SUNNAH YANG DITINGGALKAN

MAKMUM SUJUD SETELAH IMAM SEMPURNA SUJUD

 

Dari al-Barra’ bin Azib radhiallahu ‘anhu berkata:

كانوا يصلون مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإذا ركع ركعوا، وإذا قال: ” سمع الله لمن حمده ” لم يزالوا قياما حتى يروه قد وضع وجهه (وفي لفظ: جبهته) في الأرض، ثم يتبعونه

“Dahulu (para sahabat) shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Apabila beliau ruku’ maka mereka ruku’, dan apabila beliau mengucapkan

سمع الله لمن حمده

“sami’allahu liman hamidah”

Mereka tetap berdiri hingga mereka melihat beliau telah meletakkan wajahnya (dalam satu lafazh: dahinya) di tanah, kemudian mereka mengikuti beliau.” (HR. Muslim 2/46 dan Abu Daud no.622)

 

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata dalam Ash-Shahihah (6/225): “Aku mengeluarkan hadits ini di sini dikarenakan 2 hal:

Yang pertama: Bahwasanya mayoritas orang-orang yang shalat mereka tidak melakukan apa yg terkandung dalam hadits ini yaitu MENUNDA SUJUD hingga imam meletakkan dahinya di tanah. Aku tidak memperkecualikan seorangpun dari mereka, bahkan juga orang yg bersemangat mengikuti sunnah dari mereka (lalai dari perkara ini). Bisa jadi karena kejahilan (ketidak tahuan mereka) atau memang karena lalai darinya, kecuali siapa yang di kehendaki Allah dan itu sedikit sekali.

An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim berkata,

“Dalam hadits ini (menjelaskan) inilah adab dari adab-adab shalat, yaitu bahwasanya YANG SUNNAH adalah agar ma’mum tidak menunduk untuk sujud hingga imam meletakkan dahinya di tanah, kecuali apabila dia tau kondisinya bahwa jika dia menunda sampai batas ini maka imam akan bangkit dari sujud sebelum ia sempat sujud. Shahabat-shahabat kami (yakni dari madzhab syafi’i) rahimahumullah ta’ala berkata: “Dalam hadits ini dan hadits lainnya yang secara keseluruhannya menyimpulkan bahwasanya YANG SUNNAH bagi makmum adalah agar menunda sebentar dari imam, yaitu dengan memulai (melakukan) suatu rukun setelah imam (sempurna) melakukannya, dan sebelum ia (imam) selesai darinya.”

 

Sumber: Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (6/226)
Diterjemahkan oleh: Al-Ustadz Abu Ja’far hafizhahullah

 


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

Channel kami https://bit.ly/warisansalaf

Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/291




3 FUNGSI HADITS NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

BAGI AL-QUR’ANUL KARIM

Fungsi sunnah bagi Al-Qur’an ada tiga bagian:

1. Mendukung dan menguatkan hukum-hukum yang disebutkan di dalam Al-Qur’an secara global, seperti perintah untuk shalat, puasa, zakat, haji, dan yang lainnya tanpa perincian rukun dan hukum-hukumnya. Misalnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Islam dibangun di atas lima perkara: Persaksian bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa ramadhan, dan haji di baitullah.” (HR. Al-Bukhari no.8 dan Muslim no.22)

Hadits ini mendukung firman Allah Ta’ala, “Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah:110)

2. Merinci hukum-hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an, meliputi: men-taqyid (mengikat/membatasi) ayat yang mutlak, merinci ayat yang global, atau mengkhususkan ayat yang masih umum. Seperti hadits-hadits yang merinci hukum-hukum shalat, zakat, puasa, haji, jual beli, nikah, dan selainnyya. Ini merupakan fungsi terbesar Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap Al-Qur’an.

3. Menyebutkan hukum-hukum yang Al-Qur’an diam atasnya, tidak ada penyebutan wajib dan tidak pula meniadakannya. Seperti hadits-hadits yang menerangkan haramnya menikahi seorang wanita dan bibinya sekaligus, penghitungan warisan kakek, dan yang lainnya.

Inilah pembagian yang disebutkan oleh al-Imam Asy-Syafi’i, Ibnul Qoyyim, dan selain keduanya.

Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat

Panduan: Kitab At-Tamassuk bis Sunnah fil ‘Aqoidi wal Ahkam Karya Dr. Dhiyaur Rahman al-A’zhami
Oleh: Tim Warisan Salaf


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

Channel kami https://bit.ly/warisansalaf

Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/287




KELEMBUTAN ALLAH KEPADA UMAT INI

 

Al ‘Allamah Ubaid bin Abdillah Al Jabiri hafizhahullah Ta’ala berkata,

 “Kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ummat ini, tatkala Allah tidak menyegerakan siksaan bagi mereka sebagaimana Allah menyegerakan siksaan bagi para pendusta rasul-rasul (terdahulu,pen).”

 

In’amul Baari bi Syarhi Kitab Al I’tisham min Shahih Al Bukhari (hal.223)

[ قال العلامة عبيد بن عبد الله الجابري حفظه الله في ((إنعام الباري بشرح كتاب الاعتصام من صحيح البخاري)) (ص 223): ((لطفه سبحانه وتعالى بهذه الأمة؛ إذ لم يعاجلهم بالعقوبة كما عجل للمكذبين رسلهم عقوبتهم)) اهـ.

Diterjemahkan oleh: Al-Ustadz Abu Ja’far hafizhahullah


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com




BUKTI AGUNGNYA KEDUDUKAN SUNNAH

DI SISI PARA TABI’IN, AHLI HADITS, DAN FUQOHA

Di antara bukti yang menunjukkan agungnya kedudukan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sisi para tabi’in, ahli hadits, dan para ahli fikih adalah:

  • Semangat mereka di dalam menghafalnya, mempelajarinya, dan beribadah dengannya. Bahkan Kita dapati seorang di antara  mereka menghafal ribuan hadits.
  • Semangat mereka di dalam mencarinya, kita dapati kebanyakan mereka harus berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya hanya untuk mendapatkan sunnah tersebut dari para ulama. Bahkan, di antara mereka ada yang rela mengorbakan perjalanan sebulan lamanya hanya untuk mencari satu hadits.
  • Semangat mereka mengabadikannya dalam karya tulis mereka, ada yang berbentuk mushonnaf, jami’, mu’jam, musnad, kitab shahih, dan sunan.
  • Semangat mereka mempelajari perjalanan hidup para periwayatnya, mulai tahun kelahirannya dan tahun wafatnya, menjelaskan keadaan mereka yang kuat dan yang lemah, keadaan riwayat mereka dari gurunya yang kuat dan lemah, juga menjelaskan keadaan para huffazh yang kokoh dan para pengkritik yang menonjol, menjelaskan para periwayat yang berubah hafalannya dan mulai kapan berubahnya, dan menjelaskan murid-murid yang meriwayatkan sebelum gurunya berubah hafalan.

Semua ini akan kita dapati dalam kitab-kitab rijal yang terkenal, bahkan ada kitab-kitab yang khusus membahas tentang para huffazh dan tingkatan mereka, ada juga kitab tentang periwayat mudallis dan tingkatan mereka, dan kitab yang membahas periwayat yang telah berubah hafalannya, dan kitab yang membahas tentang periwayat yang lemah dan ditinggalkan. Dan mereka (yakni tabi’in dan ahli hadits) telah menulis kitab-kitab tentang ilmu hadits, dan kitab tentang hadits palsu dan periwayat yang memalsukan hadits.

Wallahu a’lam

Sumber Panduan: kitab Hujjiyatu Khabaril Ahaad fil ‘Aqoidi wal Ahkam karya Syaikh Rabi (hal.17)

Oleh: Tim Warisan Salaf


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/281




ORANG YANG TIDAK MENYAYANGI TIDAK AKAN DISAYANGI

Dari Jarir bin Abdillah radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ

“Allah tidak akan menyayangi seseorang yang tidak menyayangi manusia lainnya.”

Shahih Adabul Mufrod (hal.63)
Oleh: Tim Warisan Salaf


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/280




MENGINGKARI BID’AH DI MAJLIS

 

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihi hafizhahullah berkata,

إذا جلس الإنسان في مجلس فيه صاحب بدعة، وهو يظهر بدعته، وسكت الجالس ولم ينكر، ولم يقم وهو يستطيع، فهو مبتدع مثله، فالواجب عليه، إما ينكر البدعة أو يقوم.

“Apabila seseorang duduk di suatu majlis yang di situ ada MUBTADI’ (pelaku bid’ah) dan ia menampakkan kebid’ahannya, sementara orang yg duduk tersebut diam tdk mengingkari, tidak pula berdiri (meninggalkannya) padahal ia sanggup, maka dia (digolongkan sebagai) MUBTADI’ (pelaku bid’ah) sepertinya. Maka yg wajib atasnya adalah: dia mengingkari bid’ah, atau ia berdiri (meninggalkannya).”

 

Sumber: Al-I’anah ala Taqribis Syarhi wal Ibanah, hal 258
Diterjemahkan Oleh: al-Ustadz Abu Ja’far Hafizhahullah


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/279




HUKUM MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولاه

Sebagian orang tua terpaksa membawa sang buah hatinya ke masjid. Selain ingin menanamkan kecintaan kepada masjid, para suami juga ingin meringankan beban isterinya yang lelah mengerjakan tugas rumah tangga seharian penuh. Secara asalnya membantu tugas isteri merupakan perkara yang mulia, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memuji para suami yang membantu isterinya,

خيركم خيركم لأهله، وأنا خيركم لأهلي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi no.3895 dan Ibnu Majah no.1977, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.285)

Membawa anak kecil ke masjid pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau membawa cucunya yang masih balita, yaitu Umamah bintu Abil ‘Ash; anak dari puteri beliau Zainab Radhiallahu ‘anha. Dikisahkan oleh Abu Qatadah al-Anshari radhiallahu ‘anhu,

«بَيْنَا نَحْنُ جُلُوسٌ فِي الْمَسْجِدِ، إِذْ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْمِلُ أُمَامَةَ بِنْتَ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ وَأُمُّهَا زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ صَبِيَّةٌ يَحْمِلُهَا فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ عَلَى عَاتِقِهِ يَضَعُهَا إِذَا رَكَعَ، وَيُعِيدُهَا إِذَا قَامَ حَتَّى قَضَى صَلَاتَهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِهَا»

“Ketika kami sedang duduk di masjid, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang sambil menggendong Umamah bintu Abil ‘Ash bin Rabi’, puteri Zainab bintu Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang masih balita. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan shalat sedangkan Umamah diletakkan di atas bahunya. Apabila hendak ruku’, beliau menurunkannya, dan beliau kembali menggendongnya ketika bangkit (dari sujud,pen). Demikianlah yang beliau lakukan terhadap Umamah sampai selesai shalat.” (HR. Abu Daud no.918, al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkannya secara ringkas)

Ditambahkan dalam riwayat Muslim bahwa kisah ini terjadi di masjid saat beliau sedang mengimami para shahabat. (Shahih Muslim no.543)

Al-Imam an Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini sebagai dalil bagi madzhab Syafi’i dan yang sepaham dengannya atas dibolehkannya menggendong anak kecil laki-laki dan perempuan dan selainnya dari hewan yang suci ketika shalat fardhu dan shalat sunnah. Diperbolehkan bagi imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian. Para pengikut Malik radhiallahu ‘anhu memaknakan (hadits ini) hanya untuk shalat sunnah dan tidak boleh untuk shalat fardhu. Tetapi ini adalah penakwilan yang tidak tepat.” Al-Minhaj (5/32)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata,

وَمِنْ فَوَائِدِ الْحَدِيثِ جَوَازُ إدْخَالِ الصِّبْيَانِ الْمَسَاجِدَ

“Dan di antara faedah hadits ini ialah bolehnya memasukkan anak kecil ke masjid.” (Nailul Authar 2/143)

Demikian juga yang menunjukkan bolehnya membawa anak kecil ke masjid adalah hadits Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu,

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلاَةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاَتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

“Aku pernah ingin memanjangkan shalat, namun aku mendengar suara tangisan bayi. Maka aku memendekkan shalatku karena khawatir akan memberatkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari no.707)

 

Dalam riwayat Ahmad dari Anas bin Malik radhiallahu ’anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَوَّزَ ذَاتَ يَوْمٍ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ جَوَّزْتَ؟ قَالَ: «سَمِعْتُ بُكَاءَ صَبِيٍّ، فَظَنَنْتُ أَنَّ أُمَّهُ مَعَنَا تُصَلِّي، فَأَرَدْتُ أَنْ أُفْرِغَ لَهُ أُمَّهُ»

”Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam suatu ketika memendekkan shalat shubuh. Maka ada yang bertanya, wahai Rasulullah, mengapa engkau memendekkannya (shalat)? Beliau menjawab, ’aku mendengar suara tangisan bayi, aku mengira ibunya shalat bersama kita maka aku ingin menenangkan ibunya.” (HR. Ahmad no.13701)

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, ”Pada hadits ini dan hadits yang semisalnya (terdapat faedah) bolehnya memasukkan anak-anak ke masjid. Adapun hadits yang begitu terkenal di lisan-lisan (kaum muslimin),

«جنبوا مساجدكم صبيانكم ومجانينكم»

“Jauhkan masjid-masjid kalian dari anak-anak dan orang gila.” Ini adalah hadits yang lemah sehingga tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dengan kesepakatan (ulama). Di antara yang melemahkannya adalah Ibnul Jauzi, al-Mundziri, al-Haitsami, al-Hafizh Ibnu Hajar, dan al-Bushiri. Sedangkan Abdul Haq al-Isybili mengatakan,” (hadits ini) tidak ada asalnya. (Ashlu Shifati Shalah An-Nabi 1/391)

CATATAN
Namun satu hal yang harus kita pahami, dimana banyak kita temui orang tua berlepas tanggung jawab ketika berada di masjid. Dia menyibukkan diri dengan shalat dan membaca al-qur’an sementara anaknya berlari dan berteriak di masjid menganggu orang yang sedang beribadah. Tak jarang pula dari mereka yang kencing di karpet masjid sehingga menajisinya atau mengenai baju orang lain sehingga merusak ibadahnya.

Jangan sampai orang tua lalai dari perkara seperti ini. Hendaknya ia memantau kelakuan anak selama di masjid, mengajarinya adab yang baik dan meletakkannya di sampingnya sehingga tidak bermain dengan teman sebayanya, karena bermain dengan teman sebaya hanya akan menimbulkan kegaduhan.

Bagi anaknya yang masih balita, gunakanlah pengaman seperti pampers agar tidak menajisi masjid. Anak kecil belum bisa membedakan yang baik dan yang buruk, apa yang menurutnya menyenangkan akan dilakukan walaupun tidak baik dalam pandangan orang dewasa. Maka kewajiban orang tua adalah memperhatikan tingkah laku anaknya semenjak masuk hingga keluar masjid.

Adapun bagi anak-anak yang sulit diberi pengertian dan cenderung membuat kegaduhan yang akan mengganggu kekhusyu’an orang yang beribadah di dalamnya, maka sebaiknya mereka tidak dibawa ke masjid. Karena mendahulukan kemaslahatan orang banyak lebih didahulukan ketimbang maslahat pribadi. Wallahul muwaffiq.

Wallahu a’lam bish shawwab
Oleh: Tim Warisan Salaf


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram:

bagian 1: https://t.me/warisansalaf/272

bagian 2: https://t.me/warisansalaf/273

 




 

TIDAK… TAPI ALLAH AKAN MENGADZABMU KARENA MENYELISIHI SUNNAH

 

Suatu hari Said bin Al Musayyib melihat seseorang melakukan shalat dengan jumlah rakaat yang banyak sekali pada waktu-waktu terlarang, kemudian beliau melarangnya.

Orang tersebut berkata:

“Hai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengadzabku karena shalat?”.

Said menjawab: “Tidak. Namun Allah akan mengadzabmu karena kamu (beribadah) tidak sesuai sunnah”.

Berkata Asy Syaikh Al Albani:
“Ini merupakan jawaban luar biasa dari Said bin Al Musayyib. Dan jawaban ini merupakan senjata ampuh untuk mematahkan argumen mereka yang menganggap baik banyak kebid’ahan, dan menuduh miring Ahlus Sunnah dengan menyatakan sebagai pengingkar dzikir dan shalat. Akan tetapi sebenarnya Ahlus Sunnah hanyalah mengingkari (ibadah) Ahlul Bid’ah yang tidak sesuai Sunnah.” (Irwaul Ghalil 2/236)

 

💡 انتبه بارك الله فيك

رأى سعيد بن المسيب رحمه الله رجلا يصلي في وقت النهي ركعات كثيرة فنهاه، فقال: يا أبا محمد

» يعذبني الله على الصلاة ؟!! قال : لا ولكن يعذبك على خلاف السنة .

– قال الإمام الألباني رحمه الله: وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب، وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع ويتهمون أهل السنة بأنهم ينكرون الذكر والصلاة، وهم إنما ينكرون عليهم مخالفتهم للسنة . [ إرواء الغليل (٢٣٦\٢) ]

املؤوا الدنيا علما: يوصى بنشرها

Sumber: Channel telegram Syaikh Fawwaz al-Madkhali Hafizhahullah

Diterjemahkan Oleh: Al-Ustadz Abdul Wahid bin Faiz At-Tamimi Hafizhahullah


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/267




HUKUM MERAYAKAN MALAM NISHFU SYA’BAN

 

Asy syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya:

“Apakah boleh merayakan malam nishfu (pertengahan) sya’ban dan menghidupkan malam tersebut (dengan ibadah, pen) ? “

Beliau menjawab, “Tidak boleh merayakan malam nishfu sya’ban, ia tdk ada asalnya (dalam agama,pen), dan tidak pula (merayakan) malam 27 rajab yg mereka namakan malam isra’ mi’raj, semua itu adalah bid’ah.

‼️ Tidak dilakukan perayaan malam nishfu sya’ban, tidak pula malam 27 rajab, ini semua termasuk bid’ah yang diada-adakan oleh manusia.

Demikian pula perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah bid’ah, tidak boleh merayakan maulid nabi, tidak pula malam nishfu sya’ban, dan tidak pula malam 27 rajab yg mereka namakan dgn malam isra’ mi’raj, INI SEMUA ADALAH BID’AH.

(amalan tersebut,pen) tidak diamalkan oleh Rasulullah dan khulafa ar rasyidun, serta para sahabat nabi (yang lainnya). dan tidak pula diamalkan oleh salafus sholih pada tiga generasi utama. Bahkan ini adalah sesuatu yg diada-adakan oleh manusia. Kita memohon kepada Allah keselamatan.”

Sumber: http://cutt.us/TFdC
Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Ja’far Jember hafizhahullah


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com




BERAMAL SESUAI SUNNAH

 

Mathor al-Warraq rahimahullahu Ta’ala berkata,

عَمَلٌ قَلِيلٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ فِي بِدْعَةٍ، وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا فِي سُنَّةٍ قَبِلَ اللهُ مِنْهُ عَمَلَهُ، وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا فِي بِدْعَةٍ رَدَّ اللهُ عَلَيْهِ بِدْعَتَهُ

“Amalan yang sedikit namun sesuai sunnah lebih baik dari amalan yang banyak di atas bid’ah. Barangsiapa melakukan amalan sesuai sunnah maka Allah akan menerima amalan tersebut darinya, dan barangsiapa melakukan amalan dalam kebid’ahan maka Allah akan tolak (kembalikan) kebid’ahan tersebut kepadanya.”

Al-Imam Malik bin Dinar rahimahullah berkata tentang Mathor, “Semoga Allah merahmati Mathor. Sungguh aku benar-benar mengharapkan surga baginya.”

Lihat Hilyatul Aulia (3/75)
Oleh Tim Warisan Salaf

———–

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/260