ILMU AGAMA JAUH LEBIH UTAMA DARIPADA MENGINFAKKAN HARTA

ILMU AGAMA JAUH LEBIH UTAMA DARIPADA MENGINFAKKAN HARTA

Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

فالعلم أفضل بكثير من المال حتى لو تصدق الإنسان بأموال عظيمة طائلة فالعلم ونشر العلم أفضل . [ شرح رياض الصالحين ٤٣٦/٥]

“Ilmu jauh lebih banyak keutamaannya dibanding harta, walapun seseorang berinfak dengan harta yang sangat banyak, tetap saja ilmu dan penyebaran ilmu masih lebih utama.”

Sumber: Syarah Riyadhusshalihin 5/436.

Diterjemahkan oleh: Al-Ustadz Fathul Mujib Hafizhahullahu Ta’ala

———————–
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

———————–

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/245




SEBAB-SEBAB KEBAHAGIAAN

SEBAB-SEBAB KEBAHAGIAAN

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah berkata,

كل إنسان إذا صلحت عقيدته واستقام على أمر الله تمت له أسباب السعادة

“Setiap insan apabila baik akidahnya dan istiqomah di atas perintah Allah, maka sempurna baginya sebab-sebab kebahagiaan.” (Majmu’ Fatawa 20/323)

Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

 

————

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/202




CARA BERTAUBAT DARI PERBUATAN GHIBAH

CARA BERTAUBAT DARI PERBUATAN GHIBAH

 

Bertaubat dari perbuatan ghibah adalah seperti bertaubat dari dosa-dosa yang lainnya, yaitu harus terpenuhi padanya 5 syarat taubat:

  1. Ikhlas hanya mengharap wajah Allah. Bukan karena ingin dilihat atau dipuji manusia.
  2. Menyesal dari perbuatan tersebut. Karena penyesalan adalah bukti kejujuran taubatnya.
  3. Melepaskan dirinya dari perbuatan tersebut.
  4. Bertekad untuk tidak mengulanginya.
  5. Bertaubat sebelum nyawa sampai di kerongkongan dan sebelum terbitnya matahari dari arah barat.

Sebagai bentuk melepaskan dirinya dari perbuatan ghibah, maka sebagian ulama ada yang perbendapat bahwasanya pelaku ghibah harus mendatangi orang yang dia ghibahi dan memohon maaf kepadanya.

Sedangkan ulama lainnya, dan ini merupakan pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah, memberikan perincian:

  • Apabila orang yang dighibahi mengetahui bila dirinya dibicarakan, maka orang yang melakukan ghibah harus mendatanginya dan meminta maaf kepadanya.
  • Adapun bila orang tersebut tidak mengetahuinya, maka orang yang melakukan ghibah tidak perlu mendatanginya. Dia cukup memohonkan ampunan bagi orang yang dia ghibahi dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat yang dahulu dia melakukan ghibah kepadanya.

 

Allah berfirman,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghilangkan kejelekan.” (QS. Hud:114)
Sumber Panduan: Syarah Riyadus Shalihin (1/90)
Disajikan oleh Tim Warisan Salaf

………………………
Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

………………………

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/189




MAKNA 3 KITAB KARYA IBNU TAIMIYYAH RAHIMAHULLAH

MAKNA 3 KITAB KARYA IBNU TAIMIYYAH RAHIMAHULLAH
Aqidah Wasithiyyah, Aqidah Hamawiyah, Aqidah Tadmuriyah

Pertanyaan: Wahai samahatus syaikh betapa seringnya kami mendengar tentang (kitab) Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, tetapi kami tidak tahu apa maknanya. Apakah yang dimaksud dengannya adalah aqidah yang benar atau apakah yang dimaksud dengannya? Mohon arahannya untuk pertanyaan kami ini dan kami merupakan sekumpulan para penuntut ilmu.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz menjawab,

“Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah sebuah kitab yang ditulis oleh Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah Al-Harrani yang diberi gelar sebagai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan juga Taqiyuddin. Beliau dilahirkan pada tahun 661 H dan wafat pada tahun 728 H. Beliau bagian dari para Imam mujtahid dan dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, dan beliau bagian dari para Imam Ahlussunnah wal Jama’ah semoga Allah merahmati mereka semuanya.

Beliau memiliki karya tulis yang banyak, di antaranya ialah Minhajus Sunnah sebagai bantahan atas Mu’tazilah dan Syi’ah Rafidhah, juga kitab Iqthida’ Ash-Shirothol Mustaqim fii Mukhalafati Ashabil Jahim, juga kitab beliau Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah.

Dinamakan dengan Al-Wasithiyah karena kitab ini ditulis untuk penduduk Wasith di negeri Iraq. Beliau menulisnya untuk mereka sehingga disebut Al-Wasitiyah. Beliau menulisnya kepada sekelompok orang yang bertanya kepada beliau dari penduduk daerah Wasith sehinggai disebut Al-Wasithiyah.

Beliau juga memiliki tulisan lain dalam bidang ‘Aqidah yang diberi judul Al-Hamawiyah, beliau menulisnya untuk penduduk negeri Hamah di Syam.

Dan beliau juga punya kitab lain yang ketiga tentang Sifat Allah yang diberi judul At-Tadmuriyyah, beliau menulisnya untuk penduduk Tadmur di Syam.

Inilah sebab penamaan Wasithiyyah, dikarenakan ia merupakan kitab aqidah yang beliau tulis kepada penduduk wasith. Sedangkan Hamawiyah adalah aqidah yang beliau tulis kepada penduduk Hamah, dan Tadmuriyah kitab aqidah yang beliau tulis kepada penduduk Tadmur.

Ini merupakan tiga kitab yang agung pada kitab Ahlussunnah wal Jama’ah dan bermanfaat, kami wasiatkan agar membacanya dan mengambil faedah darinya.

 

Sumber: Syabakah Al-Ajury
Disajikan oleh Tim Warisan Salaf

〰〰➰〰〰
? Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
? Ikuti Channel kami di telegram https://telegram.me/warisansalaf
? Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

==========

Artikel ini dipublikasikan oleh Channel Warisan Salaf pada link

https://telegram.me/warisansalaf/132




TERUSLAH BERDO’A … JANGAN PERNAH PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

TERUSLAH BERDO’A … JANGAN PERNAH PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

 

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,

لا تقنط من رحمة الله ادع الله ولو تأخرت الإجابة”

“Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah. (terus) berdo’alah kepada Allah walaupun pengabulannya tertunda.”
Sumber: Al-Muntaqo li Abil Barokat
Diterjemahkan oleh: Tim Warisan Salaf

#fawaidumum
〰〰➰〰〰
? Channel https://bit.ly/warisansalaf
? Twitter: @warisansalaf
? Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

=========

Artikel ini dipublikasikan channel telegram warisan salaf pada link:

https://telegram.me/warisansalaf/520




MENGUKUR KEDALAMAN NERAKA

MENGUKUR KEDALAMAN NERAKA

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata;

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَدْرُونَ مَا هَذَا؟» قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا»،

Ketika kami bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba terdengar suara yang keras (seperti suara batu yang jatuh)

“Taukah kalian, suara apa itu?” tanya beliau. Kami menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang tahu”, Beliau bersabda, “itu adalah suara batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan baru sekarang ini sampai ke dasarnya.”

 

(HR. Muslim hadits no.2844 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Semoga Allah menyelamatkan kita dari adzab an-naar

 

Disajikan oleh Tim Warisan Salaf


Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah
Ikuti Channel kami di telegram https://bit.ly/warisansalaf

Situs Resmi http://www.warisansalaf.com


Link Telegram: https://telegram.me/warisansalaf/102




MENAMBAL KEKURANGAN PADA IBADAH WAJIB DENGAN IBADAH SUNNAH

MENAMBAL KEKURANGAN PADA IBADAH WAJIB DENGAN IBADAH SUNNAH

Dalam melakukan ibadah wajib seperti shalat dan ibadah lainnya, seringkali seseorang tidak mengerjakannya secara sempurna. Keikhlasan niat dan kekhusyu’an sangat mempengaruhi nilai dari ibadah tersebut.

Dalam sebuah hadits dinyatakan, bahwasanya manusia mendapatkan pahala yang berbeda-beda terkait dengan shalatnya. Ada di antara mereka yang mendapatkan pahala setengahnya, sepertiga, seperempat, seperlima… dan ada juga yang hanya mendapat sepersepuluhnya saja. (HR. Abu Daud)

Bahkan tragisnya ada juga yang tidak mendapatkan pahala sama sekali. Na’udzubillah

Tentunya perbedaan tersebut disebabkan perbedaan di dalam memenuhi rukun dan syaratnya, kekhusyu’an, ketundukan, dan perkara lainnya.  (‘Aunul Ma’bud)

Padahal, baiknya shalat seseorang merupakan tolok ukur keselamatan dan keberuntungannya pada hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari  seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka sungguh ia telah beruntung dan berhasil, tapi jika shalatnya jelek maka dia celaka dan merugi.” (HR. Tirmidzi no.413)

Ketika melihat fenomena ini barangkali ada yang bertanya, adakah amalan yang bisa menambal kekurangan-kekurangan tersebut sehingga shalat yang dilakukannya menjadi sempurna?

Syari’at Islam dengan segala kesempurnaan dan rahmatnya telah mengkhabarkan kepada kita tentang hal itu.

Disebutkan di dalam beberapa riwayat, bahwasanya cara menambal kekurangan yang ada pada ibadah wajib adalah dengan memperbanyak melakukan IBADAH SUNNAH. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam lanjutan hadits riwayat Tirmidzi (413) yang telah kami sebutkan di atas, “Dan jika ibadah fardhunya ada yang kurang, maka Allah berfirman (kepada malaikat-Nya), ‘lihatlah kepada hambaku itu (di dalam catatan amalnya,pen), apakah dia memiliki ibadah sunnah? sehingga bisa disempurnakan dengannya kekurangan yang ada pada ibadah wajibnya.”

Maka dari sini kita mengetahui betapa amalan sunnah memiliki peran yang besar di dalam menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada ibadah wajib. Oleh karena itu, para salaf sangat berantusias mengerjakan ibadah sunnah, mulai dari shalat, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Para pembaca rahimakumullah, kita menyadari bahwasanya ibadah wajib yang kita kerjakan acapkali tidak mendapatkan hasil maksimal. Usaha dan bisnis yang sedang dijalani, anak-anak yang menggemaskan, kebutuhan rumah tangga, dan perkara lainnya selalu hadir di dalam shalat kita. Semua itu telah mencuri pahala shalat kita sampai hitungan yang tidak kita ketahui. Allahul musta’an

Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak ibadah sunnah, mulai dari Shalat malam, witir, dhuha, sunnah rawatib, dan ibadah sunnah lainnya untuk menutupi kekurangan yang ada pada ibadah wajib kita.

=========

Dirangkum oleh: Tim Warisan Salaf

=========

Faedah ini diterbitkan oleh Channel warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/52




DZIKIR PAGI & PETANG dan PENJELASANNYA

DZIKIR PAGI DAN PETANG dan Penjelasan Maknanya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ يَقُولُ: ” إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ المَصِيرُ، وَإِذَا أَمْسَى فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورُ “: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ»

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan (bacaan dzikir) kepada para shahabatnya dengan mengatakan, ‘Apabila memasuki waktu pagi maka ucapkanlah

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ المَصِيرُ

ALLAHUMMA BIKA ASHBAHNA WA BIKA AMSAINA WA BIKA NAHYA WA BIKA NAMUTU WA ILAIKAL MASHIR

“ya Allah, dengan-Mu kami memasuki waktu pagi, dengan-Mu kami memasuki waktu sore, dengan-Mu kami hidup, dan denganmu kami mati, dan hanya kepada-Mu tempat kembali.”

dan apabila memasuki waktu sore ucapkanlah,

للَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورُ

ALLAHUMMA BIKA AMSAINA WA BIKA ASHBAHNA WA BIKA NAHYA WA BIKA NAMUTU WA ILAIKAN NUSYUR

“Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki waktu sore, dengan-Mu kami memasuki waktu pagi, dengan-Mu kami hidup, dengan-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu lah kebangkitan.”

HR. Tirmidzi (3391) dan Abu Daud (5068). Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani

============

MAKNA KALIMAT:

(Dengan-Mu kami memasuki waktu pagi) yakni kami memasuki waktu pagi dengan penjagaan-Mu, dilimpahi kenikmatan-Mu, tersibukkan dengan mengingat-Mu, memohon pertolongan dengan nama-Mu, diliputi taufik-Mu, beraktivitas dengan daya dan kekuatan-Mu, berbolak-balik dengan kehendak-Mu dan kemampuan-Mu,

(dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati) yaitu Engkaulah yang menghidupkan kami dan Engkau pula yang mematikan kami. Demikianlah keadaan kami dalam setiap waktu dan keadaan.

(Hanya kepada-Mu tempat kembali) tidak kepada yang lainnya.

(wa ilaikan nusyur) yaitu Allah hidupkan setelah mati.

=========
Sumber: Tuhfatul Ahwadzi (9/236)
Dirangkum oleh: Tim Warisan Salaf

=========

 

Faedah ini diterbitkan oleh Channel warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/51




KESELAMATAN AQIDAH DAN MANHAJ ADALAH BAROMETERNYA (Mengambil Pelajaran dari Kisah Husein Al-Karobisi)

KESELAMATAN AQIDAH DAN MANHAJ ADALAH BAROMETERNYA

(Mengambil Pelajaran dari Kisah Husein Al-Karobisi)


Siapakah Husein Al-Karobisi?
Nama lengkapnya  adalah Abu Ali Al-Husein bin Ali bin Yazid Al-Karobisi

  • ia seorang yang memiliki pemahaman mendalam
  • Berilmu
  • dan faqih

Ia memiliki karya tulis yang banyak dalam bidang fikih dan ushulnya

Al-Khatib Al-Baghdadi mengatakan, “Ia memiliki karya tulis yang banyak dalam bidang fikih dan ushul, hal itu menunjukkan atas baiknya pemahaman dia (dalam hal fikih dan ushul) dan ilmunya yang mendalam”
Ia juga murid dari Al-Imam Asy-Syafi’i, Yazid bin Harun, Ma’an bin Isa, dan para muhadditsin lainnya..
Tapi Tahukah Anda, bahwa KELEBIHAN yang dimilikinya tidak menjadikannya mulia di sisi  Ahlussunnah ketika ia melakukan perbuatan BID’AH!!

Ibnul Jauzi berkata, “Hanya saja ia terjatuh dalam permasalahan lafazh, ia mengatakan, bahwa lafazhku saat membaca Al-Qur’an adalah makhluk.”

Dengan sebab itu, Al-Imam Ahmad mentahdzirnya dan memerintahkan manusia agar meninggalkannya. Beliau berkata, “(orang) ini mubtadi’ maka berhatil-hatilah darinya.”

Beliau juga berkata, “Semoga Allah menghinakan Al-Karobisi, jangan dijadikan teman duduk, jangan diajak bicara, jangan engkau menyalin buku-bukunya, dan jangan duduk bersama orang yang duduk dengannya.”

 

PEMAHAMANNYA tentang permasalahan Ushul dan Furu’ ternyata TIDAK MEMBERIKAN manfaat kepadanya ketika ia terjatuh kepada kebid’ahan.

Muhammad bin Abdullah Ash-Shairafi Asy-Syafi’i berkata kepada muridnya, “AMBILLAH PELAJARAN dari keadaan al-Karobisi dan Abu Tsaur. Husein al-Karobisi kapasitas ilmu dan hafalannya tidak bisa ditandingi oleh Abu Tsaur walaupun hanya sepersepuluhnya. Tapi Ahmad (bin Hanbal) berbicara tentangnya dalam permasalahan lafazh (terhadap Al-Qur’an), sehingga ia (yakni al-Karobisi) pun jatuh. dan Ahmad memuji Abu Tsaur sehingga menjadi tinggi kedudukannya disebabkan ia berpegang teguh kepada sunnah.”

⛵️ Oleh karena itu…
JANGAN TERTIPU dengan penampilan
JANGAN TERTIPU dengan keilmuan
JANGAN TERTIPU dengan kefasihan
JANGAN TERTIPU dengan ketawadhu’an dan kezuhudan
JANGAN TERTIPU dengan banyaknya Buku yang diterbitkan

? AMBILLAH PELAJARAN bahwa barometernya adalah keselamatan aqidah dan manhaj bukan penampilan dan kepiawaian..

 

〰〰?〰〰
? Sumber:
? Tarikh Baghdad
? Al-Muntazhom fii Tarikh Al-Muluk wal Umam
? Situs Sahab

===============

Faedah ini diterbitkan oleh Channel warisan salaf

https://telegram.me/warisansalaf/44




JANGAN LUPA WITR SEBELUM TIDUR !!

JANGAN LUPA WITR SEBELUM TIDUR

Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu menuturkan,
“Kekasihku (yakni Nabi) Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan wasiat kepadaku dengan tiga perkara, yaitu

  1. agar (aku) berpuasa 3 hari pada setiap bulan
  2. melaksanakan dua raka’at shalat dhuha
  3. dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wasiat yang sama juga ditujukan kepada shahabat Abu Darda’ Radhiallahu ‘anhu…

Para Ulama menjelaskan, bahwasanya wasiat untuk melaksanakan shalat witir sebelum tidur berlaku bagi seseorang yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam diakibatkan lelah atau perkara lainnya. (Lihat Syarah Muslim)

 
Adapun bila seseorang itu yakin bisa bangun pada sepertiga malam terakhir, maka sangat dianjurkan agar ia mengakhirkannya, karena  akhir malam merupakan waktu yang paling afdhal untuk melaksanakan shalat witir dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala..

TENTU SAJA…. ANDA LEBIH MENGETAHUI KEADAAN DIRI ANDA…

Jika anda yakin bangun di akhir malam, maka akhirkanlah shalat witir…

Jika khawatir keterusan hingga waktu shubuh… maka sebaik-baik wasiat adalah wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam…

Sekadar nasehat untuk kita semua, Semoga bisa diamalkan.

===========

Faedah ini diterbitkan oleh channel Telegram Warisan Salaf

https://telegram.me/warisansalaf/43