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat seputar perbedaan menyikapi bulan Muharram.

Sebagai seorang muslim seharusnya kita bisa membedakan antara syari’at dan perkara adat. Tentunya Syari’at harus dikedepankan walaupun menyelisih adat. Sebaliknya, adat harus disingkirkan ketika menyelisihi syari’at, demikianlah Islam. Karena dengan sikap inilah Islam akan jaya. Adapun jika umat masih mengedepankan adat dan tradisi, walaupun bertentangan dengan syari’at, maka pada saat itulah mereka akan ditimpa kehinaan dan kerendahan. Inilah makna hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

“Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi siapa saja yang menentang syari’atku.” (HR. Al-Bukhari, dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma)

Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan tambahan ilmu bagi saudara-saudaraku seiman dan semoga Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin…

Ditulis oleh Admin Warisan Salaf

Untuk Buletin Al-Ilmu




Menimbang Bimbingan Islam tentang Gelar “Pak Haji”

Pak Haji dan Bu Hajah adalah gelar bagi orang-orang yang sudah naik haji ke tanah suci, Makkah Al-Mukarromah.  Begitu bangganya kebanyakan orang-orang kita dengan gelar ini dan begitu senangnya bapak-bapak itu dipanggil dengan “Pak Haji” atau “IBu Hajah”

Berbagai macam tanda pengenal mereka kenakan agar orang-orang tidak salah memanggilnya. Dari sekedar memakai sarung dan baju koko, atau menyelempangkan sorban di pundaknya, atau membawa biji-bijian tasbih sambil komat kamit.

Disebagian daerah, sejak keberangkatan si calon Bapak Haji dan Ibu Hajah, keluarga yang ditinggal menyewa para tukang baca Al-Qur’an untuk membacakannya sampai bapak-bapak dan ibu-ibu itu pulang dari tanah suci.

Dan juga, setelah kembalinya dari tanah suci, pesta yang begitu istimewa dan meriah di adakan di rumah masing-masih Bapak-bapak Haji itu, tak lupa di pintu masuk rumah mereka tertulis dengan kaligrafi yang begitu cantik nan indah “Selamat Datang Pak Haji Pulan dari Tanah Suci”.

Semua itu, selain yang katanya untuk syukuran, juga untuk mengenalkan kepada masyarakat dan para tentangga bahwa bapak itu sudah naik haji, jadi memanggilnya harus “Pak Haji”.

Demikianlah keadaan masyarakat kita dan masyarakat beberapa negara tetangga. lebih parahnya, kalau dipanggil tanpa gelar tersebut mereka tidak menoleh, terkadang lirikan tajam juga akan di arahkan kepada anda.

Menanggapi realita di atas. Mari kita simak bersama nasehat dari Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimi, seorang alim besar dari negeri Madinah.

Pertanyaan diajukan kepada beliau, “Jama’ah Haji di tempat kami, apabila seorang dari mereka telah kembali (ke daerahnya) tidak rela dipanggil, “wahai fulan”, akan tetapi harus ditambah: “Haji Fulan”?

Beliau menjawab, “Ini perkara yang berbahaya sekali. Bahkan sebagiannya menggantungkan tanda di rumahnya, biar agar dipanggil “HAJI FULAN” dan meletakkan bingkai yang besar kemudian digantungkan di rumahnya, atau disetiap sisi di ruang tamu. Tidak diragukan lagi, (perbuatan seperti) tidak boleh, dan dikhawatirkan akan menyeretnya kepada RIYA’.

Para shahabat yang berjumlah 120 ribu, mereka juga telah menunaikan haji, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang digelari dengan “HAJI Fulan”. 

[ Sumber: http://www.alsoheemy.net/play.php?catsmktba=1966 ]

Demikianlah wahai saudaraku, wahai bapak dan ibu haji penjelasan Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi, ulama tersohor dari Madinah.

Sungguh beliau benar, betapa banyak gelar seperti itu menyeret pelakunya kepada perbuatan RIYA’, Sombong, dan bangga diri. Tidak diragukan lagi perkara tersebut adalah termasuk perbuatan dosa bosar yang tercela dalam Islam.

Semoga  Allah selalu meluruskan hati dan niat kita….. Amin ya Rabbal ‘alamin.