MINTALAH KEMUDAHAN KEPADA ALLAH TA’ALA

MINTALAH KEMUDAHAN KEPADA ALLAH TA’ALA

 

Ketahuilah saudara, Disaat engkau dirundung kesulitan, kepayahan, dan kesempitan kemudian engkau merengek meminta kepada Allah Ta’ala, pasti Allah akan memudahkan semua kesulitanmu.

Karena tiada yang dapat memudahkan kesulitan kecuali Allah ; Dia-lah Yang Maha kuasa atas segala sesuatu.

Di riwayatkan dari Shahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan dalam doanya,

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلًا إِذَا شِئْتَ

“Ya Allah…, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkaulah yang menjadikan kesulitan ini mudah jika Engkau berkehendak.”

[HR. Ibnu Hibban di dalam Shohihnya no.974, Ibnus-Sunni di dalam ‘Amalul Yaum wal-Lailah no.351, Al-Baihaqi di dalam Ad-Da’awatul Kabir no.266, Abu Nu’aim di dalam Akhbar Ashfahan (2/276)]

Hadits ini dishohihkan oleh Al-Imam Al-Albani Rohimahullah dalam kitabnya Ash-Shohihhah no.2886.

Wallahul-Musta’an

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan
—————–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/248




MENYIA-NYIAKAN UMUR

MENYIA-NYIAKAN UMUR

Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata,

مَنْ عَلِمَ أَنَّ الْعُمْرَ بِضَاعَةٌ يَسِيرَةٌ يُسَافِرُ بِهَا إِلَى الْبَقَاءِ الدَّائِمِ فِي الْجَنَّةِ لَمْ يُضَيِّعْهُ

“Barangsiapa mengetahui bahwasanya umur merupakan perbekalan yang sedikit untuk bersafar menuju tempat kekekalan abadi di surga, niscaya dia tidak akan menyia-nyiakannya .”


Sumber: Hifzhul ‘Umr (hal.58)
Oleh Tim Warisan Salaf

———————

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

———————

Link Telegram: https://telegram.me/warisansalaf/246




BERHIAS DENGAN SIFAT JUJUR

BERHIAS DENGAN SIFAT JUJUR

 

Jujur adalah sebuah berita (khabar) yang sesuai dengan kenyataan. Apabila seseorang mengkhabarkan tentang sesuatu yang sesuai dengan kenyataan maka dia telah berkata jujur, jika ternyata tidak sesuai maka dia berdusta.

 

Kejujuran bisa terwujud dalam bentuk ucapan dan berbuatan
Jujur dalam perbuatan ialah berlarasannya hati dengan pelaksanaan. Dimana perbuatan yang dilakukan oleh seseorang mencocoki apa yang ada di dalam batinnya.

 

Sehingga,

  • Orang yang riya bukan orang yang jujur, karena dia menampakkan kepada manusia sebagai ahli ibadah padahal batinnya tidak..
  • Pelaku kesyirikan bukan orang yang jujur, karena dia menampakkan sebagai orang yang bertauhid nyatanya tidak…
  • Orang munafik bukan orang yang jujur, karena ia menampakkan keimanan ternyata tidak…
  • Pelaku bid’ah juga bukan orang yang jujur, karena ia menampakkan mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam padahal tidak…

Jujur merupakan ciri khas seorang mukmin, dan dusta adalah ciri orang munafik. Maka berhiaslah dengan sifat jujur walaupun itu berat.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah. dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah:119)

Sumber Panduan: Syarah Riyadhus Shalihin (1/290)
Oleh Tim Warisan Salaf

————-
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

————-

Link Telegram: https://telegram.dog/warisansalaf/235 




MENDO’AKAN SYAIKH (GURU) DAN MENGAKUI KEUTAMAAN MEREKA

MENDO’AKAN SYAIKH (GURU) DAN MENGAKUI KEUTAMAAN MEREKA

 

Mendo’akan guru yang telah mengajarkan ilmu agama merupakan bagian dari adab penuntut ilmu. Dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

وَمَنْ أَتَى إِليْكُم مَعْروفاً فَكَافِئُوه فَإِنْ لَمْ تَجِدوا فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعلَمَ أن قَد كَافَئْتُمُوه

“Dan barangsiapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikannya. Jika kamu tidak mampu (membalas kebaikannya) maka berdoalah kebaikan untuknya hingga ia mengetahui bahwa kalian telah membalasnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod no.216)

Jika saja seseorang diperintahkan agar membalas kebaikan orang yang berjasa kepadanya dalam urusan dunia walaupun sekadar dengan do’a, maka membalas jasa syaikh atau ustadz yang telah mengajarkan ilmu agama tentu lebih utama.

Oleh karena itu, kita dapati para ulama salaf rahimahumullah mendo’akan guru-guru mereka dan mengakui bahwa ilmu yang mereka miliki merupakan berkat jasa mereka, ba’dallah.

Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata,

“Apa yang kalian lihat ini (yakni ilmu yang beliau sampaikan,pen) atau keumumannya yang aku miliki adalah dari Asy-Syafi’i.” (Al-Intiqo’ li Ibni Abdil Barr hal.76)

 

Yahya bin Sa’id Al-Qatthan Rahimahullah berkata,
“Aku mendo’akan kebaikan bagi Asy-Syafi’i hingga di dalam shalatku.” (Al-Intiqo’ hal 72)

 

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
“Malik adalah pengajarku dan darinyalah aku mengambil ilmu.”

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
“dan bagi seorang pelajar hendaknya ia mengetahui kehormatan ustadznya dan berterima kasih atas kebaikannya kepada dirinya. Karena sesungguhnya orang yang tidak berterima kasih kepada manusia hakekatnya ia tidak bersyukur kepada Allah, dan (hendaknya) ia tidak mengabaikan haknya dan tidak mengingkari kebaikannya.” (Majmu’ Fatawa 28/17)

Sehingga, marilah kita berterima kasih kepada para ustadz kita dengan membalas kebaikan mereka, atau setidaknya mendo’akan kebaikan untuk mereka. Semoga Allah menjadikan ilmu yang telah mereka ajarkan kepada kita sebagai amal shalih yang terus mengalir pahalanya, dan (semoga mereka) diberi keistiqomahan hingga bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, amin.

Wallahu ‘alam.

 

Panduan Aqwal Ulama: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi (hal.173)
Oleh: Tim Warisan Salaf
……………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

……………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/231




MENJAGA RAHASIA

MENJAGA RAHASIA

 

Rahasia adalah apa yang terjadi secara tersembunyi antara seseorang dengan temannya. Tidak halal baginya menyebarkan rahasia tersebut atau menceritakannya kepada orang lain.

Dan rahasia bisa diketahui dengan salah satu dari tiga hal:

Pertama: Ia mengatakan kepadamu “Jangan beritahu siapa pun.”

Kedua: Adanya indikasi dari perbuatannya bahwa ia tidak suka diketahui oleh orang lain, contohnya: ia menoleh ke kanan dan ke kiri pada saat menceritakan sesuatu tersebut.

Ketiga: Apa yang dia ceritakan merupakan perkara yang malu atau perkara yang takut bila diketahui oleh orang lain, seperti menceritakan tentang permasalahan pribadi atau keluarganya.

 

Jika terdapat salah satu dari tiga keadaan di atas, maka tidak halal bagi seseorang untuk menyebarkan rahasia saudaranya, walaupun dia tidak mengatakan, “jangan beritahu orang lain.”

 

Allah berfirman, “dan penuhilah janji, karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra:34)

 
Sumber Panduan: Syarah Riyadhus Shalihin Ibnu Utsaimin (4/36)
Disajikan oleh: Tim Warisan Salaf
……………………..
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

……………………..

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/226




CARA BERTAUBAT DARI PERBUATAN GHIBAH

CARA BERTAUBAT DARI PERBUATAN GHIBAH

 

Bertaubat dari perbuatan ghibah adalah seperti bertaubat dari dosa-dosa yang lainnya, yaitu harus terpenuhi padanya 5 syarat taubat:

  1. Ikhlas hanya mengharap wajah Allah. Bukan karena ingin dilihat atau dipuji manusia.
  2. Menyesal dari perbuatan tersebut. Karena penyesalan adalah bukti kejujuran taubatnya.
  3. Melepaskan dirinya dari perbuatan tersebut.
  4. Bertekad untuk tidak mengulanginya.
  5. Bertaubat sebelum nyawa sampai di kerongkongan dan sebelum terbitnya matahari dari arah barat.

Sebagai bentuk melepaskan dirinya dari perbuatan ghibah, maka sebagian ulama ada yang perbendapat bahwasanya pelaku ghibah harus mendatangi orang yang dia ghibahi dan memohon maaf kepadanya.

Sedangkan ulama lainnya, dan ini merupakan pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah, memberikan perincian:

  • Apabila orang yang dighibahi mengetahui bila dirinya dibicarakan, maka orang yang melakukan ghibah harus mendatanginya dan meminta maaf kepadanya.
  • Adapun bila orang tersebut tidak mengetahuinya, maka orang yang melakukan ghibah tidak perlu mendatanginya. Dia cukup memohonkan ampunan bagi orang yang dia ghibahi dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat yang dahulu dia melakukan ghibah kepadanya.

 

Allah berfirman,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghilangkan kejelekan.” (QS. Hud:114)
Sumber Panduan: Syarah Riyadus Shalihin (1/90)
Disajikan oleh Tim Warisan Salaf

………………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/189




SEBELUM ANDA TIDUR…

✅ Islam sebagai agama yang sempurna telah mengajarkan beberapa adab mulia yang sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim ketika hendak tidur. Di antara adab-adab tersebut adalah:

? Mematikan lampu
? Hanya berlaku bagi lampu yang dinyalakan dengan api.
Di dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diceritakan, “Bahwasanya di Kota Madinah ada sebuah rumah yang terbakar di malam hari. Ketika disampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang peristiwa tersebut, maka beliau bersabda,
? “Sesungguhnya api ini adalah musuh bagi kalian. Apabila kalian hendak tidur maka padamkanlah.”

? Menutup Pintu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Bersabda, “dan tutuplah pintu-pintu, karena Syaithan tidak dapat membuka pintu yang tertutup.” (Hadits Jabir bin Abdillah diriwayatkan Imam Muslim)

☔️ Beruwudhu’ Terlebih Ketika dalam Keadaan Junub
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Bersabda, “Apabila kamu akan mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah seperti wudhu’ mu ketika hendak shalat…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

? Mengebuti Tempat Tidur dengan Membaca Basmalah
Ini adalah SUNNAH yang sering DITINGGALKAN. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Apabila salah seorang kalian hendak berbaring di tempat tidurnya, maka kebutilah tempat tidurnya dengan ujung sarungnya. Karena sesungguhnya dia tidak mengetahui apa yang akan menimpanya kemudian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Hendaknya ia mengucapkan bismillah…”

? Berbaring dengan Tubuh Bagian Kanan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah seperti wudhu’ mu ketika akan shalat, kemudian berbaringlah pada sisi kananmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

?? Meletakkan Tangan Kanan di Bawah Pipi
Shahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila telah berbaring di malam hari, maka beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya…” (HR. Al-Bukhari)

? Membaca Dzikir dan Do’a Tidur
Ada beberap do’a yang bisa dibaca ketika hendak tidur, di antaranya ialah:

? Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, Surat An-Naas : mengumpulkan kedua tangan, meniup keduanya kemudian membaca tiga surat tersebut. Lalu mengusapkan kedua tangannya ke bagian tubuh yang bisa terjangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan tubuhnya bagian depan.”

? Membaca Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, yaitu ayat 285 dan 286. Anda akan dijaga dari kejahatan Syaithan dan lainnya.

? Membaca ayat kursi. Anda akan dijaga dari gangguan Syaithan hingga pagi hari.

‼️ Jangan lupa membaca do’a, “BISMIKA ALLAHUMMA AMUUTU WA AHYA”
‼️ Dan ketika bangun membaca do’a, “ALHAMDULILLAHIL LADZI AHYANA BA’DA MA AMATANA WA ILAIHIN NUSYUR..

✳️ Jadikan tidurmu bernilai ibadah… dan Selamat bermimpi indah…

? Sumber: Hadits-Hadits Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam
? Disajikan oleh: Tim Warisan Salaf

〰〰〰
? Sebarkan Artikel ini kpd org yg anda cintai smg menjadi amal jariyah.
? Warisan Salaf menyajikan artikel dan Fatawa Ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah
? Ikuti Channel kami di telegram https://bit.ly/warisansalaf
? Situs Resmi http://www.warisansalaf.com




7 Amalan Sederhana yang Akan dibalas Dengan Istana di Surga (Asy-Syaikh Badr Al-Badr)

Alhamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Alihi wa Shahbihi wa man walah, wa ba’du:

Berikut ini adalah beberapa amalan yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya barangsiapa yang mengamalkannya akan Allah bangunkan untuknya istana di jannah (surga).

  1. Orang yang Membangun Masjid Karena Allah

Dari Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ‘alaihis Shalatu was Salam bersabda, “Barangsiapa membangun masjid karena mengharap wajah Allah, maka akan Allah bangunkan untuknya sebuah Istana di jannah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam permasalahan ini ada beberapa hadits, di antaranya ialah,

Hadits Pertama: dari Ali Radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no.744) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no.6127)

Hadits Kedua: dari Jabir Radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no.745) dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (no.1292), Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (no.6128), dan (Muqbil) Al-Wadi’I dalam Ash-Shahih Al-Musnad (no.224)

Hadits Ketiga: dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad (no.2156) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (no.6129)

Hadits Keempat: dari Amr bin ‘Abasah Radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Ahmad (no.19386) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (no.6130)

Hadits Kelima: dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (no.6130)

Hadits Keenam: dari Umar bin Al-Khattab Radhiallahu ‘anhu diriwayatkan Ibnu Majah (no.742), dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no.1606), dan dishahihkan Al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah (no.742)

Hadits Ketujuh: dari Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu ‘anhu dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no.1608)

  1. Membaca Surat Al-Ikhlas Sebanyak Sepuluh Kali (dalam sehari)

Dari Mu’adz bin Anas Radhiallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa membaca Qul Huwallahu Ahad hingga menyelesaikannya sebanyak sepuluh kali, maka akan Allah bangunkan untuknya sebuah istana di jannah.”

Diriwayatkan Ahmad (no.155788) dan Al-Albani berkata di dalam Ash-Shahihah (no.589), “Hasan dengan syawahid (penguat)nya.”

  1. Shalat Dhuha Empat Raka’at dan Qobliyah Zhuhur Empat Raka’at

Dari Abu Musa Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa shalat Dhuha empat raka’at dan sebelum (shalat) yang pertama (yakni Zhuhur) empat raka’at, maka akan dibangunkan untuknya istana di jannah.”

Diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (1/59), Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihah (no.2349), “Sanadnya Hasan”

  1. Shalat Empat Raka’at Qobliyah Zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah Isya’, dan dua raka’at sebelum shalat fajar (shubuh).

Dari Ummu Habibah Radhiallahu ‘anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat sunnah sebanyak dua belas raka’at dalam sehari semalam, maka akan Allah bangunkan untuknya istana di jannah.” Diriwayatkan Muslim (no.728), Abu Daud (no.1136), dan Ibnu Hibban dalam shahihnya (no.2442)

Dalam lafazh At-Tirmidzi dan dishahihkannya, “Barangsiapa melakukan shalat (sunnah) sebanyak dua belas raka’at dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan untuknya istana di jannah, yaitu: empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya’, dan dua raka’at sebelum shalat Al-Ghodah (yakni shalat shubuh).” Dishahihkan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (no.1188), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no.2443), dan Al-Albani dalam Al-Jami’ (no.6362)

Riwayat ini memiliki penguat dari Aisyah Radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, Barangsiapa yang terus menerus mengerjakan dua belas raka’at shalat sunnah, maka akan Allah bangunkan untuknya sebuah istana di jannah, yaitu: empat raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya’, dan dua raka’at sebelum (shalat) fajar.” Al-Mubarakfuri dalam At-Tuhfah (2/255) mengatakan, “Sanadnya tidak turun dari derajat hasan.”

  1. Perangai yang Baik, Meninggalkan Perdebatan dan Kedustaan

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Aku akan menjamin dengan istana di pinggiran jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun pada posisi benar, aku menjamin dengan istana di tengah jannah bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun sedang bercanda, dan aku menjamin dengan jannah yang paling tinggi bagi orang yang baik perangainya.” Diriwayatkan Abu Daud, dan dikatakan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no.273): “hasan dengan penguat-penguatnya.”

  1. Bersabar dan Mengharap Pahala Ketika Anaknya Meninggal

Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah berfirman kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’

Malaikat menjawab, ‘benar’,

Allah berfirman lagi, ‘apakah kalian mencabut nyawa buat hati hamba-Ku?’

Malaikat menjawab, ‘benar’

Allah berfirman, ‘apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?’

Malaikat menjawab, ‘dia memuji Engkau dan beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,pen),

maka Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku tersebut sebuah istana di jannah dan namailah istana tersebut dengan baitul hamdi (istana pujian).”

Diriwayatkan at-Tirmidzi (no.1021) dan beliau berkata, “hadits hasan gharib.” Dan dishahihkan Ibnu Hibban (no.2937)

  1. Berdo’a Ketika Memasuki Pasar

Dari Salim bin Abdullah bin Umar dari bapaknya Radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa berkata di pasar,

لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيء قدير

(artinya) tidak ada sesembahan yang hak diibadahi selain Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha menghidupkan dan Maha mematikan, Dia hidup tidak mati, di tangan-Nya lah segala kebaikan. Dan Dia Maha mampu atas segala sesuatu.”

Maka Allah akan menuliskan untuknya satu juta kebaikan dan menghapuskan darinya satu juta kejelekan, dan akan dibangunkan baginya sebuah istana di jannahh.”

Diriwayatkan at-Tirmidzi (no.3429) dan dihasankan Al-Albani. Berkata Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/539), “Hadits shahih.”

Ditulis oleh:

Badar bin Muhammad Al-Badar

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=154404




Perbaiki Makananmu Pasti Doamu Dikabulkan! (Syaikh Muhammad Hadi)

Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullahu Ta’ala ditanya, “Semoga Allah berbuat baik kepada anda dan memberkahi anda. Pertanyaanku adalah, apa saja sebab-sebab terkabulnya do’a? Dan apa yang dilakukan oleh seorang muslim apabila cobaan yang menimpanya bertambah berat?

Beliau menjawab, “Adapun sebab-sebab terkabulnya do’a ada banyak. Akan tetapi di antara yang paling penting adalah memperbaiki makanan. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

“أَطِبْ مطْعَمَك تكن مُجاب الدَّعوة”

 “Perbaikilah makananmu pasti engkau menjadi orang yang dikabulkan do’anya.”

Dan beliau menyebutkan (kisah) seseorang yang mengadakan perjalanan yang panjang, kusut dan berdebu, lalu ia mengangkat tangannya ke arah langit sembari menyeru, “wahai Rabbku, wahai Rabbku” Sementara makanannya haram, minumannya haram, dibesarkan dari yang haram, bagaimana mungkin do’any dikabulkan!”

Beliau menyebutkan di dalam hadits ini beberapa sebab terkabulnya do’a. Walaupun demikian, do’a orang itu ditolak karena adanya penghalang:

  1. Beliau menyebutkan safar (perjalanan), dan safar termasuk sebab terkabulnya do’a, seorang musafir do’anya akan dikabulkan.
  2. Demikian juga kondisi kusut dan berdebu, karena kondisi ini merupakan cirinya orang yang merendah diri kepada Allah Jalla wa ‘ala, bukan cirinya orang yang angkuh.
  3. Lalu dia mengangkat kedua tangannya ke arah langit, dia mengangkat tangannya, sementara Allah Maha Hayyiyun dan Maha Sittir, Allah malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya lalu Allah mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan). Orang tersebut mengangkat kedua tangannya dan mengangkat kedua tangan merupakan sebab terkabulnya do’a.
  4. Kemudian dia meminta dengan merengek kepada Allah “Wahai Rabbku wahai Rabbku” ini merupakan sebab keempat terkabulnya do’a. Dia menampakkan kebutuhannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Walaupun demikian, do’anya tetap tidak dikabulkan, padahal ada sebab-sebab (terkabulnya do’a) yang telah disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mengapa? Karena makanannya haram, pakaiannya haram, ia dibesarkan dari sesuatu yang haram. Bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?!

Maka atas dasar ini, hadits ini menunjukkan bahwasanya memperbaiki makanan dan pakaian merupakan sebab dikabulkannya do’a, dan makanan dan pakaian yang jelek termasuk perkara yang menghalangi terkabulnya do’a –semoga Allah memelihara kami dan kalian dari perkara tersebut-.

Sebab-sebab terkabulnya do’a amat banyak, hanyasaja perkara ini merupakan di antara yang paling tampak. Barangkali anakku sang penanya bisa merujuk kepada kitab-kitab yang membahas tentang ini.

 

Diterjemahkan dari: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=43395

Rekaman Suara bisa didownload di sini:

http://ar.miraath.net/fatwah/11195

=============

Adab Berdo’a Lainnya bisa dibaca dilink berikut:

Pentingnya Merengek di Dalam Berdo’a

Agar Do’a Anda Dikabulkan




HAKEKAT ILMU SYAR’I DAN PEMAHAMAN MANUSIA YANG KELIRU TENTANGNYA (SYAIKH ALI NASHIR AL-FAQIHI)

 Bismillahirrahmanirrahim.

Sekelumit tentang Asy-Syaikh Ali Al-Faqihi Hafizhahullahu Ta’ala:

Beliau adalah Asy-Syaikh Ali bin Muhammad bin Nashir Al-Faqihi Hafizhahullahu Ta’ala. Dilahirkan di Desa Al-Minjaroh, salah satu Desa di Kota Jazan (Saudi bagian selatan) pada tahun 1354 Hijriyah. Di Desa tersebut beliau tumbuh dan menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Tsanawiyah (di Indonesia, SMA). Dan melanjutkan hingga berhasil mendapatkan gelar Doktoral di Universitas Al-Malik Abdul ‘Aziz pada jurusan Syari’ah bagian Aqidah. Beliau belajar kepada beberapa ulama’ kibar, seperti Syaikh Abdullah Al-Qor’awi (penulis kitab Al-Jadid Syarah Kitab Tauhid), dan Syaikh Hafizh Al-Hakami (penulis kitab Ma’arijul Qabul).

======

Di dalam Syarah Ushul Sittah, ketika menjelaskan tentang Ilmu Syar’i dan pemahaman manusia yang salah tentangnya, beliau mengatakan,

Ilmu Syar’i adalah:

  • Ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits Nabi
  • Dan yang teriwayatkan dari shahabat dengan riwayat yang shahih.
  • Dan Ijma’ (kesepakatan ulama’)
  • Dan Qiyas yang bersumber dari ushul di atas (yaitu bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi).

Ini disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala, beliau menyatakan, “Inilah yang disebut ilmu.”

AL-Fiqhu fid Dien

Al-Fiqhu fid Diin (pemahaman ad-Diin). Ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah pasti akan dipahamkan tentang urusan agamanya.”

Dan Ketika Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang Syafa’at (Siapakah orang yang paling beruntung dengan syafa’atmu wahai Rasul? Tanya Abu Hurairah), maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Ahmad,

” لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَلَّا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ

 “Sungguh wahai Abu Hurairah, aku telah menduga bahwasanya tidak ada yang bertanya tentang hadits ini seorang pun sebelum engkau, karena aku melihat betapa semangatnya dirimu terhadap hadits.”

Hadits yang dimaksud dalam riwayat di atas adalah ilmu, karena hadits bila disebutkan secara mutlak maka maknanya adalah ilmu, yaitu ilmu Al-Qur’an dan ilmu sunnah.

Jenis ilmu inilah yang pantas untuk dinamakan dengan ilmu. Adapun ilmu dunia yang mana manusia mengambil manfaat darinya dalam hidupnya juga dinamakan ilmu, tapi selalu disebutkan dengan keterangan (yakni bukan ilmu mutlak), seperti ilmu kedokteran, ilmu tehnik, dan semua jenis ilmu ini selalu dikaitkan dengan sifatnya. Sedangkan ilmu mutlak (yakni tanpa penyandaran) adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwasanya manusia pada masa-masa belakangan ini telah berpaling dari makna ini, dimana mereka memaknakan ilmu dan al-fiqhu sebagai ucapan manusia. Dan mereka sudah tidak lagi merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengadakan beragam kebid’ahan yang bukan bagian dari agama. Anehnya yang seperti ini justru mereka anggap sebagai ilmu. Parahnya lagi, sebagian mereka, yakni dedengkot ahli khurafat sampai mengatakan kepada Ahlussunnah yang selalu berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, “Kalian mengambil ilmu kalian dari orang-orang yang sudah meninggal, sedangkan kami mengambilnya langsung dari yang masih hidup.” (maksud mereka) mengambil ilmu dari orang-orang yang sudah meninggal adalah, dari ulama’ fulan, dari ulama’ fulan, dari ulama fulan, sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan mereka mengaku mengambil ilmu langsung dari Al-Lauhul Mahfuzh. Tentu saja makna ini adalah mereka meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ilmu Syar’i dan hakekat ilmu yang diambil faedahnya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan yang diriwayatkan dari Shahabat Radhiallahu ‘anhum.

 =====

Demikian Faedah Ringkas yang kami sarikan dari Penjelasan Al-Ushul As-Sittah, pertemuan ke empat, oleh Asy-Syaikh Ali bin Nashir AL-Faqihi Hafizhahullahu Ta’ala.

Admin Warisan Salaf