HUKUM SHALAT MALAM DI RUMAH

SETELAH TARAWIH BERSAMA IMAM

 

Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jabiri hafizhahullah ditanya, “Apabila seorang makmum telah menyelesaikan shalat tarawih dan dia ingin melaksanakan shalat malam di rumahnya sebagaimana kebiasaannya. apakah yang seperti ini diperbolehkan?”

Beliau menjawab, “Ya, dia boleh melakukan hal itu, akan tetapi dia tidak usah shalat witir jika telah shalat witir bersama imam. Dikarenakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada dua witir dalam satu malam.”

Sumber: http://www.miraath.net/questions.php?cat=73&id=2348

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/432




I’TIKAF WALAU SESAAT

 

 Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jabiri hafizhahullahu Ta’ala berkata, “I’tikaf adalah menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Melakukannya tidak harus selama beberapa hari. Tetapi apa yang engkau niatkan dari dudukmu di masjid, atau tinggal di dalamnya selama satu hari, atau hanya sesaat, atau beberapa hari dengan niat i’tikaf, maka itu adalah i’tikaf.”

Sumber: http://www.miraath.net/questions.php?cat=73&id=2258
Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/431




BAGI YANG TIDAK DIBERI KEMUDAHAN UNTUK I’TIKAF

 

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak memungkinkan untuk i’tikaf maka hendaknya ia selalu menjaga amal ketaatan yang lainnya baik itu (amalan) yang wajib atau yang sunnah, seperti bersegera menuju masjid dan duduk di dalamnya untuk membaca al-Qur’an, dzikir, dan ibadah,

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah:110)

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.. بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

A’udzu billahi minasy syaithonir rajim
Bismillahirrahmanirrahim
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Sumber: Al-Khuthobul Minbariyah (2/102)




I’TIKAF LEBIH DITEKANKAN

DARIPADA UMROH DI AKHIR RAMADHAN

 

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,  “Sesungguhnya menghidupkan sunnah i’tikaf yang telah ditinggalkan di jaman ini lebih utama dari umroh. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah melakukan umroh di bulan (Ramadhan) ini , sementara beliau selalu beri’tikaf hingga bertemu Rabbnya.

Sekarang ini kamu melihat manusia berlomba-lomba dan bersemangat melakukan umroh (di bulan Ramadhan), ini adalah sesuatu yang baik. Tapi i’tikaf lebih ditekankan lagi.”

Sumber: Al-Khuthobul Minbariyah (2/101)

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/429




RANGKAIAN FATWA I’TIKAF (1):

DEFENISI I’TIKAF DAN PENJELASAN BEBERAPA HUKUMNYA

Dari Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz kepada saudara yang mulia … Semoga Allah memberinya taufik kepada kebaikan, amin.

Salamun ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh, wa ba’du:
Telah sampai kepadaku surat anda yang mulia yang berisikan pertanyaan berikut ini:

Soal: apa hukum i’tikaf di masjid-masjid? dan apa makna i’tikaf secara syari’at? Dan apakah i’tikaf (di masjid) juga mencakup tidur dan makan di dalamnya atau tidak?
Jawab: “Tidak diragukan bahwa i’tikaf di masjid merupakan salah satu bentuk mendekat diri (kepada Allah), melakukannya di bulan Ramadhan lebih afdhal dari selainnya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ}

“Dan janganlah kalian mencampuri mereka (istri-istri kalian) sedangkan kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah:187)

dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu melakukan i’tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dan pernah sekali beliau meninggalkannya lalu beliau beri’tikaf di bulan Syawwal.

Tujuan dari i’tikaf itu sendiri adalah meluangkan waktu dan menyendiri (kholwat) dalam rangka beribadah kepada Allah. Inilah bentuk kholwat yang syar’i (tidak seperti kholwatnya kaum Shufi,pen).

TENTANG DEFENISI I’TIKAF, sebagian mereka (ulama) mengatakan, “I’tikaf ialah memutus segala hubungan dengan makhluk dalam rangka berkhidmat kepada Sang Pencipta.” maksudnya adalah memutus segala hubungan yang bisa menyibukkan diri dari keta’atan dan ibadah kepada Allah.

I’tikaf disyari’atkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan dan di selain bulan Ramadhan, sebagaimana (telah dijelaskan) tadi. Dan i’tikaf yang dilakukan (di selain bulan Ramadhan) jika disertai puasa itu lebih afdhal. tapi jika tidak disertai puasa maka tidak mengapa. Ini menurut pendapat yang benar dari dua pendapat ‘ulama. Berdasarkan riwayat yang terdapat dalam Ash-Shahihain dari Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku bernadzar melakukan i’tikaf satu malam di masjidil haram. (Nadzar) itu (diucapkan) sebelum masuk Islam.”

Maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Tunaikanlah nadzarmu.”

Sudah dimaklumi bahwa malam hari bukanlah tempatnya berpuasa, siang hari lah tempatnya puasa. Tidak mengapa untuk makan dan tidur di masjid bagi orang yang i’tikaf dan selainnya, berdasarkan hadits-hadits dan riwayat dari shahabat tentang hal itu. demikian pula keadaan ahli shuffah (yang tinggal dan makan di masjid,pen).

Tentu saja dengan memperhatikan kebersihan masjid, dan berhati-hati dari sebab-sebab yang bisa mengotori masjid baik itu sisa makanan atau selainnya.

Dikarenakan telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, “Ditampakkan kepadaku pahala-pahala (yang dilakukan) umatku, hingga kotoran yang ia keluarkan dari masjid.” (Diriwayatkan Abu Daud, at-Tirmidzi, dan dishahihkan Ibnu Khuzaimah)

dan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung, dan agar membersihkannya juga memberinya wewangian. (diriwayatkan al-khomsah selain an-Nasai dengan sanad yang bagus)

Aku memohon kepada Allah agar memberikan kepada kita taufik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya, dan agar memperbaiki hati-hati dan perbuatan kita semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz (15/437-439)

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/426




KEUTAMAAN DAN TINGGINYA KEDUDUKAN

SHAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

 

Harun al-Hammal berkata,

“Aku mendengar Ahmad bin Hanbal ketika ada seorang yang mendatanginya dan bertanya, “Wahai Abu Abdillah (kunyah Imam Ahmad,pen), sesungguhnya di sini ada orang yang lebih mengutamakan Umar bin Abdul Aziz di atas Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”

Maka Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Jangan engkau duduk dengannya, jangan makan dengannya, dan jangan minum dengannya. Dan jika ia sakit maka jangan engkau menjengkunya.”

Dzailu Thabaqatil Hanabilah li Ibni Rojab 1/301
As-Syaikh ‘Arofat al-Muhammadi

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/425




HUKUM MEMINTA BANTUAN

KEPADA JIN YANG MENGAKU MUSLIM

 

Berkata al ‘Allamah Shalih al Fauzan hafizhallah dalam Kitab Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah wa Dhowaabituhaa wa Mahaadziiruha (hal 44-45),

“Meminta pertolongan kepada jin dan orang-orang yang ghaib (tdk ada) tidak diperbolehkan, meskipun mereka mengaku sebagai muslim. Siapa yg tau bahwa mereka muslim? Apakah ia mengenal mereka (jin)? Ini termasuk penipuan dan kedustaan. Tidak boleh meminta bantuan kepada jin. Dan Allah telah menegaskan di dalam al-Quran atas keharaman perkara ini.

و أنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم رهقا

“dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jinn:5)

Allah menyatakan:

من الجن

“DARI JIN” secara mutlak, Allah tidak mengatakan, “DARI (JIN) KAFIR”, Bahkan Allah megatakan, “DARI  JIN”.

Diterjemahkan Oleh: Al-Ustadz Abu Ja’far hafizhahullah

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/329




RASA TAKUT ULAMA SALAF

 

Dari Imron al-Khoyyath rahimahullah, ia berkata:

دخلنا على إبراهيم النخعي نعوده وهو يبكي، فقلنا: ما يبكيك؟ قال: أنتظر ملك الموت، لا أدري يبشرني بالجنة أم بالنار.

Kami masuk menjenguk Ibrahim an-Nakha’i dan ia sedang menangis. Maka kami bertanya kepadanya, Apa yang membuat anda menangis?”

Ia menjawab, “Aku sedang menunggu malaikat maut. Aku tidak tahu ia akan memberiku kabar gembira dengan surga atau neraka.”

Ibrahim an-Nakha’i adalah seorang tabi’in, ia bertemu dengan Abu Sa’id al-Khudri dan Aisyah radhiallahu ‘anhum. Kebanyakan riwayatnya dari tabi’in seperti ‘Alqomah, Masruq, dan al-Aswad.

Al-Muntazham fii Tarikhil Muluki wal Umam

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/316




BAHKAN KITA SELAMAT DAN MEREKA SELAMAT ITU LEBIH BAIK

DARIPADA KITA MENDAPAT PAHALA SEMENTARA MEREKA BERDOSA

 

Dahulu Ibrahim An-nakha’i rahimahullah adalah seorang yang sebelah matanya tidak dapat melihat, dan muridnya yaitu Sulaiman bin Mihran seorang yang rabun matanya (pengelihatannya lemah)

Ibnul Jauzy meriwayatkan dari mereka berdua dalam kitabnya Al-Muntazhom, “Bahwasanya keduanya berjalan (bersama) di salah satu jalan di Kota Kufah menuju Masjid Jami. Ketika keduanya sedang berlajan, al Imam an Nakha’i berkata, “Wahai sulaiman, tidakkah engkau mengambil suatu jalan dan aku mengambil jalan yang lain? Karena sesungguhnya aku khawatir apabila kita berjalan bersama, lalu bertemu dengan orang yang bodoh. niscaya mereka akan mengatakan, ‘orang yang buta sebelah sedang menuntun orang yang rabun matanya.’ Mereka pun akan MENGGIBAHI kita dan mereka berdosa.

Al A’mas berkata, “Wahai Abu Imron, bukankah itu tdk masalah, kita mendapat pahala dan mereka berdosa.”

Maka Ibrahim an Nakha’i mengatakan, “Ya Subhanallah! Bahkan kita selamat dan mereka selamat itu lebih baik daripada kita mendapat pahala sementara mereka berdosa.”

Al-Muntazham fii Tarikhil Muluki wal Umam (7/22 dengan redaksi sedikit berbeda)

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/311




PERBEDAAN ORANG SOMBONG YANG MEMBANGKANG

DENGAN PELAKU MAKSIAT YANG BERTAUBAT

 

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

فَأَهْلُ الْكِبْرِ وَالْإِصْرَارِ، وَالِاحْتِجَاجِ بِالْأَقْدَارِ: مَعَ شَيْخِهِمْ وَقَائِدِهِمْ إِلَى النَّارِ إِبْلِيسَ. وَأَهْلُ الشَّهْوَةِ: الْمُسْتَغْفِرُونَ التَّائِبُونَ الْمُعْتَرِفُونَ بِالذُّنُوبِ، الَّذِينَ لَا يَحْتَجُّونَ عَلَيْهَا بِالْقَدَرِ: مَعَ أَبِيهِمْ آدَمَ فِي الْجَنَّةِ

“Orang yang sombong dan terus menerus (dalam kemaksiatannya) serta selalu beralasan dengan takdir (di dalam perbuatannya,pen), maka dia akan bersama syaikhnya dan pemimpinnya yaitu Iblis ke dalam api neraka.

Sementara orang-orang yang mengikuti syahwatnya (terjtuh dalam kemaksiatan,pen), dan ia beristighfar dan bertaubat serta menyadari dosa-dosanya, dan tidak beralasan dengan takdir (atas perbuatannya itu), maka mereka akan bersama bapak mereka Adam di dalam Jannah (surga).” Madarijus Salikin (2/316)

Hal itu disebabkan, dosa pertama yang Allah dimaksiati dengannya adalah dosa kesombongan yang dilakukan oleh Iblis yang dilaknat, dosanya itu membawa  dia kepada pembangkangan dan enggan bertaubat, sehingga tempat kembalinya adalah neraka.

Adapun Adam, dosa yang dilakukannya adalah syahwat, lantas ia pun menyadari dosa tersebut dan bertaubat kepada Allah, lalu Allah memberikan kepada Adam taubat-Nya, maka tempat kembalinya adalah surga.

Sumber Panduan: Madarijus Salikin (2/316)

Link Telegram: https://t.me/warisansalaf/307