image_pdfimage_print

tidak-wajib-puasa

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah ditanya tentang golongan orang-orang yang tidak diwajibkan berpuasa. Maka beliau menjawab:

(orang yang tidak wajib berpuasa) adalah orang gila, orang yang hilang akalnya, anak kecil laki-laki dan perempuan yang belum baligh. Adapun wanita haid dan nifas sebenarnya wajib berpuasa, hanyasaja tidak diperbolehkan baginya melakukan puasa di bulan ramadhan dan bulan lainnya ketika sedang haid atau nifas. Wajib bagi keduanya mengganti ketika berbuka pada hari-hari ramadhan.

Sedangkan orang yang sakit dan musafir (sedang dalam perjalanan), dibolehkan bagi keduanya berpuasa atau berbuka pada bulan ramadhan, dan berbuka itu lebih afdhal. Dan wajib bagi keduanya mengganti puasa jika berbuka di bulan ramadhan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ}

“Dan barangsiapa sedang sakit atau dalam perjalanan maka hitungannya di hari-hari yang lainnya.” (QS. Albaqarah: 185)

Akan tetapi apabila orang yang sakit tersebut sudah tidak ada harapan sembuh dengan pernyataan dari para dokter yang terpecaya maka tidak ada baginya kewajiban berpuasa dan mengganti. Cukup baginya memberi makan setiap hari satu orang miskin, takarannya setengah sho’ nabawi berupa makanan pokok daerahnya sendiri. Kurang lebih satu kilo setengah. Demikian pula kakek tua dan nenek jompo yang sudah tidak sanggup lagi berpuasa. Maka bagi keduanya memberi makan setiap hari satu setengah kilo makanan pokok daerahnya. Tidak ada kewajiban puasa atas keduanya dan tidak ada pula kewajiban mengganti.

Diperbolehkan membayar kaffaroh (fidayah) sekaligus dalam satu bulan baik diawal bulan atau di akhir bulan, atau dipertengahan bulan untuk satu orang fakir atau lebih.

Demikian pula keadaannya wanita yang hamil dan menyusui, jika berpuasa memberatkan mereka maka boleh untuk berbuka dan wajib mengganti seperti halnya orang yang sakit.

MAJMU’ FATAWA IBNU BAAZ 15/176