HUKUM ZIARAH KUBUR UNTUK TUJUAN BERDO’A

HUKUM ZIARAH KUBUR UNTUK TUJUAN BERDO’A

 

Asy Syaikh Shalih al Fauzan hafizhahullah ditanya, “apakah boleh ziarah kubur hanya untuk berdoa saja?”

Syaikh bertanya : doa apa?

Kemudian beliau menjawab,

“(kalau) doa untuk mayyit boleh. Engkau berziarah untuk mengucapkan salam kepadanya dan engkau doakan dia dengan ampunan dan rahmat, ini baik.

‼️ Adapun engkau menziarahinya agar engkau berdoa bagi dirimu di sisi kuburan dan engkau menyangka bahwa ini sebab terkabulnya doa, maka ini bid’ah dan wasilah (perantara) kepada kesyirikan”.

 

—————–

السُّؤَالُ: هل يجوز زيارة القبور للدعاء فقط؟ الشيخ: ما هو الدعاء؟
الجَوَابُ: ” الدعاء للميت نعم، تزوره لتسلم عليه وتدعوا له بالمغفرة والرحمة هذا طيب، أما تزوره تدعو لك لنفسك عندها وتظن أن هذا سبب لإجابة الدعاء هذا بدعة، ووسيلة إلى الشرك “ .

—————–

 

Sumber Fatwa: http://cutt.us/I6fmN
Diterjemahkan oleh: Al-Ustadz Abu Ja’far Hafizhahullahu Ta’ala
—————–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/255




KESOMBONGAN MENGAKIBATKAN KEHINAAN

KESOMBONGAN MENGAKIBATKAN KEHINAAN

Ambillah pelajaran dari kisah diusirnya Iblis dari al-jannah (surga,red) !
Ia diusir, dilaknat dan terhina akibat kesombongan !

Allah berfirman :

قال ما منعك ألا تسجد إذ أمرتك قال أنا خير منه خلقتني من نار و خلقته من طين قال فاهبط منها فما يكون لك أن تتكبر فيها فاخرج إنك من الصاغرين (الأعراف : ١٢-١٣)

“(Allah) berkata : “Apa yang mencegahmu untuk tidak sujud tatkala Aku memerintahmu (untuk sujud) ?

Iblis menjawab : “Aku LEBIH BAIK dari dia (Adam).Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakan dia dari tanah”.

(Allah) berkata : “Maka turunlah kamu darinya (al-jannah). Tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri di dalamnya.Keluarlah kamu (darinya).Sesungguhnya kamu termasuk hamba yang terhina” (QS. Al ‘Araf : 12-13)

 

Demikian pula kesombongan menjadi sebuah penghalang seseorang masuk al-jannah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر

“Tidak masuk al-jannah, siapa saja yang di kalbunya ada sekecil apapun dari kesombongan” (Muslim)

 

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri berkata :

من كانت معصيته في الشهوة فارج له التوبة فإن آدم عليه السلام عصى مشتهيا فغفر له وإذا كانت معصيته في كبر فاخش على صاحبه اللعنة فإن إبليس عصى مستكبرا فلعن

“Barangsiapa yang kemaksiatannya berupa syahwat, maka berharaplah ada taubat pada dirinya. Sesungguhnya Adam ‘alaihi as-Salam sempat bermaksiat mengikuti syahwatnya, lalu diampuni. Namun barangsiapa kemaksiatannya berupa kesombongan, maka khawatirlah laknat terhadap pelakunya.Sesungguhnya Iblis bermaksiat menuruti kesombongan, lalu dilaknat”. (Lihat Hilyah al-Aulia’)

Segala kelebihan pada hamba semata-mata datangnya dari Allah. Jangan sampai dirinya tertipu dengan kelebihan yang ada padanya. Terlebih seorang hamba yang menisbatkan diri kepada agama dalam ucapan dan perbuatannya.

 

Dalam salah satu rangkaian zikir pagi & petang,

…رب أعوذ بك من الكسل و سوء الكبر…

…Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan jahatnya kesombongan…

 

Oleh: al-Ustadz Abdurrahman Madiun Hafizhahullahu Ta’ala
——————-
Bagikan faedah ini kepada orang yang anda cintai semoga menjadi amal jariyyah
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

——————-

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/253




TAHIYYATUL MASJID DILAKUKAN SETIAP KALI MASUK MASJID WALAUPUN DALAM WAKTU YANG BERDEKATAN

TAHIYYATUL MASJID DILAKUKAN SETIAP KALI MASUK MASJID

WALAUPUN DALAM WAKTU YANG BERDEKATAN

Shalat tahiyyatul masjid juga berlaku bagi seseorang yang bolak-balik masuk masjid walaupun dalam waktu yang berdekatan. Al-Imam Asy-Syirbini berkata:

وهي ركعتان قبل الجلوس لكل داخل وتحصل لفرض أو نفل آخر، وتتكرر بتكرر الدخول ولو على قرب.

“(tahiyyatul masjid) adalah shalat dua raka’at sebelum duduk bagi setiap orang yang masuk (ke masjid). Ia telah terlaksana dengan melakukan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Dan dilakukan secara berulang dengan berulangnya (seseorang) masuk ke masjid walaupun dalam waktu yang berdekatan.” Al-Iqna’ fi Hulli Alfaazhi Abi Syuja’ (1/117)

Imam an-Nawawi juga berkata:

لَوْ تَكَرَّرَ دُخُولُهُ فِي الْمَسْجِدِ فِي السَّاعَةِ الْوَاحِدَةِ مِرَارًا قَالَ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ تُسْتَحَبُّ التَّحِيَّةُ لِكُلِّ مَرَّةٍ وَقَالَ الْمَحَامِلِيُّ فِي اللُّبَابِ أَرْجُو أَنْ تُجْزِيَهُ التَّحِيَّةُ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالْأَوَّلُ أَقْوَى وَأَقْرَبُ إلَى ظَاهِرِ الْحَدِيثِ

“Seandainya masuknya seseorang ke masjid terjadi berulang kali dalam satu waktu. Maka penulis kitab At-Tatimmah berkata, ‘disunnahkan shalat tahiyyatul masjid pada setiap kalinya’. Sedangkan Al-Mahamili dalam Al-Lubab berkata, ‘aku berharap tahiyyatul masjid hanya cukup sekali saja’. Dan (pendapat) yang pertama lebih kuat dan lebih dekat kepada zhahir hadits.” Al-Majmu’ (4/52)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullahu Ta’ala berkata,

ولو دخل في المسجد مرات صلى كلما دخل لو دخل الضحى مرتين أو ثلاثا، أو الظهر أو العصر، أو الليل، كلما دخل وهو على طهارة يصلي ركعتين

“Seandainya seseorang masuk ke masjid berulang kali, maka dia shalat setiap kali masuk. Bila ia masuk pada waktu dhuha dua atau tiga kali, atau pada waktu zhuhur, ashar, atau malam hari. Maka setiap kali masuk dan dia dalam keadaan thoharoh maka ia shalat dua raka’at.” Fatawa Nuur ‘ala Darb li Ibni Baaz (10/471)

Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Hafizhahullahu Ta’ala ditanya, “Apabila seorang muslim berungkali masuk dan keluar masjid. Apakah disyari’atkan baginya shalat tahiyyatul masjid pada setiap kalinya?

Beliau menjawab, “Benar. Apabila dia keluar kemudian masuk lagi maka baginya shalat tahiyyatul masjid.” (Syarah Sunan Abu Daud)

Beliau juga ditanya, Apabila seseorang keluar dari Masjid Nabawi untuk berwudhu’ kemudian kembali. Apakah dia harus shalat tahiyyatul masjid?

Beliau menjawab, “Benar. Karena dia ketika masuk ke kamar mandi sudah keluar dari masjid. Dan jika dia sudah keluar lalu masuk lagi maka harus shalat (tahiyyatul masjid). Kemudian juga di antara sunnah setelah wudhu’ adalah shalat dua raka’at selain tahiyyatul masjid. Al-hasil orang tersebut shalat dua raka’at, karena kamar mandi bukan masjid. Akan tetapi teras termasuk masjid. Jika seseorang masuk ke kamar mandi dan keluar darinya maka dia telah keluar dari selain masjid menuju masjid.” (Syarah Sunan Abu Daud)

Wallahu a’lam.. Semoga bermanfaat

 

Dirangkum oleh: Tim Warisan Salaf

——————-

——————-

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/252




MINTALAH KEMUDAHAN KEPADA ALLAH TA’ALA

MINTALAH KEMUDAHAN KEPADA ALLAH TA’ALA

 

Ketahuilah saudara, Disaat engkau dirundung kesulitan, kepayahan, dan kesempitan kemudian engkau merengek meminta kepada Allah Ta’ala, pasti Allah akan memudahkan semua kesulitanmu.

Karena tiada yang dapat memudahkan kesulitan kecuali Allah ; Dia-lah Yang Maha kuasa atas segala sesuatu.

Di riwayatkan dari Shahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan dalam doanya,

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلًا إِذَا شِئْتَ

“Ya Allah…, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkaulah yang menjadikan kesulitan ini mudah jika Engkau berkehendak.”

[HR. Ibnu Hibban di dalam Shohihnya no.974, Ibnus-Sunni di dalam ‘Amalul Yaum wal-Lailah no.351, Al-Baihaqi di dalam Ad-Da’awatul Kabir no.266, Abu Nu’aim di dalam Akhbar Ashfahan (2/276)]

Hadits ini dishohihkan oleh Al-Imam Al-Albani Rohimahullah dalam kitabnya Ash-Shohihhah no.2886.

Wallahul-Musta’an

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan
—————–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

—————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/248




MENYIA-NYIAKAN UMUR

MENYIA-NYIAKAN UMUR

Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata,

مَنْ عَلِمَ أَنَّ الْعُمْرَ بِضَاعَةٌ يَسِيرَةٌ يُسَافِرُ بِهَا إِلَى الْبَقَاءِ الدَّائِمِ فِي الْجَنَّةِ لَمْ يُضَيِّعْهُ

“Barangsiapa mengetahui bahwasanya umur merupakan perbekalan yang sedikit untuk bersafar menuju tempat kekekalan abadi di surga, niscaya dia tidak akan menyia-nyiakannya .”


Sumber: Hifzhul ‘Umr (hal.58)
Oleh Tim Warisan Salaf

———————

Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

———————

Link Telegram: https://telegram.me/warisansalaf/246




BERHIAS DENGAN SIFAT JUJUR

BERHIAS DENGAN SIFAT JUJUR

 

Jujur adalah sebuah berita (khabar) yang sesuai dengan kenyataan. Apabila seseorang mengkhabarkan tentang sesuatu yang sesuai dengan kenyataan maka dia telah berkata jujur, jika ternyata tidak sesuai maka dia berdusta.

 

Kejujuran bisa terwujud dalam bentuk ucapan dan berbuatan
Jujur dalam perbuatan ialah berlarasannya hati dengan pelaksanaan. Dimana perbuatan yang dilakukan oleh seseorang mencocoki apa yang ada di dalam batinnya.

 

Sehingga,

  • Orang yang riya bukan orang yang jujur, karena dia menampakkan kepada manusia sebagai ahli ibadah padahal batinnya tidak..
  • Pelaku kesyirikan bukan orang yang jujur, karena dia menampakkan sebagai orang yang bertauhid nyatanya tidak…
  • Orang munafik bukan orang yang jujur, karena ia menampakkan keimanan ternyata tidak…
  • Pelaku bid’ah juga bukan orang yang jujur, karena ia menampakkan mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam padahal tidak…

Jujur merupakan ciri khas seorang mukmin, dan dusta adalah ciri orang munafik. Maka berhiaslah dengan sifat jujur walaupun itu berat.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah. dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah:119)

Sumber Panduan: Syarah Riyadhus Shalihin (1/290)
Oleh Tim Warisan Salaf

————-
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

————-

Link Telegram: https://telegram.dog/warisansalaf/235 




MENDO’AKAN SYAIKH (GURU) DAN MENGAKUI KEUTAMAAN MEREKA

MENDO’AKAN SYAIKH (GURU) DAN MENGAKUI KEUTAMAAN MEREKA

 

Mendo’akan guru yang telah mengajarkan ilmu agama merupakan bagian dari adab penuntut ilmu. Dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

وَمَنْ أَتَى إِليْكُم مَعْروفاً فَكَافِئُوه فَإِنْ لَمْ تَجِدوا فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعلَمَ أن قَد كَافَئْتُمُوه

“Dan barangsiapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikannya. Jika kamu tidak mampu (membalas kebaikannya) maka berdoalah kebaikan untuknya hingga ia mengetahui bahwa kalian telah membalasnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod no.216)

Jika saja seseorang diperintahkan agar membalas kebaikan orang yang berjasa kepadanya dalam urusan dunia walaupun sekadar dengan do’a, maka membalas jasa syaikh atau ustadz yang telah mengajarkan ilmu agama tentu lebih utama.

Oleh karena itu, kita dapati para ulama salaf rahimahumullah mendo’akan guru-guru mereka dan mengakui bahwa ilmu yang mereka miliki merupakan berkat jasa mereka, ba’dallah.

Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata,

“Apa yang kalian lihat ini (yakni ilmu yang beliau sampaikan,pen) atau keumumannya yang aku miliki adalah dari Asy-Syafi’i.” (Al-Intiqo’ li Ibni Abdil Barr hal.76)

 

Yahya bin Sa’id Al-Qatthan Rahimahullah berkata,
“Aku mendo’akan kebaikan bagi Asy-Syafi’i hingga di dalam shalatku.” (Al-Intiqo’ hal 72)

 

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
“Malik adalah pengajarku dan darinyalah aku mengambil ilmu.”

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
“dan bagi seorang pelajar hendaknya ia mengetahui kehormatan ustadznya dan berterima kasih atas kebaikannya kepada dirinya. Karena sesungguhnya orang yang tidak berterima kasih kepada manusia hakekatnya ia tidak bersyukur kepada Allah, dan (hendaknya) ia tidak mengabaikan haknya dan tidak mengingkari kebaikannya.” (Majmu’ Fatawa 28/17)

Sehingga, marilah kita berterima kasih kepada para ustadz kita dengan membalas kebaikan mereka, atau setidaknya mendo’akan kebaikan untuk mereka. Semoga Allah menjadikan ilmu yang telah mereka ajarkan kepada kita sebagai amal shalih yang terus mengalir pahalanya, dan (semoga mereka) diberi keistiqomahan hingga bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, amin.

Wallahu ‘alam.

 

Panduan Aqwal Ulama: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi (hal.173)
Oleh: Tim Warisan Salaf
……………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

……………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/231




ULAMA SALAF DAN MEMBACA AL-QUR’AN

ULAMA SALAF DAN MEMBACA AL-QUR’AN

 

Husein Al-‘Anqazi Rahimahullah berkata,

لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ المَوْتُ، بَكَتْ بِنْتُهُ. فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ القُرْآنَ فِي هَذَا البَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَفِ ختمة.

“Tatkala Abdullah bin Idris akan meninggal, putrinya pun menangis. Maka ia berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau menangis, wahai puteriku. Karena sungguh aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an di rumah ini sebanyak empat ribu kali.”

 

  • Abdullah bin Idris bin Yazid adalah seorang imam, al-hafizh, al-muqri’, panutan, dan syaikhul Islam.
    Beliau merupakan guru dari Abdullah bin Mubarak, Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, dan selain mereka.

 

Sumber:  Siyar A’lam An-Nubala (7/499)
Oleh: Tim Warisan Salaf
………………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/230




MENJAGA RAHASIA

MENJAGA RAHASIA

 

Rahasia adalah apa yang terjadi secara tersembunyi antara seseorang dengan temannya. Tidak halal baginya menyebarkan rahasia tersebut atau menceritakannya kepada orang lain.

Dan rahasia bisa diketahui dengan salah satu dari tiga hal:

Pertama: Ia mengatakan kepadamu “Jangan beritahu siapa pun.”

Kedua: Adanya indikasi dari perbuatannya bahwa ia tidak suka diketahui oleh orang lain, contohnya: ia menoleh ke kanan dan ke kiri pada saat menceritakan sesuatu tersebut.

Ketiga: Apa yang dia ceritakan merupakan perkara yang malu atau perkara yang takut bila diketahui oleh orang lain, seperti menceritakan tentang permasalahan pribadi atau keluarganya.

 

Jika terdapat salah satu dari tiga keadaan di atas, maka tidak halal bagi seseorang untuk menyebarkan rahasia saudaranya, walaupun dia tidak mengatakan, “jangan beritahu orang lain.”

 

Allah berfirman, “dan penuhilah janji, karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra:34)

 
Sumber Panduan: Syarah Riyadhus Shalihin Ibnu Utsaimin (4/36)
Disajikan oleh: Tim Warisan Salaf
……………………..
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

……………………..

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/226




MENGAMBIL ILMU DARI AHLUSSUNNAH

MENGAMBIL ILMU DARI AHLUSSUNNAH

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda,

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Akan muncul pada akhir jaman sekelompok manusia yang akan menceritakan hadits kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian mendengarnya demikian juga bapak-bapak kalian. Maka berhati-hatilah kalian dari mereka.” (HR. Muslim no.6)

Al-Imam Al-Baghawi Rahimahullah menyebutkan kesepakatan ulama salaf dalam memboikot ahlul bid’ah, beliau berkata,

وَقَدْ مَضَتِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ وَأَتْبَاعُهُمْ، وَعُلَمَاءُ السُّنَّةِ عَلَى هَذَا مُجْمِعِينَ مُتَّفِقِينَ عَلَى مُعَادَاةِ أَهْلِ الْبِدْعَةِ، وَمُهَاجَرَتِهِمْ

“dan telah berlalu para shahabat, tabi’in, dan pengikut mereka, serta ulama sunnah atas perkara ini, yaitu mereka bersepakat untuk memusuhi ahlul bid’ah dan memboikot mereka.” (Syarhus Sunnah 1/227)

Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata,

 

“Tiga (jenis manusia) yang tidak diambil (ilmunya) dari mereka, yaitu:

  1. Orang yang tertuduh melakukan kedustaan
  2. Pelaku kebid’ahan yang menyeruh kepada bid’ahnya
  3. dan seseorang yang cenderung keliru dan salah

 

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,

“Semoga Allah menghinakan al-Karobisi, tidak boleh dijadikan teman duduk, tidak boleh diajak bicara, tidak boleh disalin kitab-kitabnya, dan kami tidak duduk bersama orang yang duduk dengannya.”

Abdul Wahhab Al-Khaffaf rahimahullah berkata,

“Aku melewati Amr bin Ubaid (tokoh mu’tazilah,pen) sedang duduk sendirian.

Maka aku bertanya kepadanya, ‘apa yang terjadi denganmu sehingga manusia meninggalkanmu?’
Ia menjawab, ‘Ibnu ‘Aun (ulama sunnah,pen) telah melarang manusia dariku, maka mereka pun pergi (meninggalkanku).” (Mizanul I’tidal 3/274)

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berkata,

“Barangsiapa mendengar dari ahli bid’ah, maka Allah tidak akan memberi manfaat dengan apa yang ia dengar. dan barangsiapa berjabatan tangan dengannya, maka sungguh ia telah melepas Islam seutas demi seutas.” (Al-Jami’ Li AKhlaqi Ar-Rawi 1/138 hal.163)

Al-Qahthani rahimahullah berkata dalam bait syar’irnya,

Tidaklah berteman dengan ahli bid’ah kecuali orang yang sepertinya …

di bawah asap ada api yang berkobar..

Oleh karena itu, janganlah mengambil ilmu dari ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang atau memiliki penyakit di dalam hatinya. Karena mengambil ilmu dari mereka akan mewariskan penyimpangan dari al-haq baik disadari ataupun tidak.

Bundar Ibnul Husein rahimahullah berkata, “Berteman dengan ahli bid’ah akan mewariskan berpalingnya dari kebenaran.” (As-Siyar 16/106)

Sehingga, jangan pedulikan orang yang mengatakan “aku akan mengambil ilmu dari siapa pun” atau “aku akan mengambil yang baiknya saja, adapun yang jelek aku tinggalkan”

 

Sebenarnya, mereka sedang mempertaruhkan hidayah yang telah Allah berikan kepada mereka.. Allahul musta’an

 

Semoga bermanfaat
Referensi: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi (hal.24-28)
Oleh: Tim Warisan Salaf
———–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

———–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/229