ULAMA SALAF DAN MEMBACA AL-QUR’AN

 

Husein Al-‘Anqazi Rahimahullah berkata,

لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ المَوْتُ، بَكَتْ بِنْتُهُ. فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ القُرْآنَ فِي هَذَا البَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَفِ ختمة.

“Tatkala Abdullah bin Idris akan meninggal, putrinya pun menangis. Maka ia berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau menangis, wahai puteriku. Karena sungguh aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an di rumah ini sebanyak empat ribu kali.”

 

  • Abdullah bin Idris bin Yazid adalah seorang imam, al-hafizh, al-muqri’, panutan, dan syaikhul Islam.
    Beliau merupakan guru dari Abdullah bin Mubarak, Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, dan selain mereka.

 

Sumber:  Siyar A’lam An-Nubala (7/499)
Oleh: Tim Warisan Salaf
………………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/230




بسم الله الرحمن الرحيم

ويل لكل همزة لمزة * الذي جمع مالا وعدده * يحسب أن ماله أخلده * كلا لينبذن في الحطمة * وما أدراك ما الحطمة * نار الله الموقدة * التي تطلع على الأفئدة *إنها عليهم مؤصدة * في عمد ممددة

0)      Bismillahirrahmanirrahim..

1)      Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,

2)      Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,

3)      Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,

4)      Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam huthamah.

5)      Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?

6)      (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,

7)      Yang (membakar) sampai ke hati.

8)      Sesungguhnya apa itu ditutup rapat-rapat atas mereka,

9)      (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Berkata Asy-Syaikh Abdurrahman bin nashir As-Sa’di Rahimahullah Ta’ala:

(Kecelakaanlah) yaitu, ancaman, kebinasaan, dan adzab yang pedih (bagi setiap pengumpat lagi pencela) yaitu orang yang mengumpat manusia dengan perbuatannya dan mencela mereka dengan ucapannya. Al-hammaz adalah seorang yang mencela dan menghina manusia dengan isyarat dan perbuatan. Dan al-lammaz ialah orang yang mencela manusia dengan ucapannya.

Dan di antara sifat orang yang suka mengumpat dan mencela ini ialah mereka tidak memiliki ambisi selain mengumpulkan harta, menghitung-hitungnya, dan berusaha mendapatkannya. Tidak pernah terbetik pada mereka untuk menginfakkan harta tersebut kepada jalan kebaikan, untuk menyambung tali silaturahmi, dan selainnya.

(Dia mengira) dengan kebodohannya (bahwa hartanya dapat mengekalkannya) di dunia. Oleh karena itu tujuan dia dan usahanya adalah untuk menambah harta, yang dia anggap dapat memanjangkan umurnya. Dia tidak mengetahui padahal kebakhilan justru meretakkan umur, merobohkan tempat tinggal (membuat miskin,pen), dan bahwasanya kebaikan (itulah yang dapat) menambah umur.

(Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan) dilemparkan.

(ke dalam huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?) Ini sebagai bentuk pengagungan terhadapnya dan untuk menakut-nakuti akan keadaannya. Kemudian Allah menjelaskan dengan firmannya (yaitu api yang disediakan Allah yang dinyalakan) yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan (Yang) di antara kengeriannya adalah (membakar sampai ke hati) yaitu masuk dari tubuh hingga sampai ke hati.

Dan bersamaan dengan panasnya yang memuncak mereka dipenjara di dalamnya, mereka bahkan telah berputus asa agar bisa keluar darinya. Oleh karena itu Allah berfirman, (Sesungguhnya api itu ditutup rapat-rapat atas mereka) yaitu terkunci (sedang mereka itu diikat pada tiang-tiang) di belakang pintu-pintu neraka (tiang-tiang yang panjang) agar mereka tidak dapat keluar darinya “Setiap kali mereka hendak keluar darinya, maka mereka dikembalikan lagi ke dalamnya.”

Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Dan kita memohon kepada-Nya ampunan dan keselamatan.

Taisiru Al-Karim Ar-Rahman

oleh Al-Imam Abdurrahman As-Sa’di.




Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ditanya, ” Sesungguhnya aku sering membaca kitab tafsir Al-Qur’an, seperti kitab Shofwatut Tafasir dalam keadaan aku tidak suci, pada saat datang bulan, contohnya. Apakah perbuatanku ini keliru? Dan apakah aku berdosa?

Beliau Rahimahullah menjawab, “Tidak mengapa bagi wanita yang sedang haid dan nifas untuk membaca buku-buku tafsir. Tidak mengapa pula membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh Mushaf secara langsung, ini menurut pendapat yang kuat dari dua pendapat ulama’.

Adapun orang yang junub, maka tidak boleh membaca Al-Qur’an secara mutlak sampai ia mandi. Tapi dia boleh membaca buku-buku tafsir, hadits, dan selainnya tanpa membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang tercantum di buku tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “bahwasanya tidak ada sesuatu apapun yang dapat mencegah seseorang dari membaca Al-Qur’an kecuali junub.”

Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang terkandung dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan sanad yang bagus, dari Ali Radhiallahu ‘anhu , “Adapun orang yang junub tidak boleh (membaca Al-Qur’an) walaupun hanya satu ayat.”

Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2346




Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Semoga Allah selalu menjaganya, ditanya, “Aku pernah mendengar bahwa orang yang tidak bagus bacaan Al-Qur’annya akan berdosa karenanya, apakah hal tersebut benar? Dan apakah maknanya jika ia tidak membaca Al-Qur’an itu lebih afdhal daripada membacanya tetapi terbatah-batah?

beliau menjawab, Orang yang seperti ini ada dua keadaan:

  1. Pertama: Ia mampu memperbaiki kekeliruannya dalam membaca Al-Qur’an, seperti disekitarnya ada orang yang mampu membenarkan bacaannya atau mengajarinya bacaan yang benar. Maka dalam keadaan seperti ini tidak boleh baginya untuk terus berada di atas bacaannya yang terbatah-batah. Bahkan wajib baginya untuk membenarkan bacaannya dan memperbaikinya, karena dia masih memungkinkan untuk hal itu.
  2. Kedua: Ia tidak mampu memperbaiki bacaan (Al-Qur’annya). Maka yang seperti ini ia membaca sesuai kemampuannya dan jangan sampai meninggalkan bacaan Al-Qur’an, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat dan orang yang membaca Al-Qur’an dan dia terbatah-batah lagi kesulitan maka dia mendapat dua pahala.” HR. Muslim dalam Shahih-nya no (1/549) dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha.

Orang ini akan mendapatkan pahala membaca Al-Qur’an dan pahala (membacanya dalam keadaan) kesulitan.




Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsi wal Ifta’ ditanya, “Ketika seseorang sedang membaca Al-Qur’an kemudian ada orang yang lewat dan mengucapkan salam. Apakah boleh berhenti sejenak dari membaca dan memotongnya untuk menjawab salam?

Al-Lajnah Ad-Daimah menjawab, “Menjawab salam kepada orang yang mengucapkan salam kepadanya, kemudian ia melanjutkan kembali bacaan Al-Qur’annya adalah termasuk menggabungkan antara dua keutamaan (keutamaan membaca Al-Qur’an dan keutamaan menjawab salam,pent).”

Pemberi Fatwa:

Ketua: Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Bazz
Wakil: Asy-Syaikh Abdurrazaq ‘Afifi
Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudyan

Semoga Allah merahmati mereka semua…

Fatawa Al-Lajnanh Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’ , jilid 4 fatwa no. 8501




Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, semoga Allah selalu menjaganya dtanya: “Apakah membaca Al-Qur’an wajib menghadap ke arah kiblat?”

Beliau menjawab: “Seyogyanya untuk menghadap kiblat, karena membaca Al-Qur’an adalah ibadah, dan ibadah disunnahkan untuk dilakukan dengan menghadap kiblat. Apabila memungkinkan maka hal itu sebagai penyempurna, jika tidak (memungkinkan) maka tidak berdosa.”

Sumber: Al-Muntaqo min Fatawa Al-Fauzan jilid 2 fatwa no.15